Rabu, 24 April 2019 |
News Room

Rindu Indonesia Rukun, Tutut Soeharto Ungkap Masa Lalu Sambil Menahan Tangis

Kamis, 21 Mar 2019 | 21:10 WIB Dibaca: 204 Pengunjung

Tutut Soeharto dalam acara pengukuhan Gerakan Bakti Cendana di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMI) Jakarta, Rabu (20/3/2019).*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Siti Hardijanti Rukmana, putri sulung Presiden Soeharto yang akrab disapa Mbak Tutut mengatakan, perbedaan dan keanekaragam di berbagai aspek di nusantara harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Kata dia, perbedaan dan keberagaman itu justru akan memperkaya Indonesia.

“Kita ingin mengembalikan Indonesia yang makmur, menjadi bangsa yang rukun, gotong royong, dan saling bantu berjuang meski ada perbedaan. Indonesia yang kita inginkan adalah bangsa yang bersatu dan tidak saling cakar," kata Mbak Tutut saat mengukuhkan Gerakan Bakti Cendana di Hotel Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (20/3/2019).

Berbicara selama setengah jam yang diselingi dialog dengan organisasi Gerakan Bakti Cendana, Tutut menjelaskan, sesuai ajaran agama Islam, perbedaan adalah rahmat. Jadi, sesama anak bangsa tidak perlu saling menjelek-jelekan.

“Apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah. Mulailah dari yang kecil,” ujarnya.

Seisi aula Hotel Desa Wisata pun terdiammenyimak setiap kalimat yang disampaikan Mbak Tutut dengan suara lembut. Terlebih saat Mbak Tutut mengatakan memulai dari yang kecil untuk membangun bangsa adalah anjuran Ibu Tien Soeharto, sang ibunda tercinta.

“Ibu Tien mengatakan perbuatan kecil tapi menjadi bagian pembangunan bangsa itu lebih utama, daripada membangun sesuatu yang besar tapi menimbulkan masalah,” tuturnya.

Kepada kader Partai Berkarya, partai yang dinahkodai Tommy Soeharto, Tutut juga berpesan untuk tidak menyusahkan bangsa. Menurutnya, setiap kader Partai Berkarya harus memberikan kontribusi nyata untuk membangun bangsa.

Pada kesempatan itu, Tutut juga tidak hanya mengingatkan pesan Ibu Tien, tapi juga tentang nasehat almarhum Presiden Soeharto, sang ayah tercinta.

Dikatakan Mbak Tutut, salah satu nasehat ayahnya adalah agar anak-anaknya memberikan apapun untuk bangsa.

“Jika tidak ada sama sekali untuk diberikan, berilah senyum, makanya, bapak (Presiden Soeharto-red) selalu tersenyum dan dikenang dengan julukan smiling general," ucap Tutut.

Nasehat lain Pak Harto kepada anak-anaknya, sambung Mbak Tutut, adalah tidak boleh dendam. Sebab, dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru.

Ia juga bercerita jelang Pak Harto mengambil keputusan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia. Mulanya Pak Harto memanggil seluruh anaknya dan menyampaikan keinginan mengundurkan diri. 

“Bagaimana menurut kalian? Masyarakat sudah ramai meminta bapak berhenti. Saya jawab apapun keputusan bapak kami tetap mendukung bapak berhenti, karena sudah tidak dikehendaki rakyat,” pungkas Tutut.

Yang juga tidak bisa dilupakan Tutut adalah ketika Pak Harto memintanya mencarikan buku UUD 45. Saat itu, kata Tutut, Pak Harto mengatakan ingin berhenti jadi presiden, tapi ingin memakai kata yang sesuai UUD 45.

“Bapak tidak mau mengatakan mengundurkan diri, tapi berhenti dari presiden. Saya katakan kepada bapak, kan berhenti dan mengundurkan diri sama. Bapak mengatakan, tidak. Mengundurkan diri artinya sebagai mandataris rakyat, bapak mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas. Berhenti artinya bapak, sebagai mandataris rakyat, disuruh berhenti karena tidak dipercaya lagi. Bukan karena kemauan bapak, tapi karena kehendak masyarakat. Jadi apa yang Pak Harto lakukan, selalu berdasarkan UUD 45. Pak Harto tidak pernah melanggar undang-undang,” ungkap Tutut.

“Malam hari, bapak memanggil kami berenam dan menyampaikan keputusan berhenti, adik saya mengatakan jangan dulu berhenti, beri kami kesempatan membuktikan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintai bapak,” Mbak Tutut dengan suara tersendat menahan tangis menyambung ceritanya.

Tutut mengungkapkan respons Pak Harto saat itu adalah sabar. "Kalian tidak boleh dendam. Dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah lebih besar. Tidak hanya sekali Pak Harto mengingatkan anak-anaknya untuk tidak dendam, tapi setiap hari," terang Mbak Tutut.

Tidak jarang pula Pak Harto menambah nasehatnya dengan kalimat Gusti Allah ora sare (tidak tidur). “Suatu saat rakyat akan tahu mana yang salah dan benar,” ungkapnya.

Dari hari ke hari nasehat itu menyadarkan Tutut dan adik-adiknya bahwa keputusan ayahnya mengundurkan diri adalah yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga.

“Setelah belajar Alquran, saya akhirnya tahu semua nasehat bapak adalah ajaran Allah SWT. Pak Harto selalu bersandar kepada Allah SWT,” ucap Mbak Tutut mengakhiri ceritanya dan membuat semua yang hadir terharu hingga meneteskan air mata. [rhd]

Editor: Rapih Herdiansyah
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Rindu Indonesia Rukun, Tutut Soeharto Ungkap Masa Lalu Sambil Menahan Tangis
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top