Sabtu, 26 September 2020 |
News Room - Pariwisata - News Adv

Seba Baduy, Amanah Leluhur yang Harus Diserap

Sabtu, 29 Apr 2017 | 12:31 WIB Dibaca: 1688 Pengunjung

Tradisi Seba Baduy

SERANG, [NEWSmedia] - Ribuan warga Baduy sudah berkumpul di stadion Ciceri Kota Serang, yang rencananya akan bertemu dengan Bapak Gede (Gubernur Banten) dalam prosesi Seba Baduy di Museum Negeri Banten, hari ini, Sabtu, (29/4/2017).

Prosesi sakral Urang Kanekes atau dikenal Suku Baduy yakni Seba Baduy Gede telah dimulai sejak jumat kemarin, sambil membawa beragam hasil bumi sebagai ‘buah tangan’ untuk Ibu Alit dan Bapak Gede.

Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar bertolak dari Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan berjalan kaki sejauh 115 kilometer tanpa menggunakan alas kaki. Perjalanan tersebut dijalani sesuai dengan tradisi mereka yang tidak memperbolehkan warga Baduy Dalam memakai sandal dan sepatu.

Upacara adat Seba digelar setelah Urang Kanekes melaksanakan Puasa Kawalu selama tiga bulan dan musim panen tiba. Selama tiga bulan itulah masyarakat luar dilarang memasuki wilayah Baduy Dalam, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.

Seba dalam artian ‘sowan’,  secara sederhana berarti menjalin silaturahmi dengan pemerintah setempat. Menurut pengamat Baduy Uday Suhada, esensi dari Seba baduy adalah menyambung silaturahmi antara warga Baduy dengan pemerintah. Tak sekadar itu, dalam setiap acara inti yang berisi ramah tamah dengan Bapak Gede yang dalam hal ini Gubernur, warga Baduy menyematkan 3 esensi penting dari Seba Baduy.

“Niat untuk menjalin silaturahmi dengan pemerintah, keadilan, dan pesan menjaga kelestarian lingkungan,” kata Uday.

Pesan-pesan tersebut, menurut Uday wajib ditangkap dan diimplementasikan oleh pemerintah. Kegiatan Seba Baduy, tidak dimaknai sebatas ‘tontonan’ yang untuk menarik wisatawan, lebih dari itu, Seba adalah amanat luhur dari warga Baduy untuk pemerintah di Banten.

Lanjut Uday, selain itu warga Baduy juga berpesan agar mereka bisa terus memelihara tali kekeluargaan, berbuat adil pada sesama dan makhluk Tuhan, serta menjaga keseimbangan lingkungan yang merupakan bagian dari filosofi kehidupan Urang Kanekes dalam menghargai kehidupan yang adiluhung.

Sesuai dengan falsafah Urang Baduy yang berbunyi “Gunung Heunteu Meunang Dilebur, Lebak Heunteu Meunang Diruksak. Lojor Heunteu Meunang Dipotong, Pendek Heunteu Meunang Disambung “ (Gunung Tak Boleh Dihancurkan. Lembah Tak Boleh Dirusak. Panjang Tak Boleh Dipotong. Pendek Tak Boleh Disambung).

Filosofi ini tetap menjadi pegangan orang Baduy dalam merayakan tradisi upacara Seba, yang memiliki makna bahwa hidup harus sesuai ketetapan Tuhan. Serta, menjaga apa yang telah diberikan oleh Tuhan.

Untuk mempersiapkan acara tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota serta kepolisian. Ini dilakukan untuk memastikan acara tahunan berjalan tanpa hambatan.

“Seba Baduy adalah hajat bersama yang harus disukseskan. Selain upaya pemerintah dalam rangka menjaga kelestarian adat leluhur, ini juga bisa jadi daya daya tarik wisatawan ke Banten,” kata Eneng baru-baru ini.

Eneng menjelaskan, Seba Baduy merupakan ritual itu dilakukan sebagai bentuk kepatuhannya kepada penguasa, mereka menghantarkan hasil bumi seperti padi, palawija, buah-buahan, bahkan kerajinan tangan.

Lanjut Eneng, Ritual ini sangat ditunggu-tunggu para peneliti sejarah, wisatawan baik domestik maupun asing serta masyarakat pada umumnya karena hanya bisa disaksikan sekali dalam setahun. Pada malam hari, kegiatan utama Seba Gede akan berlangsung antara masyarakat Baduy dengan Gubernur Banten. Pihaknya juga akan mengundang Kementrian Pariwiwsata untuk hadir dalam acara puncak pada tanggal 30 April nanti.

“Kita ingin esensi dari Seba Baduy itu sendiri berhasil diterjemahkan secara konkret oleh semua, terutama pemerintah, bahwa niat untuk menjalin silaturahmi harus dijaga, keadilan untuk kemaslahatan harus prioritas, dan menjaga keseimbangan lingkungan menjadi niscaya bagi semuanya,” tutur Eneng. [Adv]

Penulis: Nm
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Seba Baduy, Amanah Leluhur yang Harus Diserap
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top