Kamis, 25 April 2019 |
News Room

'Si Anak Singkong' Beri Kuliah Umum di Rakernas SMSI

Kamis, 26 Jul 2018 | 13:29 WIB Dibaca: 176 Pengunjung

Chairul Tanjung saat memberi kuliah umum di Rakernas SMSI III di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (25/7/2018).*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Founder CT Corp, Chairul Tanjung (CT) atau yang dikenal sebagai 'Si Anak Singkong' memberi kuliah umum tentang perkembangan media pada Rakernas SMSI III di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (25/7/2018).

Pada kesempatan itu, CT menyinggung soal transformasi media cetak, seperti koran, namun menurutnya, di era digital seperti saat ini, sebuah perusahaan media tidak bisa hanya mengandalkan media cetak.

“Kita tahu Kompas, Jawa Pos contohnya. Itu kan koran, physically koran. Tapi mereka tahu, mereka nggak bisa survive kalau oplah terus turun, harga kertas naik, iklan berkurang. Ya, mau nggak mau movement. Movement ke mana? Mereka coba bikin dotcom, ada Kompas.com, ada Jawapos.com. Semua koran sekarang bikin dotcom. Ini adalah proses metamorfosisnya,” kata CT saat memberikan pengarahan kepada anggota SMSI.

Eks Menko Perekonomian itu menjelaskan, dewasa kini media cetak maupun elektronik tak bisa menyajikan berita sesuai kemauan sendiri, sebab menurutnya, media sekarang harus pintar melihat topik yang menarik perhatian para pembaca.

“Dan kita nggak bisa ngatur orang sekarang. Orang yang ngatur kita. Konsumen yang ngatur kita, bukan kita ngatur konsumen. Eranya sudah beda. Kalau dulu siapa yang punya barang, kita bisa atur orang. Sekarang mereka yang punya power untuk ngatur kita,” terang CT.

CT menuturkan, dalam perkembangan media digital, muncul content aggregatoryang merupakan media yang melansir kembali pemberitaan dari media-media lain.

“Ini, ada juga yang namanya general media, ada Tribun News, ada Jakarta Post. Itu diambil kontennya oleh yang namanya content aggregator. Dia tinggal ambil saja dari orang-orang, dia kuat, namanya content aggregator. Nah, yang dapat iklan dia. Makanya detikcom saya haramkan itu untuk diambil kontennya sama content aggregator. Jadi ini tren yang terjadi,” jelasnya.

Meski demikian, lanjut CT, tidak ada juga media yang tidak memberitakan apa-apa, namun mengizinkan siapa pun memberitakan lewat media yang ia miliki.

“Atau yang berikutnya, ada yang punya media tapi nggak punya konten. Dia bilang, ‘eh, semua orang, ya, you boleh ngisi konten di tempat saya, nggak usah bayar’. Jadi, dia cuma punya platformnya. Nah, ini juga jadi tren luar biasa sekarang,” pungkasnya. [rls]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

'Si Anak Singkong' Beri Kuliah Umum di Rakernas SMSI
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top