Sabtu, 26 Mei 2018 |
Highlight - News Citizen

Rumah sebagai Ruang Eksistensi, Bukan Penjajahan

Selasa, 12 Des 2017 | 08:35 WIB Dibaca: 244 Pengunjung

Adipati Naim, Aktivis PMII Kabupaten Lebak.*

Belakangan ini sering ditemukan dalam interkasi sosial, baik dirumah atau ditempat kita bergaul, tentang kebiasaan perempuan yang berupaya membuat dirinya keluar dari tekanan sosial sehingga mengharuskannya untuk berdiam diri dirumah, atau bahkan pada ruang yang lebih sempit yaitu kamarnya.

Meskipun masih ada perempuan yang berpikir tentang kenyamanan hidupnya ada disekitar pintu rumah, namun tak sedikit pula yang beranggapan bahwa rumah bagaikan penjara dan layak untuk dijadikan sebagai objek pemberontakan karna dianggap selalu membatasi ruang gerak dan ekspresi bagi perempuan tersebut untuk melakukan aktifitas, walau hanya sekedar bermain menghilangkan penat dalam pemikirannya.

Diamini atau tidak, kondisi yang demikian akhirnya berujung pada pencarian dan pembentukan konsep-konsep atau teori-teori untuk melegitimasi pembenaran atas argumentasi, demi terciptanya kondisi yang mungkin dimaksudkan sebagai awal dari sebuah kemerdekaan atau pembebasan dari keterjajahan pintu rumah.

Nah, berangkat dari prakata diatas, penulis bermaksud untuk melakukan dialektika standar, agar ada kondisi dimana pembaca tertawa karna melihat tulisan yang sebenarnya tidak penting atau tidak layak untuk diamati, sekalipun hanya sebatas mengisi teman ngopi.

‌Doktrin gerakan perempuan

Tidak harus mengalami banyak bantahan, bahwa ada segudang teori-teori dan argumentasi yang sangat mengilhami para anak muda untuk nantinya dijadikan sebagai pijakan opini dasar dalam melakukan pembentukan wacana, yang biasanya disebut peran perempuan.

Misalnya dilingkaran kajian mahasiswa, banyak opini dimunculkan untuk sekedar membedah gerakan perempuan yang akan membuat pola berpikir dan membentuk pemikiran bagi para pengisi lingkaran kajian tersebut.

Namun ada lingkup kajian diluar pembahasan lingkaran kajian tersebut, dan sebenarnya tak kalah menarik untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Perkara output yang dihasilkan akibat rapuhnya rasionalitas untuk mencerna dan menerima tafsir sebuah teori.

Contohnya, ada banyak perempuan yang menjalani proses diberbagai tempat kajian, baik organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, dan komunitas-komunitas, dengan mendalami buah hasil pemikiran namun gagal pada ruang interpretasi dan membuat implementasinya justru cenderung tidak bijak menanggapi persoalan.

Hal utopis tersebut terjadi manakala ada seorang perempuan yang keterlibatannya tidak didasari pada kesadaran membangun peran perempuan dikhalayak publik, namun hanya bagian dari hasrat ingin hidup tanpa aturan yang dianggap mengekang, dan mengikuti trend style untuk terlihat seakan-akan dirinya sebagai pejuang pemikiran perempuan, yang justru membuat perempuan menghilangkan makna pintu rumah yang sesungguhnya dan beranggapan rumah sebagai objek penindasan pertama terhadap pemikiran yang keliru.

‌Rumah objek penindasan

Ada banyak alasan tidak rasional yang dilegitimasi secara sepihak oleh oknum perempuan yang mengakibatkan terjadi pergeseran makna perjuangan perempuan.

Misal, perempuan yang dalam proses pembesaran dirumahnya sangat jarang menikmati angin malam dan bermain-main dengan teman, sesaat melakukan konfrontasi terhadap rumahnya tanpa memahami aspek psikologis kenapa di dalam rumah ada aturan yang bersifat tidak tertulis. Pada ruang lain, adapula yang melegitimasi kebebasan berpikir (cenderung liberal) sebagai kampanye untuk mengupayakan penerimaan perilaku hedon sebagai bagian dari kesetaran perempuan dengan laki-laki, tanpa pernah meninjau indikator yang menyebabkan kapan dan kenapa perempuan harus berada diluar rumah, begitupun sebaliknya.

