Kamis, 15 November 2018 |
Kesehatan - News Gallery

Mengenal Gangguan Dekompresi yang Menyebabkan Relawan Lion Air Meninggal Dunia

Minggu, 04 Nov 2018 | 00:04 WIB Dibaca: 202 Pengunjung

Foto ilustrasi

[NEWSmedia] - Relawan Syachrul Anto, yang mencari korban Lion Air JT610 meninggal dunia akibat dekompresi. Gangguan ini sangat umum dialami penyelam akibat perubahan tekanan udara.

Jika belum tahu dengan gangguan tersebut, dekompresi atau dikenal DCS dalam dunia medis, merupakan istilah gangguan pengurangan tekanan ambient yang mengelilingi tubuh. Atau bisa juga kondisi emboli arteri mengalami gangguan.

DCS diduga berasal dari gelembung-gelembung yang tumbuh di jaringan dan menyebabkan kerusakan lokal. Ada gelembung memasuki sirkulasi paru-paru, yang menyebabkan kerusakan jaringan. Gangguan tersebut memblokir aliran darah pada tingkat pembuluh darah kecil.

Ternyata gangguan dekompresi tak cuma mempengaruhi penyelam scuba, tetapi penerbang, astronot dan pramugari sangat rentan mengalami gangguan ini. Faktor risiko utamanya yakni terjadi pengurangan tekanan ambien.

Sementara pada penyelam yang memasuki area kedalaman air atau kondisinya air sangat dingin, rentan juga mengalami gangguan dekompresi. Selain itu, faktor-faktor lain dianggap meningkatkan risiko gangguan ini adalah obesitas, dehidrasi, serta orang dengan riwayat penyakit paru.

Dalam beberapa kasus, dekompresi bisa mengancam nyawa, seperti yang dialami oleh relawan pencari korban pesawat yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat itu.

Padahal selama menyelam, jaringan tubuh menyerap nitrogen dari gas pernapasan sebanding dengan tekanan sekitarnya. Jika tekanan berkurang terlalu cepat, nitrogen keluar dari larutan dan membentuk gelembung di jaringan dan aliran darah.

Gelembung yang terbentuk di dalam atau di dekat sendi adalah penyebab rasa sakit sendi. Ketika tingkat gelembung tinggi terjadi, reaksi kompleks dapat terjadi di dalam tubuh, biasanya di sumsum tulang belakang atau otak.

Penderitanya mendadak mengalami mati rasa, kelumpuhan dan gangguan fungsi serebral yang lebih tinggi dapat terjadi. Kemudian memasuki aliran darah vena, gejala kongesti di paru dan syok sirkulasi dapat terjadi.

Adapun gejala lainnya ialah kelelahan yang tidak biasa, kulit gatal, nyeri pada persendian atau otot lengan, kaki atau badan. Disertai pula tanda-tanda pusing, vertigo, dan telinga bergetar. Malahan bisa juga sesak napas, amnesia, batuk berdarah, hingga tidak sadarkan diri.

Gejala tersebut muncul dalam 15 menit hingga 12 jam setelah muncul ke permukaan. Tetapi dalam kasus yang parah, gejala dapat muncul sebelum muncul ke permukaan atau segera setelahnya.

Kejadian gejala yang tertunda jarang terjadi, tetapi dapat saja dialami pasien. Terutama jika perjalanan udara atau gangguan emboli itu langsung mengikuti menyelam. [okz]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

LAINNYA

Kenali 10 Tanda Gagal Ginjal Kronis pada Anak
Kamis, 15 Nov 2018 | 06:31 WIB
Kenali 10 Tanda Gagal Ginjal Kronis pada Anak
Cara Menghilangkan Kudis Dengan Bahan-Bahan Alami
Selasa, 13 Nov 2018 | 07:01 WIB
Cara Menghilangkan Kudis Dengan Bahan-Bahan Alami

KOMENTAR

Mengenal Gangguan Dekompresi yang Menyebabkan Relawan Lion Air Meninggal Dunia
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top