Kamis, 02 Juli 2020 |
News Room - News Citizen

Menulis: Menyimpan Memori, Menyambung Imajinasi

Selasa, 07 Apr 2020 | 16:17 WIB Dibaca: 685 Pengunjung

Ken Supriyono.*

[NEWSmedia] - “Orang boleh pandai setinggi-tingginya, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah dan masyarakatnya.” Pramoedya Ananta Toer.

Ucapan Pram pada karya Bumi Manusia di atas, mengingatkan kita semua. Terlebih, bagi seorang terpelajar yang mesti berlaku adil sejak dalam pikiran dan perbuatan. Setiap perkataannya adalah senjata. Tugas suci untuk membunyikan setiap teks kepada masyarakatnya.

Apalagi, budaya menulis kita belum menggembirakan. Senada dengan budaya baca yang menjadi penunjang dari budaya menulis itu sendiri. Masyarakat kita belum menjadikan baca dan tulis sebagai kebutuhan. Bahkan, banyak yang tidak memiliki akses sumber pengetahuan. 

Di sisi lainnya, pengambil kebijakan kita masih memunggungi buku atau dokumen bahan bacaan lain sebagai sumber pengetahuan dan kebijakannya. Lihat saja, disperitas ketersediaan dan kebutuhan perpustakaan kita. Publikasi riset Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Indeks Alibaca) 2018 oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud masih memperlihatkan disparitas yang cukup menganga. Ketersediaan perpustakaan umum di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, memang telah mencapai lebih dari 90 persen. Namun, itu belum menjamin kebutuhan bacaan masyarakat di pelosok. Lebih-lebih, lokasi perpustakaan umum daerah terletak di pusat kota. Sedangkan, ketersediaan perpustakaan kecamatan baru terpenuhi delapan persen, dan perpustakaan desa yang baru terpenuhi 26 persen dari rasio kebutuhan.

Begitu pula, keberadaan toko buku juga masih tergolong sedikit dan tidak merata. Jaringan toko buku Gramedia, misalnya, baru sekitar 113 toko. Jaringan toko buku lainnya, jauh lebih sedikit lagi jumlahnya. Toko-toko buku tersebut umumnya juga terletak di kota besar atau setidaknya di ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten. Karenanya, akses masyarakat di pelosok tidak terwadahi. 

Padahal, sebagaimana dikatakan Muhsin Kalida dan Moh. Mursyid, dalam bukunya “Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri,” menulis dan membaca menjadi kriteria kemajuan bangsa. Menurutnya, banyak kemajuan bangsa telah punah, tidak lagi dikenali lantaran tidak ada literatur (dalam tulisan) yang ditemukan. Sedangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lepas dari aktivitas menulis.

Mari kita menginsyafinya. Lewat aktivitas membaca dan menulislah, kita sedang menginvestasikan pembangunan sumber daya manusia yang kelak menjadi penopang kemajuan peradaban. Mendidik diri kita sebagai manusia untuk memiliki tanggung jawab, sekaligus mengekspresikan kemerdekan dengan daya kreativitas. Lebih jauh, mengukir jejak kemanusiannya, bahkan menyambungkan jalan pikirannya menuju masa depan. 

Melalui aktivitas menulis pula, manusia sedang menyimpan memori (ide, gagasan, dan peristiwa) sekaligus menyambungkan imajinasi di masa depan. Sebab, ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak pernah mati, ia sedang memperpanjang umurnya. Fisiknya bisa jadi terkubur ke dalam liat lahat, namun tidak dengan pikirannya.

Layaknya orang-orang besar, keberhasilannya pun terlihat pada rekam jejak tulisannya. Sebut saja, Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, HOS Tjokroaminoto, Tirto Adhi Soerjo, Soerawardi, Kartini, dan sederet tokoh lainnya, yang menulis tentang depan Indonesia. Semua telah tiada, namun semua rancang bangun pikiran dan cita-cita masih kokoh sebagai khasanah pengetahuan semua anak zaman.

Pikiran itu merajut kita untuk memiliki kesamaan visi tentang Indonesia masa depan. Bahkan, melanjutkan cita-cita mulia anak zaman itu. Meyakinkan diri, bahwa masa depan adalah sebuah asa yang harus diwujudkan dengan spirit berkarya. Sebuah cita-cita sebagai anak bangsa yang bersandar pada pengetahuan, budaya, dan kebijaksanaan untuk diukir menjadi jejak langkah di bumi manusia.

Menulis pun menjadi penawar manusia menjaga fitrahnya sebagai makhluk terbaik. Psikolog dari Universitas Texas, Amerika Serikat, Profesor James W Pennebaker mengutarakan, beberapa manfaat dalam studinya. Menurutnya ada beberapa manfaat menulis. Pertama, menulis menjernihkan pikiran. Saat orang mengalami masalah dan menuliskannya, dapat berdampak positif untuk menjernihkan pikirannya, sehingga akan lebih mudah menyelesaikan masalah tersebut. Dengan kata lain, menulis menjadi terapi.

Kedua, menulis dapat mengatasi trauma. Orang yang gemar menulis akan lebih mudah mengelola traumanya untuk diatasi dengan menuliskannya. Sementara, seorang yang tidak menuliskan traumanya, lebih rentan dan tidak sembuh dari trauma tersebut.  Ketiga, menulis akan membantu mendapatkan dan mengingat informasi. Belajar dengan menulis akan membuat ingatan kita jauh lebih tajam. Keempat, menulis dapat membantu menyelesaikan masalah. Menuliskan masalah yang dihadapi akan membuat fokus terhadap masalah itu daripada hanya dipikirkan.

Karenanya, kegiatan penghimpunan ide dengan menulis akan melahirkan karya yang akan terus dihimpun, dibaca, diaplikasikan serta dikoreksi oleh penerusnya. Dari kesadaran pengetahuan dan karya (tulis) itulah, masa depan akan hadir dari kita, oleh kita dan untuk kita. Karena masa depan adalah hasil perwujudan asa kita bersama sebagai anak bangsa.

Rasanya, terlalu banyak sudah alasan untuk kita menulis. Selayaknya banyak hal yang kita bisa tulis dari pengetahuan yang kita dapatkan dari membaca. Keduanya seperti dua sisi mata uang koin yang tidak bisa dipisahkan. Dengan membaca orang memiliki banyak pengetahuan yang membuka cakrawala berfikirnya. 

Pepatah menyebut, dengan membaca menjadikan orang bijaksana. Sedangkan menulis seseorang dapat menyalurkan ide dan kreativitasnya kepada orang lain. Begitu juga dengan perumapaan yang disampaikan ulama kenamaan, Imam Syafii. Ia menyebut, ilmu pengetahuan ibarat sebuah binatang buruan, dan tulisan adalah pengikatnya. Maka ikatlah ilmu itu dengan tulisan, karena menulis maka aku ada.

Penulis: Ken Supriyono (Koordinator Journalist Lecture)

Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Menulis: Menyimpan Memori, Menyambung Imajinasi
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top