Senin, 30 Maret 2020 |
News Room

Rencana Menyulap Sampah Jadi Rupiah, Bisakah?

Rabu, 27 Sept 2017 | 18:33 WIB Dibaca: 535 Pengunjung

Proses uji coba limbah sampah di Kawasan Wisata Outbound Baduy, Rabu (27/9/2017).*

SERANG, [NEWSmedia] - Sampah merupakan persoalan yang serius bagi masyarakat, selain menimbulkan bau yang tak sedap, sampah juga menjadi salah satu penyebab kebanjiran, bahkan bisa menjadi sarang penyakit.

Bahkan, keberadaan sampah di sekitar kehidupan manusia mempunyai beberapa dampak yang negatif, diantaranya dari segi kesehatan, segi lingkungan dan segi keadaan sosial dan ekonomi.

Meski demikian, UKM Center Universitas Indonesia (UI) bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten dan PT. Gaido Grup merencanakan untuk mengubah sampah agar menjadi rupiah dan mempunyai nilai ekonomis bagi masyarakat.

Advisor and Founder UKM Center UI, Nining I Soesilo mengatakan, sebagai seorang akademisi, dirinya mempunyai tanggungjawab terhadap keberadaan sampah yang semakin hari semakin bertambah.

"Ini sesuatu yang akan kita kemas, karena sampah ini selalu cenderung dihindari, kita ada sesuatu yang sifatnya kreatif dan problem solving untuk sampah ini," kata Nining di Kantor DLHK Provinsi Banten, Rabu (27/9/2017).

Ia mengungkapkan, Indonesia merupakan salah satu negara pengotor laut karena sampah yang dari darat tidak bisa dibendung, bahkan menurutnya, Indonesia memasuki urutan kedua setelah China.

"Kita mencoba berfikir dalam pola besar, kita mulai dari Kecamatan Baros, kita coba angkat sebagai pilot Projek yang bakal menjadi kebanggan kita bersama sebagai daerah pengolahan sampah yang bernilai ekonomis dan diharapkan menjadi solusi bagi masalah sampah di masyarakat," jelasnya.

Sementara itu, CEO dan Founder PT. Gaido Grup, Hasan mengatakan, keberadaan sampah yang marak di masyarakat dijadikan sebagai kesempatan untuk berfikir luas agar bisa mengatasi persoalan tersebut.

"Kita siap persentasi untuk mengubah sampah yang bau jadi tidak bau dan dari yang banyak lalat sampai tidak ada lalatnya," kata Hasan.

Ia menjelaskan, dirinya sebagai seorang pengusaha, akan membuat satu pilot project di Kawasan Wisata Outbound Baduy di Kecamatan Baros dengan mengembangkan objek wisata tersebut dengan wisata sampah.

"Kita punya konsep dari pembuangan sampah agar bisa dimanfaatkan limbahnya, di Baros itu lahan sendiri, kalau lahan orang, kayanya engga bisa," jelasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas LHK Provinsi Banten, M. Husni Hasan berharap, jika tiga komponen tersebut bersinergi, baik UKM Center Universitas Indonesia (UI), PT. Gaido Grup dan Dinas LHK Provinsi Banten, sampah-sampah yang ada di Banten akan bernilai ekonomis.

"Pak gubernur dan wakilnya awal memimpin Banten ini dengan program bebersih Banten lama dan fokus menata Banten lama dari kebersihannya," kata Husni.

Ia juga berharap, teknologi yang bisa mengatur sampah tersebut agar bisa diterapkan, karena tidak menutup kemungkinan sampah-sampah itu bisa menjadi objek wisata baru di Banten.

"Pemerintah mungkin hanya menyediakan lahan, untuk pengelolaannya bisa dikerjasamakan, agar bisa bermanfaat," harapnya.

Selain itu, ia juga menegaskan, kedepan jika teknologi itu telah berhasil digunakan, masyarakat jangan melihat sampah sebagai limbah namun masyarakat juga harus melihat bahwa sampah bisa menghasilkan rupiah.

"Nanti hasil olahannya bisa dari lokasi tempat sampah ke dapur umum melalui gas metan, jadi masyarakat bisa menggunakan gas metan itu untuk memasak, untuk penerangan juga mungkin bisa, tenaga listrik," pungkasnya. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Rencana Menyulap Sampah Jadi Rupiah, Bisakah?

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top