Kamis, 17 Juni 2021 |
News Room - Sosok

Nurlaela, Pejuang Kesehatan Warga yang Dijuluki ‘Dokter Tanpa Sertifikat’

Selasa, 13 Des 2016 | 17:45 WIB Dibaca: 1207 Pengunjung

Nurlaela bersama suami ditemui di rumahnya, Senin (12/12/2016).*

MERAK, [NEWSmedia] - Tidak banyak orang yang mau memilih hidup untuk mengbadi menjadi pekerja sosial di tengah-tengah masyarakat. Namun di Kota Cilegon ada seorang ibu rumah tangga yang rela menghabiskan waktu untuk membantu masyarakat yang  kurang mampu.

Dialah Nurlaela, warga yang tinggal di Desa Tamansari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Ia meluangkan waktu selama 24 jam tanpa lelah dan pamrih. Setiap hari, perempuan berkerudung ini berada di Puskemas Pulomerak, standby menunggu masyarakat tidak mampu yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Setiap hari harus memberikan manfaat untuk masyarakat. Jadi ngantor saja di puskesmas seperti PNS,” kata Nurlaela mengawali perbincangan.

Pelayanan selama 24 jam kepada masyarakat membuat Nurlaela harus rela meninggalkan keluarga berhari-hari di rumah. Bahkan tidak jarang, Nurlaela mengantar pasien tidak mampu secara ekonomi ke rumah sakit, hingga ke Jakarta.

Tak hanya itu, Nurlaela juga tidak keberatan jika harus membantu mengurus persyaratan pasien yang akan dirujuk ke puskesmas atau ke rumah sakit. :”Saat warga membutuhkan pertolongan, tengah malam pun saya bangun,” tuturnya.

Rupanya, memang sungguh mulia pengabdian Nurlaela. Ia tidak hanya membantu pasien dengan penyakit biasa, melainkan juga konsentrasi terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV AIDS (ODHA) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Atas dasar itu, di Kecamatan Pulomerak, Nurlaela ditunjuk sebagai Ketua Warga Peduli AIDS (WPA). Nurlaela dan suaminya pun membuka posko konsultasi HIV AIDS di samping rumahnya. “Banyak yang harus diberikan penyadaran soal bahaya HIV AIDS. Di Pulomerak ada lima ODHA. Jumlah penderita ODHA di Kecamatan Pulomerak ini peringkat kedua setelah Kecamatan Ciwandan,” ungkap Nurlaela.

Terhadap orang dengan gangguan jiwa, ibu empat anak ini melakukan pendampingan kepada sebanyak 30 ODGJ di Kecamatan Pulomerak. Nurlaela yang merupakan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Dinas Kesehatan, juga merupakan pekerja sosial masyarakat (PSM), pengurus Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), kader JKN-KIS, dan kader Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Semua dijalanin dengan ikhlas. Senang bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Nurlaela.

Kiprah Nurlaela rupanya bukan hanya dirasakan warga di daerah tempat tinggalnya. Ia juga sering menangani warga kurang mampu yang berasal dari daerah lain di Kabupaten Serang, yang berbatasan dengan Kota Cilegon.

Dengan banyak profesi yang dilakoni untuk pengabdian kepada masyarakat, namun Nurlaela masih merasa belum banyak bermanfaat bagi masyarakat. “Saya masih melihat kerja saya untuk masyarakat kurang bagus. Tetapi saya tetap bekerja dengan ikhlas, walau saya sadari ada pro dan kontra di masyarakat,” terangnya.

Sudah sepuluh tahun Nurlaela bergelut di dunia kesehatan. Pengalaman dan pengetahuan tentang kesehatan pun didapat. “Saya disebut dokter tanpa sertifkat,” ujar Nurlaela, sambil tertawa kecil.

Beruntung, aktivitas Nurlaela didukung penuh oleh suaminya, Kamsari. Sang suami hanya menitipkan pesan kepada Nurlaela agar tidak meminta imbalan terhadap setiap pengabdian kepada masyarakat.

Kamsari mengaku ikhlas meski harus ditinggalkan istrinya ketika ada tugas ke luar kota, baik untuk melayani masyarakat maupun pelatihan yang digelar pemerintah. “Saya cukup terharu ketika ada masyarakat yang pernah dibantu, kemudian mengantarkan pisang ke rumah. Bagi kami, bukan imbalan yang diharapkan, tapi ibadah dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Kamsari. [idr/nr]

Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Nurlaela, Pejuang Kesehatan Warga yang Dijuluki ‘Dokter Tanpa Sertifikat’
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top