Senin, 13 Juli 2020 |
News Room - News Gallery

Semangat Sumpah Pemuda di Era Milenial

Sabtu, 27 Okt 2018 | 11:26 WIB Dibaca: 654 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - 28 Ooktober 1928 menjadi saksi sejarah tonggak berdirinya perkumpulan anak-anak muda Indonesia dalam memperjuangkan pergerakan kemerdekaan, jauh sebelum Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober membawa pesan yang kuat bahwa persatuan harus ditegakan. Para pejuang yang terdiri dari Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman, Moh. Yamin, Sugondo Joyopuspito mereka bertekad dengan satu cita-cita, semangat yang sama melahirkan satu visi dan perjuangan bersama, yakni satu tanah air, satu bahasa dan satu bangsa yakni Indonesia. Sejarah pun terukir di kala itu.

Makna dari semua itu tercatat sebuah jalan panjang anak-anak muda ketika itu memperjuangkan terciptanya kemerdekaan. Mereka adalah pelopor dan itu tidaklah dipungkiri, sejarah panjang telah mencatat, apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

Pertanyaannya, apa yang terjadi di era milenial ini, apakah pemuda masih memikirkan hal yang sama ketika Boedi Oetomo, Wage Roedolf Soepratman dan kawan-kawan tergerak melalui karya-karyanya hingga tercetar di dunia Internasional? Ataukah justru mereka terperangkap dalam hedonisme dan pragmatisme zaman edan sekarang ini.

Tidak dipungkiri, era milenial yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan-kebiasaan anak muda atau yang disebut “Zaman Now” ini cenderung lebih soliter, asyik dengan dirinya sendiri, asyik dengan dunianya.

Teknologi juga telah mengubah perilaku dan pola kehidupan anak-anak muda sekarang menjadi lebih sulit berinteraksi dengan orang lain, karena dengan teknologi semuanya serba mudah, membuat manusia merasa lebih bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa memerlukan interaksi dengan banyak orang. Interaksi sosial antar individu justru terjadi lebih banyak di dunia maya ketimbang nyata.

Keadaan seperti ini dikhawatirkan menjadikan generasi muda menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat. Parahnya lagi, ketika keadaan tersebut memicu pragmatisme dalam berpikir. Para pemuda tidak lagi memiliki semangat perjuangan. Seperti itukah potret anak muda Indonesia yang disebut zaman now itu?

Namun demikian, kemajuan teknologi juga bukanlah sesuatu yang harus ditakuti apalagi dihindari. Kenyataannya bahwa teknologi berhasil mengubah dunia, iya memang benar. Bahkan teknologi membawa perubahan pada bangsa ini, sudah banyak contohnya.

Yang demikian menjadi bukti bahwa justru kemajuan teknologi, seperti internet berhasil menjadi sarana yang mengubah kebiasaan, cara berkomunikasi atau perilaku para penggunanya di era digital saat ini. Internet menjadi semakin mudah diakses oleh banyak pengguna, baik di perangkat PC atau mobile seperti smartphone atau laptop.

Kemudahan akses tersebut akhirnya memunculkan peluang-peluang baru yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dari sisi bisnis seperti pemasaran atau jual beli online hingga melahirkan tren maupun profesi yang digeluti generasi milenial.

Berawal dari jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter. Booming media sosial kemudian melahirkan kesempatan untuk kian menunjukkan eksistensi diri pengguna, tidak sekedar menulis posting-an teks atau upload foto, melainkan juga mengunggah video.

Didukung dengan jaringan internet berkecepatan tinggi saat ini, 4G, aktivitas streaming video menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan terbilang murah. Hal ini cukup mampu ditangkap oleh para penyedia layanan jejaring sosial, termasuk YouTube.

