Rabu, 24 April 2019 |
News Room - Politik - Sosok

Sapto Yuli, Difabel yang Maju Jadi Caleg DPRD Kabupaten Malang Dari Partai Berkarya

Jumat, 22 Mar 2019 | 17:28 WIB Dibaca: 152 Pengunjung

Sapto Yuli Isminarti, perempuan difabel asal Malang, Jawa Tengah yang menjadi calon legislatif dari Partai Berkarya untuk DPRD Kabupaten Malang.*

MALANG, [NEWSmedia] - Sejak berdiri dua tahun lalu, Partai Berkarya membuka kesempatan kepada semua anak bangsa, termasuk kepada kaum difabel agar terlibat dan berperan dalam politik. Sapto Yuli Isminarti, perempuan difabel asal Malang, Jawa Tengah langsung meresponsnya. Ia daftar menjadi calon legislatif dari Partai Berkarya untuk DPRD Kabupaten Malang.

Sapto Yuli, demikian perempuan berhijab itu dipanggil. Ia adalah calon anggota DPRD Kabupaten Malang untuk daerah pemilihan (dapil) tujuh. Wanita yang sukses sebagai pengusaha pakaian dan hijab itu yakin mampu memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Malang.

Meski menyandang disabilitas, Sapto Yuli mengaku tidak merasa memiliki hambatan, termasuk untuk berpolitik. Ditambah lagi dorongan dari Partai Berkarya, khususnya dari Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto kepada dirinya, menambah semangat untuk berkiprah di dunia politik.

“Mbak Tutut yang selalu memberi dorongan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya," kata Sapto Yuli saat ditemui di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (21/3/2019).

Ia mengatakan , di berbagai kesempatan, Tutut Soeharti selalu memberi dorongan kepada kaum difabel untuk berkarya dan berkiprah. Termasuk kepada dirinya untuk semangat bertarung memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Malang.

“Mbak Tutut mengatakan, buatlah mulai dari hal kecil sebagai bagian membangun pondasi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sapto Yuli mengaku lahir dari keluarga miskin, namun dia bersyukur pernah hidup dalam jerat kemiskinan, sehingga akhirnya berusaha keras keluar dari kemiskinan dengan menjadi produsen hijab dan kerudung.

"Dari era Presiden Soeharto sampai saat ini masalah terbesar bangsa adalah kemiskinan. Keluarga saya juga saya miskin, dan saya bisa keluar dari kemiskinan,” kata wanita pengguna kaki palsu itu.

Menurutnya, upaya keluar dari kemiskinan dimulai dengan berkarya. Ia awalnya mendesain hijab dan kerudung dan kemudian memproduksinya. Pada akhirnya, Sapto Yuli mendapatkan banyak order pengadaan hijab, kerudung, hingga t-shirt dan jaket dari berbagai organisasi.

"Penyandang difabel miskin itu pasti terpinggirkan, tapi jika punya semangat dan kemauan berkarya siapa pun bisa keluar dari kemiskinan," katanya.

Sapto Yuli memimpikan difabel di Indonesia bisa sukses dengan memiliki karya di bidang apa saja. “Negeri kita sudah mulai ramah kepada kaum difabel, terutama di kota besar. Namun dibanding negara lain, Indonesia masih tertinggal,” ujar wanita berusia 46 tahun itu.

Ia menyebut Sydney, salah satu kota di Australia yang memiliki jaringan braille dan tanda tactile--atau penunjuk jalan untuk orang yang memiliki gangguan penglihaan--paling luas di dunia.

Sapto Yuli pun menyinggung kenangan pada era Presiden Soeharto. “Saya terinspirasi program pemberdayaan masyarakat yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, yakni Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir) yang tak lain kegiatan pertemuan untuk petani dan nelayan di Indonesia. Sekarang saya namakan saja Sarasehan Masyarakat Keliling,” katanya.

Sapto Yuli mengaku telah berkunjung ke daerah-daerah mengajarkan penyandang disabilitas berwirausaha. "Saya katakan kepada rekan sesama disabilitas, jika saya bisa berwirausaha kalian juga bisa,” terangnya.

Adapun keinginan terbesar dalam hidup Sapto Yuli adalah memperjuangkan program yang pernah dilaksanakan Presiden Soeharto untuk mengentaskan kemiskinan lewat pemberdayaan masyarakat, pola hidup sehat, dan mandiri. [rhd]

Editor: Rapih Herdiansyah
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Sapto Yuli, Difabel yang Maju Jadi Caleg DPRD Kabupaten Malang Dari Partai Berkarya
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top