Kamis, 12 Desember 2019 |
News Room

Wiranto Ditusuk, Pemetaan Kelompok Teror Jadi Tanda Tanya

Jumat, 11 Okt 2019 | 13:47 WIB Dibaca: 377 Pengunjung

Wiranto.*

[NEWSmedia] - Pengamat Intelijen dan Terorisme UI Ridlwan Habib menyoroti pemetaan kelompok teroris terkait ditusuknya Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten. Ridlwan mengatakan tindakan teror selalu berkejaran atau berlomba dengan upaya penangkalannya.

"Kelompok teroris itu kan adu cepat dan adu strategi, bahwa selalu berusaha selangkah lebih maju dari aparat keamanan, maka ini PR bersama, misalkan soal kunjungan VVIP, bagaimana intelijen wilayah memetakan," kata Ridlwan saat dihubungi, Kamis (10/10/2019).

Dia menuturkan intelijen wilayah ada polsek dan korem. Intilejen itu kemudian memetakan wilayah. Dia menilai pelaku di Pandeglang berhasil menyusup di saat terakhir Wiranto hendak meninggalkan lokasi.

"Misalnya kalau Pak Wiranto mau ke Menes, kira-kira ada nggak kelompok-kelompok atau organisasi atau orang perorangan yang kira-kira mengarah ke tindakan terorisme. Kalau ada ya langsung segera lakukan langkah pencegahan, misalnya apakah ditangkap dulu, atau dijauhkan dari lokasi, ini sebenarnya protap ya, sudah baku. Saya kira yang di Menes ini kelompok ini berhasil menyusup di akhir-akhir Wiranto mau terbang itu," ujarnya.

Ridlwan menjelaskan langkahnya tidak hanya pemetaan. Tapi setelah data diperoleh, lalu diberikan ke polisi yang berwenang dalam penindakan.

"Intelijen itu tidak bisa menangkap ya, tidak punya kewenangan penangkapan. Maka itu segera dibagi informasinya ke instansi yang bisa nangkap, polisi. Jangan kemudian ada menahan informasi, tidak mau power sharing," ucapnya.

Ridlwan juga menyoroti kelengahan pengamanan dalam penusukan yang menimpa Wiranto. Para pelaku berpura-pura sebagai warga yang menunggu mobil Wiranto mendekat, jarak pelaku saat menunggu hanya 3 meter dari sasaran. "Ini kelengahan pihak pengamanan setempat," kata Ridlwan.

Dari cara memegang senjata saat dihunjamkan ke sasaran, dia menilai pelaku cukup terlatih. Teroris, katanya, memegang senjata dengan teknik reverse grip atau pegangan terbalik yang mengakibatkan daya hunjaman dua kali lebih kuat dari gaya pegang biasa.

Ridlwan menilai informasi kunjungan Wiranto ke desa Mendes Pandeglang yang memicu kedua pelaku untuk beraksi. Dia juga mengatakan aksi itu sudah terencana. Termasuk teknik pelaku menyembunyikan senjata tanpa terdeteksi petugas keamanan.

Serangan terorisme terhadap Wiranto dilakukan 10 hari jelang pelantikan Presiden Jokowi. Ridlwan menilai perlu ada persiapan menghadapi skenario terburuk untuk mengantisipasi serangan jelang pelantikan Jokowi.

"Harus ada persiapan menghadapi skenario terburuk, jadi misalnya rute presiden dari DPR ke Istana itu harus benar-benar steril," ujarnya.

Selain itu, dia menilai harus diwaspadai juga serangan terorisme simbolik. Terorisme simbolik itu seperti melempar bendera ISIS. Serangan simbolik itu memang tidak melukai, tapi bisa membuat citra terorisme moncer.

"Jangan lupa pasti akan ada kerumunan massa saat pelantikan itu. Itu juga harus diantisipasi. Kalau skenario mereka misalnya dengan mengorbankan diri, misalnya berlari ke arah iring-iringan, jadi mereka niatnya memang untuk mati. Skenario-skenario ini harus diwaspadai paspampres terutama," paparnya. [dtc]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

LAINNYA

Panglima TNI Bicara Soal Ancaman Terkini
Rabu, 11 Des 2019 | 20:38 WIB
Panglima TNI Bicara Soal Ancaman Terkini
100 Brand Mejeng di Banten Indie Clothing 2019
Rabu, 11 Des 2019 | 19:52 WIB
100 Brand Mejeng di Banten Indie Clothing 2019

KOMENTAR

Wiranto Ditusuk, Pemetaan Kelompok Teror Jadi Tanda Tanya
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top