Kamis, 25 April 2019 |
News Room

Tahun 2020, Ada Jembatan di Atas Laut yang Sambungkan Jakarta-Banten

Senin, 18 Feb 2019 | 19:32 WIB Dibaca: 7612 Pengunjung

Lokasi tiang panjang pembangunan jembatan yang menyambungkan Pulau C, Penjaringan Jakarta dengan kawasan Dadap, Kosambi, Kabupaten Tangerang.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Infrastruktur jembatan di atas laut yang menghubungkan wilayah DKI Jakarta dengan Banten akan segera dibangun. Jembatan tersebut melintas di perairan Teluk Jakarta menyambungkan Pulau C, Penjaringan Jakarta, Provinsi DKI Jakarta dengan kawasan Dadap Kosambi, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Dua pemerintah daerah, yakni Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Kabupaten Tangerang telah mengeluarkan izin. Gubernur Banten Wahidin Halim pun telah memberikan persetujuan untuk pembangunan jembatan senilai Rp700 miliar tersebut.

“Izin yang sudah terbit adalah Izin Mendirikan Prasarana (IMP) dari DKI Jakarta, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Kabupaten Tangerang dan persetujuan pembangunan jembatan dari Pak Gubernur Banten,” kata Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Provinsi Banten, Nurmutaqin saat meninjau lokasi pembangunan jembatan di Pulau C, Kelurahan Taman Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta, Senin (18/2/2019).

Ia menjelaskan, jembatan sepanjang 1.400 meter tersebut akan dibangun oleh pihak swasta, yakni PT Kukuh Mandiri Lestari. Jembatan tersebut dibangun di atas laut Teluk Jakarta.

“Dan setelah selesai (dibangun) akan diserahkan ke pemerintah, menjadi milik pemerintah, nanti fungsinya bukan hanya milik PT Kukuh tapi juga masyarakat umum,” ujarnya.

Nurmutaqin mengungkapkan, jembatan ini akan menyambungkan DKI Jakarta dengan jalan Provinsi Banten atau yang disebut jalan cincin, dari Dadap kemudian tembus ke Tanara, Tirtayasa, Pontang, sampai ke Kawasan Kesultanan Banten. “Diperkirakan anggaran (pembangunannya) Rp700 miliar,” ucapnya.

Ia menerangkan, selama proses pembangunan pihaknya meyakini tidak akan mengganggu aktivitas warga, khususnya yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan. Sebab menurutnya, sejauh ini warga bersama pengembang selalu berjalan bersama-sama.

“Proses pembangunan jembatan dan operasional jembatan tidak mengganggu aktivitas nelayan ke nelayan akan disiapkan alur pelayaran dengan cara pengerukan lumpur, lokasi pembangunan jembatan tidak terdapat hutan mangrove dan tidak menggusur kawasan pemukiman warga. Dari segi ekonomi, masyarakat sangat diuntungkan terhadap pembangunan jembatan itu," terangnya.

Sementara itu, Site Operational Manager PT Waskita Karya (Persero), Hermanto menargetkan pembangunan jembatan yang lebarnya 21 meter itu akan dilaksanakan selama satu tahun. Adapun targetnya, jembatan tersebut sudah bisa dipergunakan pada tahun 2020.

“Target pembangunan setahun, kita masih nunggu hasil testpile dulu, operasional tahun 2020,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Balai Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Kementerian PUPR, Fahmi Aldiamar mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap kontur tanah dan kedalaman beton yang akan dibangun di atas air laut.

“Pada saat pelaksanaan nanti diuji juga, apakah tercapai atau tidak, dari segi quality control sudah sesuai apa belum, tinggal kita cek yang di dalam laut karena faktor ketidakpastiannya lebih tinggi, kedalaman lumpur dan segala macamnya, sedang disiapkan sekarang, kalau sudah selesai nanti kita lihat hasil pengujiannya sesuai perencanaan atau tidak," pungkasnya, seraya menyebutkan desain file jembatan tersebut akan bertahan selama kurang lebih 100 tahun. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Tahun 2020, Ada Jembatan di Atas Laut yang Sambungkan Jakarta-Banten
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top