Minggu, 07 Juni 2020 |
News Room

Warga Tinggal di Dekat Kantor Gubernur Banten Menangis Tak Punya Beras

Senin, 06 Apr 2020 | 21:09 WIB Dibaca: 6003 Pengunjung

Relawan MBB saat memberikan bantuan di Kp. Ujung Tabu, Kelurahan Suka Jaya, Kecamatan Curug, Kota Serang, Senin (6/4/2020) petang.*

SERANG, [NEWSmedia] - Tim Relawan Milenial Banten Berbagi (MBB) kembali menyalurkan bantuan berupa sembako kepada pasangan keluarga Umar (43) dan Teti (40) di Kampung Ujung Tabu, Kelurahan Suka Jaya, Kecamatan Curug (Belakang KP3B) Kota Serang, Senin (6/4/2020) petang.

Bantuan itu disalurkan setelah adanya informasi dari salah seorang guru PAUD, Isah melalui pesan WhatsApp yang diterima oleh Tim MBB.

Melalui pesan itu, Isah menyampaikan bahwa pada Ahad (5/4/2020) kemarin Teti meminta bantuan untuk bisa mengklaim kompensasi listrik gratis dari PLN. 

Kemudian, dengan diiringi tangisan kecil Teti bercerita bahwa semenjak wabah virus Corona (Covid-19) suami dan anaknya yang menjadi tulang punggung keluarga tidak bisa mencari nafkah.

Bahkan, untuk membeli kebutuhan pokok beras saja keluarganya sudah tidak mampu.

"Ke sini ga boleh, ke sana ga boleh, kerja bangunan aja ga boleh, ga boleh kumpul-kumpul, sementara saya orang ga punya, mau makan dari mana kalau kita di rumah aja," kata Teti saat ditemui di kediamannya.

Teti menceritakan, sejak ada anjuran dari pemerintah agar di rumah saja, sang suami yang biasa kerja serabutan sebagai buruh bangunan terpaksa harus berdiam diri di rumah.

Terlebih, kondisi sang suami saat ini sedang mengalami infeksi di tangannya akibat eksim semen.

"Kerja serabutan, itu juga kalau ada, kalau ga ada mah udah nganggur aja, apalagi tangannya udah kumat itu pada kena nanah itu, kena eksim semen, kayanya saya mah orang menderita aja lah," terangnya.

Pasangan yang menikah pada tahun 1991 dan telah dikaruniai tiga orang anak itu, satu laki-laki dan dua perempuan, hanya bisa pasrah kepada Allah SWT.

Sang menantu yang juga pekerja lepas harus mengikuti anjuran pemerintah tersebut. Sementara anak kedua yang laki-laki yang masih berusia 20 tahun, sempat bekerja di Kantin Puspemrov Banten.

Lantaran para aparatur sipil negara (ASN) yang saat ini sedang work from home (WFH) atau kerja dari rumah, kantin Puspemrov Banten itu pun ditutup sementara.

"Tadinya kerja di bengkel, tapi kemaren sempet kerja di kantin (Puspemprov Banten-red), tapi baru sehari kerja kantin sepi karena corona, akhirnya di rumah aja," terangnya.

Teti yang selama satu tahun terakhir ini mengalami batuk-batuk dan flu, tidak bisa berbuat banyak meskipun rumahnya persis di belakang kantor Pemerintahan Provinsi Banten.

"Sakit udah satu tahun, batuk, berobat mah berobat, tapi buat ongkos aja susah, emang pake BPJS Kesehatan di Puskesmas Curug, tapi kan buat ke sananya itu butuh bensin, ga ada motor, paling minjem," tambahnya.

Di akhir pertemuan, Teti berharap agar pandemi corona ini segera berlalu dan keluarganya bisa beraktivitas kembali seperti dahulu.

"Pengen cepet selesai wabah ini biar bisa aktivitas lagi, biarpun sakit juga saya cepet sembuh, suami saya cepet sembuh, kerja lagi, apa aja kerjanya yang penting halal," tuturnya.

Sementara tetangganya, Isah mengaku meski rumah keluarga tersebut persis di belakang Gedung Puspemprov Banten, namun selama ini belum ada bantuan yang mereka terima.

"Walaupun dekat dengan KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten-red), tapi bantuan itu ga ada," pungkasnya. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Warga Tinggal di Dekat Kantor Gubernur Banten Menangis Tak Punya Beras
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top