YouTube menyediakan layanan live streaming dan juga menjadi arena bagi para vlogger (video bloggers) untuk berkreasi dengan konten video yang mereka sajikan. Kreativitas dipacu untuk bisa menghasilkan video yang menarik banyak audiens.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara berpandangan bahwa berbeda memaknai sumpah pemuda di zaman sebelum kemerdekaan. "Kalau dulu berjuang semuanya untuk satu Indonesia. Sekarang anak-anak muda ini diberi kesempatan untuk lebih luas untuk menjadi ekosistem dari perkembangan ekonomi digital menjadi startup," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara.

Menurutnya, anak-anak muda saat ini di mana-mana bikin startup. Meskipun tingkat kesuksesan membangun startup masih rendah, namun ia tetap mendorong dan memfasilitasi untuk membangun startup. 

Keranjingan YouTuber

Fenomena vlogger atau YouTuber yang digandrungi generasi milenial menjadi ciri generasi muda yang kini semakin jeli melihat potensi untuk memanfaatkan platform demi menghasilkan karya video terbaik hingga mendapatkan pundi-pundi uang.

Berdasarkan laporan Viewsreviews, salah satu alasan yang mendasari munculnya fenomena vlogger ialah seseorang semakin merespon lebih banyak konten visual. Menurut Marcel Just dari Center for Cognitive Brain Imaging di Carnegie Mellon University, "memproses cetakan bukanlah sesuatu yang dibangun oleh otak manusia".

Ini tampak sesuai dengan penelitian lain yang mengatakan kemampuan manusia untuk mengingat informasi dari pembicaraan visual dan bergambar adalah 65% lebih tinggi daripada bentuk tertulis dan bentuk presentasi lainnya.

Ini menunjukkan bahwa konten visual seperti foto atau video di era digital saat ini menjadi hal yang digemari oleh individu. Sehingga, menjamurnya para vlogger di tengah ratusan juta para pengguna internet menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Fenomena vlogger atau YouTuber juga menunjukkan bahwa generasi muda di era digitalisasi saat ini mampu menghasilkan sebuah karya, memproduksi atau membuat video yang disaksikan oleh para pengguna internet di seluruh dunia.

Head of Consumer Marketing, Google Indonesia, Fibriyani Elastria mengatakan, saat ini kreator konten YouTube di Indonesia mencapai 122 ribu dari total 350 ribu di dunia. Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang terbesar untuk vlogger atau YouTuber.

Fibriyani juga mengungkapkan, baik pemirsa maupun kreator konten lebih banyak datang dari generasi yang lebih muda atau milenial. "Rata-rata itu 18-35, tetapi bukan berarti tidak ada audiens atau content creator di atas itu. Misalnya mba Merry Riana atau kemarin di Jogja ada channel namanya Success Before 30 usianya sudah 40 tahun, bahkan subscriber-nya sudah sangat banyak," kata Fibriyani.

Pada 6 Oktober telah digelar event YouTube FanFest 2018. Kabarnya, acara ini telah diadakan di 12 negara. Melalui acara ini, diketahui jika pertumbuhan kreator YouTube kian meroket. Pada 2017, terdapat peningkatan dari sisi kreator 63 persen atau sekira 200 ribu kreator dalam satu tahun.

Di Indonesia, menurut Fibri ada sekira 85 “Gold Creator” pada tahun ini. Ini mengalami peningkatan yang pesat, di mana pada tahun lalu hanya ada sekira 17 “Gold Creator”. Predikat “Gold Creator” ini diperuntukan bagi mereka yang memiliki subscriber di atas 1 juta.

Fenomena Vloger Gandrungi Milenial

Catatan tahun ini menunjukkan bahwa terdapat puluhan Gold Creator di Indonesia ketimbang tahun lalu. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda saat ini tampak berlomba-lomba untuk menjadi vlogger.

Apakah alasan yang mendasari seseorang bisa berkecimpung dengan aktivitas vlog. Menurut Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial, salah satu alasan mengapa vlogger digandrungi ialah bahasa visual seperti video yang dinilai lebih menarik.

