Kamis, 19 September 2019 |
News Room - Peristiwa - Sosok

Mengenal Sosok Mbah Moen yang Meninggal Dunia Saat Ibadah Haji di Mekah

Selasa, 06 Agt 2019 | 13:01 WIB Dibaca: 212 Pengunjung

KH Maimun Zubair atau Mbah Moen. [net]*

[NEWSmedia] - Tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Maimun Zubair dikabarkan meninggal dunia saat melakukan rangkaian ibadah haji di Mekan pada Selasa (6/8/2019).

Kabar meninggalnya Mbah Maimun kemudian dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani.

"Iya, saya mendapat kabar dari Mekkah," ucap Arsul Sani.

Ia melanjutkan, kabar itu didapat langsung dari putra Mbah Maimun, yaitu Taj Yasin yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah.

"Dikonfirmasi putra beliau, Gus Yasin, Wagub Jateng," kata Arsul.

Maimun Zubair atau Mbah Moen adalah salah satu tokoh sepuh di PPP yang menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah.

Saat ini dia dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah dan Mustasyar PBNU.

Dikutip dari laman nu.or.id, Mbah Moen merupakan seorang alim, faqih sekaligus muharrik (penggerak).

Ia juga merupakan salah satu tokoh sepuh di Partai Persatuan Pembangunan, dan dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Dengan kedalaman ilmu dan kharismanya, Mbah Maimun Zubair diangkat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Ia lahir pada 28 Oktober 1928, di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dan putra dari Kiai Zubair.

Ayahnya seorang alim dan faqih yang merupakan murid dari Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Dengan latar belakang orangtuanya, Mbah Maimun kemudian memiliki basis pendidikan agama yang sangat kuat.

Ia kerap menjadi rujukan ulama Indonesia dalam bidang fiqh karena menguasai secara mendalam ilmu fiqh dan ushul fiqh.

Mbah Maimun pernah belajar mengaji di Pesantren Lirboyo, Kediri, di bawah bimbingan Kiai Abdul Karim.

Saat berguru di Lirboyo, ia juga mengaji kepada Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki.

Mbah Maimun merupakan kawan dekat dari Kiai Sahal Mahfudh, yang sama-sama santri kelana di pesantren-pesantren Jawa, sekaligus mendalami ilmu di tanah Hijaz.

Belajar mengaji ke Mekah

Mbah Maimun pernah belajar mengaji hingga ke Mekah saat berusia 21 tahun.

Ia berada di bawah bimbingan Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan beberapa ulama lainnya.

Selain itu, Mbah Maimun juga mengaji ke beberapa ulama di Jawa.

Para ulama itu di antaranya Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), dan Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban).

Mbah Maimun juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri seperti kitab berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun.

Setelah kembali dari Mekah, ia mengabdikan diri untuk mengajar di Tanah Air.

Mbah Maimun mulai mengembangkan Pesantren al-Anwar Sarang pada 1965.

Pesantren ini menjadi rujukan santri untuk belajar kitab kuning dan mempelajari turats secara komprehensif.

Di dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun.

Ia juga pernah menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah.

Dalam beberapa kesempatan, ia kerap mengingatkan kepada rakyat Indonesia akan pentingnya menjunjung dan menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Menurut Mbah Maimun, dalam setiap perbedaan ada titik-titik kebersamaan.

Agama mengajarkan perbedaan tetapi ada titik persamaan, yaitu seluruh agama mengajarkan kebaikan.

“Perbedaan tak perlu dibesar-besarkan sehingga kita bisa hidup rukun," kata Mbah Moen seperti dilansir Majalah Nahdlatul Ulama AULA edisi November 2016.  [kps ]

Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Mengenal Sosok Mbah Moen yang Meninggal Dunia Saat Ibadah Haji di Mekah

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top