Sabtu, 17 November 2018 |
News Room - Ekonomi - News Gallery

RI Impor 100.000 Ton Jagung, Ini Alasannya

Senin, 05 Nov 2018 | 09:36 WIB Dibaca: 225 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Pemerintah memutuskan impor jagung maksimum 100.000 ton tahun ini melalui Perum Bulog.

Keputusan impor diambil setelah rapat koordinasi terbatas menteri koordinator (menko) perekonomian, menteri pertanian, menteri perdagangan, menteri badan usaha milik negara (BUMN) dan Perum Bulog.

Lantas, untuk apa Indonesia impor jagung sebanyak itu? berikut penjelasannya 

Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan impor jagung 100.000 ton tahun ini untuk pakan ternak, bukan konsumsi masyarakat.

"Impor itu dilakukan Bulog, yang diutamakan ke peternak mandiri. Tujuannya untuk menstabilisasi harga jagung di sentra sentra peternakan itu, itu intinya," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro.

Dia mengatakan, harga jagung untuk sentra peternakan belum stabil. Hal itu dilatarbelakangi jauhnya jarak dengan sentra produksi jagung, sehingga mempengaruhi ongkos logistik.

"Pabrik pakan kan terkonsentrasi di beberapa tempat, ada Jawa, Lampung, sementara yang sentra produksinya kan menyebar ke mana mana. Berarti kan perlu transport," ujarnya.

Misalnya, ongkos logistik dari Tanjung Priok ke Bengkulu lebih mahal 2 kali lipat dibandingkan dari Tanjung Priok ke Malaysia. 

"Contoh dari Tanjung Priok ke Malaysia itu dibandingkan dengan Tanjung Priok ke Bengkulu itu biayanya yang ke Bengkulu lebih mahal 2 kali dibandingkan ke situ," ujarnya.

Pemerintah memutuskan impor jagung maksimum 100.000 ton tahun ini melalui Perum Bulog. Namun diperkirakan sampai akhir tahun, impor tidak akan mencapai angka tersebut.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro mengatakan, kemungkinan impor tidak akan menyentuh sampai 100.000 ton.

"Kalau seandainya Desember bisa tercapai 100.000 ton, tapi biasanya nggak sampai," katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (4/11/2018).

Menurutnya, jika berkaca dari pengalaman, impor akan berhenti jika harga jagung di dalam negeri sudah kembali stabil, walaupun kuota impor yang diberikan ke Bulog adalah 100.000 ton.

"Maksimum ya kan (100.000 ton), tapi pengalaman 2016 kalau sudah harga sudah reda ya nggak lagi impor," terangnya.

Dia menjelaskan, impor dilakukan karena situasional meskipun Kementan menyebut jagung surplus.


Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan, kenaikan harga jagung salah satunya disebabkan oleh permasalahan logistik. Biaya yg mahal menyebabkan kenaikan tidak bisa dihindarkan.

"Ya kan di republik ini kan persoalannya memang logistik yang mahal, tidak hanya pertanian, di semua. Makanya presiden mengutamakan pembangunan infrastruktur termasuk infrastruktur laut, tol laut itu sebetulnya untuk menurunkan biaya distribusi yg cukup mahal" jelas (4/11/2018).

Untuk memangkas biaya logistik, Syukur Iwantoro menegaskan bahwa hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Kan tidak bisa balik seperti ini kan, tol laut kan mengutamakan kawasan timur ke barat, itu yang kita harus selesaikan sehingga karena mahalnya transportasi antar pulau dan sebagainya itu yang menyebabkan disparitas harga sama sentra produksi dengan sentra pasar cukup tinggi" tekannya.

Kordinasi antar kementerian sangat diperlukan untuk memperbaiki sistem logistik antar pulau. Sebab semua harga pangan akan ikut naik sesuai dengan biaya pendistribusiannya.

"Kita koordinasi sama kementerian terkait yang menangani itu," jelas Syukur. [dtc]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

RI Impor 100.000 Ton Jagung, Ini Alasannya

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top