Senin, 01 Juni 2020 |
News Room - Politik

Pesan Tokoh Penggagas Setelah 16 Tahun Banten Jadi Provinsi

Selasa, 04 Okt 2016 | 17:15 WIB Dibaca: 1928 Pengunjung

Tryana Sjam'un tokoh masyarakat penggagas Provinsi Banten.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Sidang Paripurna DPR tanggal 4 Oktober 2000 memutuskan Banten menjadi provinsi. Waktu itu, ribuan masyarakat Banten yang memenuhi pelataran gedung DPR-MPR RI tumpah ruah saling bersalaman, berangkulan sambil mengucapkan selamat. Teriakan Allahu Akbar terdengar kencang, pekikan Hidup Banten saling bersahutan satu sama lain. Di antara ribuan orang tersebut ada seorang Tryana Sjam'un menitikkan air mata keharuan.

Triyana masih ingat beberapa peristiwa penting yang pernah ia lewati bersama para tokoh lain penggagas perjuangan Banten keluar dari Jawa Barat. "Pada saat Banten disahkan jadi provinsi pada 4 Oktober, saat itu saya nangis," ujar Tryana Sjam'un, pada Senin, (3/10/2016) di kantornya di Jl Rasuna Said, Jakarta.

Pada saat itu, Tryana Sjam'un adalah seorang tokoh penggagas pendirian Provinsi Banten. Ia, waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten (Bakor PBB). Sebuah badan yang berisikan tokoh-tokoh penggagas cita-cita Banten menjadi provinsi seperti Uwes Qorny (tokoh dari Lebak) dan Irsyad Djuwaeli (ketua PB Matla'ul Anwar). Keduanya adalah tokoh penggagas dengan nama organisasi berbeda dan kemudian dilebur menjadi Bakor PBB pimpinan Tryana Sjam'un.

Beberapa hari kemudian paska disahkannya Banten menjadi provinsi, diadakanlah sebuah syukuran yang dihadiri oleh masyarakat Banten di Serang. Dalam kesempatan itu, Tryana menyampaian sebuah pesan yang isinya siapapun pemimpin Banten, adalah ia yang harus melawan kemiskinan dan kebodohan yang ada di Banten.

"Siapapun Gubernur Banten nanti, ia harus berhadapan dengan kemiskinan dan kebodohan," ujar Tryana yang berprofesi sebagai pengusaha ini.

Apakah selama 16 tahun semenjak disahkannya Banten menjadi provinsi permasalahan kemiskinan, kebodohan dan pembangunan sudah merata di Banten? Apakah cita-cita terbentuknya provinsi sudah sesuai dengan harapan para tokoh penggagas? Tryana hanya menjawab, tidak. Menurutnya, cita-cita masyarakat Banten yang sejahtera, adil dan di ridhoi Tuhan masih jauh panggang dari api.

"Tidak. Coba kamu lihat ke belakang ini. Yang menyimpang banyak sekali. Saya sudah lelah mengingatkan kudu kie.. kudu kitu (harus begini dan begitu)," kata Triyana bercerita.

Di satu sisi, Tryana menambahkan dirinya enggan berbicara mengenai pemilihan Gubernur Banten 2017 akan datang. Apalagi, bersamaan dengan hari jadi Banten, ada momen pemilihan gubernur serentak yang sedang marak. Yang jelas, menurut Tryana, siapapun Gubernur Banten akan datang, haruslah sosok yang mengerti mengenai tujuan awal waktu provinsi ini didirikan. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa Provinsi Banten hanyalah suatu alat untuk mencapai tujuan masyarakat Banten yang sejahtera. Oleh sebab itu, menurutnya, siapapun boleh memimpin Banten. Asalkan ia mengerti bagaimana membangun provinsi ke depan.

"Siapapun yang memimpin Banten asal inget dengan tujuan. Nggak masalah orang Serang, Merak, Pandeglang. Daripada dipimpin orang Banten yang dzolim," kata Tryana.

Ia juga mengatakan bahwa siapapun pemimpin Banten nanti yang menang di Pilkada, haruslah berperangai baik, dan mengerti bagaimana membangun Banten ke depan.

Sayangnya, meskipun sudah 16 tahun mandiri, berdasarkan data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, pada September 2014 jumlah penduduk miskin masih 649,19 ribu jiwa. Lalu, pada 2015 di periode yang sama angka itu meningkat menjadi 690,67 ribu jiwa. Jumlah penduduk Banten saat ini sekitar 10 juta jiwa. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin berkisar 6 persen. [dtn/03]

Penulis: Dtc
Editor: Redaktur-02
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Pesan Tokoh Penggagas Setelah 16 Tahun Banten Jadi Provinsi
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top