Ruang penyadaran berpikir seperti inilah yang akhirnya berakibat pada terjadinya kamuflase nilai, makna, yang terkandung dalam basis perjuangan perempuan.

‌Kebebasan dan hasrat perempuan

Meskipun begitu, upaya untuk membangkitkan peran dan nalar berpikir perempuan agar diterima sebagai oase dari kebuntuan berpikir laki-laki yang menjadikan perempuan objek nafsu harus terus digalangkan, walau mesti ada banyak evaluasi yang harus dilaksanakan pula.

Kalaupun tak jarang ada banyak kasus tentang kekerasan atau kejanggalan didalam rumahnya sendiri, tidak semata-mata harus mengesampingkan bahwa rumah adalah ladang perjuangan utamanya. Dirumahlah perempuan memotivasi laki-laki, dirumahlah perempuan mendidik anak, dirumah pula lah perempuan melindungi diri dari oknum pemikiran liar laki-laki.

Bahwa keterjajahan secara bentuk haruslah tetap dilakukan perlawanannya oleh banyak perempuan dengan cara mengakomodir dan melakukan pengorganisiran, namun tidak harus menghilangkan citra diri sebagai sosok perempuan. Sebagaimana Khadijah istri Rasulullah berjuang membantu sang Nabi, hingga hal tersebut diabadikan dalam sebuah riwayat ketika harta Khadijah habis dipakai untuk berperang dan Khadijah melamun, lalu Rasulullah bertanya tentang keadaannya apakah menyesali, seraya Khadijah menjawab "Ya Rasul, setelah semua hartaku habis untuk berperang dijalan Allah, bagaimana lagi aku bisa membantumu dalam perjuangan, jika tubuhku bisa membantumu berjuang, maka aku serahkan tubuhku"

Atau sebagaimana pula kita juga mampu belajar dari Asma bin Yazid saat ditulis kisahnya di media Republika yang menceritakan Asma bin Yazid memiliki kelebihan kepekaan indranya, kejelian perasaannya serta ketulusan hati, yang datang menemui Rasulullah SAW ketika sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Lalu berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang utusan kaum wanita yang datang padamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi para lelaki dan wanita seluruhnya secara sama. Maka kami beriman padamu dan Tuhanmu. Dan kami kaum wanita merasa terkungkung dan terpencil dalam rumah-rumah kaum lelaki, sebagai pelampiasan hawa nafsu kaum lelaki, dan mengandung anak-anak kalian." Lanjut ia bertanya "Dan kalian wahai kaum lelaki, telah diutamakan atas kami kaum wanita, dengan diwajibkan melakukan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Mengunjungi orang sakit, melayat orang mati, dan berhaji setelah melakukan haji. Dan lebih afdhal dari itu, kalian juga diwajibkan jihad fi sabilillah. Sesungguhnya seorang lelaki dari golongan kalian bila keluar karena suatu kebutuhan atau sebagai seorang mujahid, kami harus menjaga harta kalian dan mencuci baju kalian, merawat anak-anak kalian. Apakah kami tidak bisa bersama kalian untuk memperoleh pahala dari berbagai keutamaan ibadah yang kalian lakukan itu"?

Mendengar pertanyaan yang sangat hebat itu, Rasulullah pun kagum dan menjawab "Pahamilah wahai perempuan, dan ajarkanlah pada para wanita di belakangmu. Sesungguhnya amal wanita bagi suaminya, meminta keridhaan suaminya, mengikuti apa yang disetujui suaminya setara dengan amal yang dikerjakan oleh kaum lelaki seluruhnya."
Wallahu'alam bimuraadih.

Dari hal tersebutlah kita belajar memaknai bahwasannya citra perempuan dalam mengembalikan peran perjuangannya tidak harus sampai menciptakan kejanggalan dalam berpikir, sehingga dapat menampilkan sisi substansial fungsi dari manusia yang tercipta sebagai perempuan.

Memahami dan membangun citra perempuan memang harus melibatkan banyak pihak termasuk dari laki-laki, agar kepercayan struktural perempuan dapat dikembalikan sesuai dengan kaidah-kaidah kehidupan, dan sebagai pusat dari semua peradaban.

Penulis:

ADIPATI NAIM, Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Lebak.

Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Rumah sebagai Ruang Eksistensi, Bukan Penjajahan
POLRES SERANG KOTA NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top