Rabu, 14 November 2018 |
Ekonomi - News Gallery

Rupiah Merosot, Bos BCA Sebut Industri Perbankan Sudah Belajar dari Krisis 1998

Kamis, 11 Okt 2018 | 10:00 WIB Dibaca: 245 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengatakan industri perbankan telah mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah tembus  15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

"Industri perbankan sejak 98 sudah belajar ya, jadi kita juga mengelola dolar AS sudah lebih baik. Enggak ada yang spekulasi, enggak ada pinjaman yang terlalu banyak dalam dolar, jadi saya rasa perbankan sudah lebih siap," tuturnya di Pacific Place, Jakarta Selatan.

Meski mata uang rupiah tersungkur dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jahja berpendapat, mata uang lain juga mengalami hal yang sama. Salah satunya ialah mata uang Jepang yakni yen.

"Kenaikan dolar memang ada, tapi yen juga tercatat melemah cukup besar juga. Jadi saya kira sepanjang kepanikan berlebih tidak terjadi, maka ini bisa terkendali," ujar dia.

Jahja menambahkan, nilai tukar rupiah yang melemah terjadi belakangan justru berdampak signifikan kepada sektor riil RI. Industri ini dinilai berpengaruh besar pada fluktuasi harga-harga barang di pasar.

"Sektor riil karena bahan baku dari produk-produk kita itu masih impor. Ini sedikit banyak ada kenaikan daripada harga. Itu harus dilihat dampaknya ke inflasi," ujar dia.

Oleh sebab itu, dia berharap inflasi yang menimpa industri dapat tetap terjaga dalam rentang harga yang proporsional. 

"Karena kita harus balanced ya antara kurs, suku bunga, serta inflasi ini. Jadi yang penting kita bisa jaga inflasi tidak terlalu tinggi supaya harga barang tak melonjak tinggi," kata dia.

Sebelumnya,  nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah di awal pekan. Pada Senin 8 Oktober 2018 pukul 10.40 WIB, kurs rupiah spot sempat melemah 0,33 persen ke Rp 15.233 per Dolar AS.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan melemahnya rupiah akibat kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS (T-bond) tenor 10 tahun yang telah melewati 3 persen.

"Kan hari ini kalau kita lihat data di AS yang dipicu oleh yield 10 tahun Bond AS yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen," kata dia di Lokasi IMF-World Bank Annual Meeting, Bali, Senin 8 Oktober 2018.

Dia menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi di atas 3 persen ini kemudian memberikan efek psikologis bagi pasar global. Sebelumnya, 'level psikologis' kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sebesar 3 persen.

"Ini unpresidented selama ini. Jadi kita melihat dinamika ekonomi AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali, kalau dulu tresshold psikologisnya 10 tahun bonds AS, 3 persen," ujar dia.

Karena itu, Mantan Direktur Bank Dunia ini mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 sebesar 3,4 persen, tentu menciptakan pergerakan di nilai tukar mata uang global, termasukrupiah.

"Jadi pas mereka mendekati 3 persen memunculkan apa yang disebut reaksi dari seluruh nilai tukar dan suku bunga internasional, sekarang sudah lewat 3 persen," tandas dia. [lpt]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Rupiah Merosot, Bos BCA Sebut Industri Perbankan Sudah Belajar dari Krisis 1998
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top