Senin, 17 Desember 2018 |
Pariwisata - News Gallery

Sederet Mitos dan Larangan Saat Mendaki Gunung Agung Bali

Kamis, 28 Sept 2017 | 17:12 WIB Dibaca: 639 Pengunjung

Gunung agung, bali.*

[NEWSmedia] - Gunung Agung kini sedang jadi pusat perhatian publik Indonesia dan dunia, terutama para wisatawan dan pendaki. Pasalnya, gunung yang berada di Pulau Dewata ini dapat mempengaruhi kegiatan wisata di pulau tersebut.

Status Gunung Agung seperti yang terdapat dalam laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi pada Jumat, 22 September 2017 lalu telah dinaikkan menjadi Level IV Awas. Sementara pada Selasa, 26 September 2017, laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi tepatnya pukul 00.00 hingga 06.00 waktu setempat, telah terekam sebanyak 74 kali gempa vulkanik dangkal, 86 kali gempa vulkanik dalam dan 5 kali gempa tektonik lokal.

Status Gunung Agung seperti yang terdapat dalam laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi pada Jumat, 22 September 2017 lalu telah dinaikkan menjadi Level IV Awas. Sementara pada Selasa, 26 September 2017, laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi tepatnya pukul 00.00 hingga 06.00 waktu setempat, telah terekam sebanyak 74 kali gempa vulkanik dangkal, 86 kali gempa vulkanik dalam dan 5 kali gempa tektonik lokal.

“Ada tujuh buah bandara yang telah ditetapkan untuk akses para wisatawan agar selamat dari letusan gunung, antara lain bandara di Lombok, Banyuwangi, Solo, Balikpapan, Makasar, Semarang dan Surabaya,” ucap Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dalam sebuah kesempatan di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (27/9/2017).

Mundur ke sebelum meningkatnya aktifitas gunung, ternyata ada beberapa mitos yang terdapat di dalam Gunung Agung dan hal tersebut tidak boleh disepelekan oleh para pendaki dan pengunjung gunung. Mitos-mitos yang terkesan mistis dan menyeramkan baiknya diyakini oleh para pendaki dengan mematuhi aturan-aturan yang ada, agar nyawa tetap selamat.

Gunung Agung yang masih berada di kawasan Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, tersebut diyakini oleh warga setempat sebagai replika dari Gunung Semeru yang dibelah oleh Dewa Pasupati. Dewa Pasupati ialah penguasa satwa dan raksasa dalam keyakinan Hindu.

Para pendaki tidak dibolehkan membawa daging sapi. Segala macam olahan daging sapi dalam bentuk apapun dilarang dibawa. Belum diketahui memang alasan dibalik larangan ini, tapi memang ada keyakinan umat Hindu yang tidak mengonsumsi daging sapi, karena menganggap sapi adalah hewan yang mulia dan dianggap suci. Sementara, jika membawa makanan jenis lain, para pendaki harus membawanya dalam jumlah genap.

Aturan yang penting diketahui lainnya ialah agar meminta izin terlebih dahulu ke beberapa tempat tertentu. Para pendaki mesti tahu juga kalau ketika mendaki Gunung Agung maka dilarang mengenakan pakaian berwarna merah dan hijau. Selain itu, pendaki wanita yang sedang datang bulan juga dilarang mendaki.

Dalam Gunung Agung ada sebuah sumber mata air yang terdapat di jalur pendakian dari Pura Besakih ke Gunung Agung. Sumber mata air tersebut dianggap suci oleh masyarakat setempat dan para pendaki tidak boleh asal mengambil, jika ingin minum atau menggunakan air dari mata air suci, maka para pendaki harus bersembahyang dulu.

Ketika hendak mendaki puncak Gunung Agung, sebaiknya ditemani oleh pemandu, karena jika sampai ada sesuatu hal buruk terjadi, misalnya saja kematian, maka masyarakat setempat harus mengadakan Upacara Wana Kertih, yaitu upacara penyucian gunung. Kabarnya, menurut keyakinan masyarakat sekitar meletusnya gunung pun sebagai akibat dari ulah manusia yang mengotori gunung. [okz]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

LAINNYA

Liburan ke Yogyakarta, Jangan Lupa ke Sini
Jumat, 14 Des 2018 | 16:36 WIB
Liburan ke Yogyakarta, Jangan Lupa ke Sini
3 Fenomena Menarik Gunung di Indonesia
Kamis, 13 Des 2018 | 16:01 WIB
3 Fenomena Menarik Gunung di Indonesia

KOMENTAR

Sederet Mitos dan Larangan Saat Mendaki Gunung Agung Bali

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top