Rabu, 14 November 2018 |
News Room

Pro-Kontra Penetapan Sultan Banten ke-18, Ini Penjelasan Pengadilan

Jumat, 13 Jan 2017 | 13:00 WIB Dibaca: 1294 Pengunjung

Ketua Pengadilan Agama Negeri Serang, Delih Effendy (tengah) saat jumpa pers di Kantornya, Kamis (12/1/2016).*

SERANG, [NEWSmedia] - Pengadilan Agama (PA) Serang angkat bicara terkait pro-kontra pengukuhan Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja menjadi Sultan Banten ke-18.

Pengadilan menyatakan tidak melakukan penetapan gelar Sultan Banten ke-18, melainkan hanya menetapkan Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja sebagai ahli waris dari keturunan Kesultanan Banten.

Ketetapan Pengadilan Agama Serang tetsebut bernomor 0316/PDT.P/2016/PA.SRG tanggal 22 September 2016 tentang Penetapan Ahli Waris.

Ketua Pengadilan Agama Negeri Serang, Delih Effendy mengungkapkan, pada Juli 2016, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja telah mengajukan Penetapah Ahli Waris (PAW) melalui kuasa hukumnya. 

Dalam permohonan itu, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja mengaku bahwa beliau adalah sebagai ahli waris dari ayahnya yang bernama  Ratu Bagus Abdul Mugeni Soerjaatmadja.

"Permohonan itu sudah diputuskan  pada September 2016, bahwa Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja sebagai ahli waris dari ayahnya, Ratu Bagus Abdul Mugeni Soerjaatmadja," kata Ketua Pengadilan Agama Negeri Serang, Delih Effendy saat jumpa pers di Kantornya, Kamis (12/1/2016).

Delih juga mengungkapkan, di dalam penetapan ahli waris itu, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja tidak hanya meminta hak sebagai ahli waris, melainkan juga sebagai ahli waris dari keturunan Kesultanan Banten. 

Di dalam perjalanan perkaranya, Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja bersama pengacaranya memberikan saksi-saksi dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa dirinya adalah benar anak dari Ratu Bagus Abdul Mugeni Soerjaatmadja bin Pangeran Ratu Bagus Marjono Soerjaatmadja bin Pangeran Timur Soerjaatmadja bin Sultan Maulana Muhammad Syafiuddin (Sultan Banten yang berdaulat dimasa Belanda).

"Maka itu dalam permohonan yang keempat, maka keluar lah penetapan bahwa Bambang Wisanggeni itu adalah mempunyai hak waris dari s
Sultan Banten yang disebutkan tadi, karena ada hubungan darah dan nasabnya. Jadi itulah yang dikabulkan pengadilan agama serang," ujarnya.

Delih Effendi menegaskan, dasar penetapan itulah yang kemudian dijadikan oleh pihak Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja sebagai alat bukti pengukuhannya sebagai Sultan Banten yang ke-18. Sementara keputusan tersebut hanya tentang penetapan ahli waris (PAW), bukan penetapan sebagai Sultan Banten.

"Jadi kalau ada pernyataan yang menyebutkan bahwa Wisanggeni adalah Sultan Banten ke-18 berdasarkan keputusan Pengadilan Agama Negeri Serang, itu bukan," tuturnya. 

Delih menjelaskan, Pengadilan Agama tidak pernah dan tidak berwenang untuk memberikan gelar kepada sesorang, termasuk memberikan status bahwa sesorang itu bergelar Sultan.

"Pengadilan hanya menetapkan kenasaban, keturunan dan penetapan ahli waris," terangnya.

Sementara itu, RTB Hendra Bambang Wisanggeni mengatakan keputusan Pengadilan Agama Serang nomor 0316/PDT.P/2016/PA.SRG tanggal 22 September 2016 tentang Penetapan Ahli Waris, telah menetapkan dirinya sebagai ahli waris Kesultanan Banten sehingga berhak atas gelar Sultan Banten ke-18.

Ia mempersilakan pihak-pihak yang merasa keberatan atas penobatan dirinya sebagai Sultan Banten ke-18, untuk melakukan gugatan hukum.

"Saya tidak menantang. Tapi kalau ada yang tidak terima, silakan menempuh gugatan hukum," kata Bambang.

Ia mengungkapkan, sebenarnya dirinya tidak ingin menjadi Sultan Banten. Namun karena garis keturunan, Bambang Wisanggeni mengaku tak bisa menolak atas hak sebagai ahli waris Kesultanan Banten.

"Sebenarnya tidak ada niat bagi saya untuk menjadi Sultan Banten. Tapi karena garis keturunan, ya saya berhak atas gelar Sultan Banten ke-18 ini," ujar Bambang.

Sebagai Sultan Banten, ia justru berniat merangkul semua pihak, termasuk yang menolak penobatan dirinya sebagai Sultam Banten. Bambang Wisanggeni ingin mengajak semua untuk bekerja sama membangun kembali kejayaan Kesultanan Banten.

"Saya justru sudah punya rencana untuk merangkul mereka agar mau bersama-sama membangun kembali seperti pada masa kejayaan Kesultanan Banten," tuturnya. 

Sementara itu, Dewan Pembina Babad Kesultanan Banten, Yusuf Al-Mubarok mengimbau khususnya kepada seluruh Dzuriat Kesultanan Banten untuk menjaga kondusivitas.

Pada dasarnya, kata Yusuf, Pengadilan Agama Serang tidak menetapkan Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja Sultan Banten ke-18, melainkan hanya menetapkan sebagai ahli waris Kesultanan.

"Kita jaga kondusivitas Banten dan Kesultanan Banten. Karena dasarnya dari Pengadilan Agama tidak pernah memutuskan sebagai Sultan Banten yang ke-18," ucapnya. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Arif Darma
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Pro-Kontra Penetapan Sultan Banten ke-18, Ini Penjelasan Pengadilan
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top