“Saya pikir jawabannya bisa macam-macam ya kalau ditanya. Tetapi kebanyakan menjadi vlogger karena memang bahasa visual lebih menarik daripada penyampaian pesan lewat cara lain semisal tulisan atau gambar,” jelas Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial.

Lebih lanjut ia mengatakan, teknologi rekam yang melekat pada ponsel memudahkan seseorang merekam dirinya sendiri sehingga biayanya jauh lebih ekonomis dibanding dengan zaman ketika perekaman dilakukan dengan videocam.

“Alasan kedua, bisa jadi karena ada iming-iming ketenaran dan juga uang yang bisa didapatkan dari hasil ketenaran itu. Platform-platform video berlomba-lomba memberi uang bila mencapai sekian ratus ribu viewers,” tuturnya.

Ciptakan Konten Berkualitas

Vlog bisa dikemas agar lebih menarik dengan teknik pengeditan video. Namun, pengeditan video bukan satu-satunya unsur yang menarik minat audiens. Isi video yang disampaikan juga harus memiliki pesan atau informasi yang berguna bagi audiens.

Victor Samuel Lukman, YouTuber JWestBros mengatakan bahwa pihaknya tidak memusingkan untuk mendapatkan subscriber baru. "Lebih fokusnya sekarang bikin konten yang bagus. Apa yang orang apresiasi kita happy, udah gitu aja," kata Victor.

Sekadar informasi, JWestBros memiliki 149 ribu subscriber dan fokus di bidang food dan travel.

"Kalau lihat konten-konten kita, kita pengen share aja sih mau ke mana mau makan apa, kita kayak lebih fokus untuk kita kasih. Kan sekarang banyak banget orang nonton YouTube, kalau sekarang orang nonton konten bodoh, berarti kan semua orang jadi bodoh. Jadi kita pertahanin bikin konten bisa ditonton dan kasih impact ke orang sih, dibanding cuman haha hihi tok udah gitu, kasian aja sih kita sama yang nonton. Kalau gak ada yang mulai siapa lagi," kata Andy Garcia, personil JWestBros.

Victor menambahkan bahwa pihaknya ingin memberikan konten yang berkualitas. "Terus kalau YouTube kan gak semua anak kecil ya yang nonton, pengen ngasih acara yang orang-orang yang suka sama konten yang bagus saja sih. People deserve to watch a good content," terangnya.

Atta Halilintar, YouTuber dengan subscriber 5,9 juta mengatakan jika saat ini penonton YouTube di Indonesia memasuki fase ketagihan. Sehingga, lanjut dia, kreator yang paling konsisten otomatis mampu mendapatkan banyak view yang banyak.

“Saking banyaknya creator di Indonesia, kalau upload-nya 2 bulan sekali orang akan lupa. Tapi kalau dia (creator) upload terus akan banyak mendapatkan view," kata Atta saat ditemui di acara konferensi pers YouTube FanFest 2018 di Double Tree by Hilton, Jakarta.

Oleh karena karya vlog harus bisa menarik perhatian audiens atau netizen, maka video yang diciptakan harus memiliki daya tarik.

Damar Juniarto, Pengamat Media Sosial mengungkapkan bahwa dampak positif yang bisa didapat dari vlog ialah mendukung kreativitas, melatih dan mengasah keterampilan berkomunikasi lewat video, melatih manajemen waktu dan uang serta mengarahkan ke penyampaian pendapat yang bertanggungjawab.

Selain dampak positif vlog, terdapat pula dampak negatif yang bisa ditimbulkan. “Bila apa yang disampaikan tidak dikemas dengan baik pesannya bisa mudah menimbulkan salah paham dan konflik,” ujar Damar.

Tidak hanya itu, vlog dinilai membangun subjektivitas yang sempit sehingga jauh dari semangat mendengarkan orang lain dan hal yang bisa dirasakan vlogger ialah bila jenuh berkarya dan minim respon dapat menimbulkan rasa frustasi. [okz]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Semangat Sumpah Pemuda di Era Milenial
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top