Senin, 25 Juni 2018 |
Pariwisata - News Gallery

Multatuli, Museum Anti Penjajahan Pertama di Indonesia 

Senin, 12 Feb 2018 | 17:01 WIB Dibaca: 384 Pengunjung

Novel Douwes Dekker, Max Havelaar.*

[NEWSmedia] - "Mari kita bersuka cita di Banten kidul. Daerah kami tertinggal, maka kami punya banyak pekerjaan yang mulia," itulah kutipan pidato pertama Eduard Douwes Dekker, yang memiliki nama pena Multatuli.

Pidato tersebut dibuat sehari setelah ia dilantik sebagai salah satu Kepala Kawedanan Lebak, yang menandai tangan kekuasaan Belanda, pada 22 Januari 1886.

Kutipan itu pun bisa dilihat dari kata-kata mutiara Multatuli yang tertulis di dinding Museum, yang menandai museum anti-kolonialisme pertama di Indonesia. Museum Multatuli sebagai simbol bahwa menegakkan keadilan tak mengenal suku, agama dan ras.

"Museum tidak hanya berbicara Multatuli, dan ini adalah museum anti-kolonialisme dan sejarah kolonialisme itu sendiri yang pertama di Indonesia," kata Bonie Triyana, sejarawan Indonesia asal Lebak, Banten, usai peresmian Museum Multatuli, Minggu, 11 Februari 2018.

Museum menceritakan bagaimana perlawanan terhadap penjajahan itu berlokasi di dekat Alun-alun Rangkasbitung. Menempati kantor bekas Kawedanan Lebak, tempat Eduard Douwes Dekker, berkantor. Dengan tujuh ruangan di dalamnya, museum ini didedikasikan bagi siapa pun yang peduli untuk melawan penjajahan saat ini.

Semangat persatuan dan kesatuan Indonesia, tergambar jelas dari museum berisikan novel terbitan pertama Douwes Dekker berbahasa Prancis, Max Havelaar.

"Museum ini bukan hanya milik Lebak, tapi juga milik Indonesia dan dunia. Museum ini mengangkat sejarah kolonialisme di Indonesia," kata Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak, di tempat yang sama.

Pengunjung akan disambut oleh muka Multatuli, yang dibuat dari pecahan kaca. Lalu akan memasuki ruang multimedia, berisikan film dokumenter terkait penjajahan di Indonesia. Ruang lainnya menggambarkan bagaimana sejarah Kabupaten Lebak. Di dalam seluruh museum, pengunjung akan betah, karena tercium harum asli kopi, kayu manis dan rempah-rempah lainnya.

Ada juga ruangan yang menyimpan surat tulisan tangan Douwes Dekker, catatan panjang sejarah perlawanan kepada kolonialisme, yang dilakukan masyarakat Banten, hingga penyaringan dan pahlawan kemerdekaan yang terinspirasi dari karya Multatuli, seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, hingga Pramoedya Ananta Toer.

Iti bercerita kalau dirinya bersama tim pendiri museum, sempat mendapati suara satir dari orang yang menolak berdirinya Museum Multatuli. Namun, museum yang di depannya terdapat patung Multatuli dan roman Saija-Adinda saat penjajahan Belanda ini, tetap berdiri setelah perjuangan selama empat tahun lamanya.

"Novel Multatuli, menjadi perlawanan di massanya. Museum Multatuli, menjadi simbol perlawanan kepada kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan saat ini," terangnya. [viva] 

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Multatuli, Museum Anti Penjajahan Pertama di Indonesia 
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top