Sabtu, 25 November 2017 |
Kesehatan

Melawan Malapeteka HIV-AIDS di Indonesia

Jumat, 02 Des 2016 | 14:04 WIB Dibaca: 575 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Tidak peduli darimana pun sudut pandang Anda, HIV-AIDS merupakan penyakit paling ditakuti di dunia. Tim dokter yang mendeteksi penyakit ini pertama kali pada 1981, mungkin tak menyadari virus bernama lengkap Human Immunodeficiency Virus and Acquired Immune Deficiency Syndrome ini menjadi epidemi di masa depan.

Orang dengan HIV-AIDS (ODHA), selama ini, masih terpinggirkan. Alih-alih mendapat empati, mereka kerap dianggap 'sampah' hingga sebagian warga memilih mengucilkannya. 

Kondisi itu pula yang menyebabkan ODHA enggan memeriksakan diri lantaran malu dan khawatir dikucilkan. Sehingga wajar apabila masyarakat menganggap HIV-AIDS sebagai penyakit kutukan.

Sekretaris Umum Yayasan AIDS Indonesia (YAIDS), Dr Sarsanto mengakui, penyakit HV-AIDS seperti menjadi momok bagi masyarakat, terlebih banyak penyebaran virus mematikan. "Di Indonesia masih belum tahu berapa banyak angka HIV, kemarin angka 40.000 hanya puncak es saja," ujarnya di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (1/12).

Menurutnya, selama ini, masyarakat umum masih memandang secara stigmanisasi dan diskriminasi terhadap penderita HIV-AIDS, sehingga penderitanya pun masih takut untuk memeriksakan dirinya. Untuk mengurangi stigma masyarakat terhadap ODHA, pihaknya terus berupaya menanggulangi penyakit itu dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya merangkul penderita HIV-AIDS agar tidak terpinggirkan.

"HIV-AIDS hanya dapat tertular melalui hubungan seksual, jalur suntik, transfusi darah, dan perinatal. Kami sedang menggalakan untuk menghilangkan stigma HIV-AIDS, jangan sampai dikucilkan. Karena, penderita tidak mungkin tinggal di rumah sakit tetapi harus dikembalikan ke keluarganya," ungkapnya.

Dr Sarsanto juga berpesan agar masyarakat tidak perlu takut dengan orang yang menderita HIV-AIDS atau takut untuk memeriksakan diri ke klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang sudah ada di rumah sakit dan puskesmas. Menurutnya, mereka sangat memerlukan dorongan dan semangat hidup. Akibat dikucilkan, mereka kerap tidak mendapat pelayanan kesehatan yang maksimal bahkan berdampak pada perkembangan jiwanya. 

Padahal, sikap tersebut justru menjadi penghalang utama bagi upaya pencegahan dampak buruk infeksi HIV. "Sebenarnya, selama ini, lingkungan mau menerima (penderita HIV-AIDS). Namun, selama ini, keluarga (penderita HIV-AIDS) menolak atau menyembunyikan keluarganya. Itulah yang bikin stigma bukan lingkungan tetapi keluarga itu sendiri contoh tidak boleh makan sama-sama nanti ketularan. Padahal (penderita HIV-AIDS) bisa produktif," ujar dia.[rpk]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

LAINNYA

Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Gemuk
Sabtu, 25 Nov 2017 | 06:31 WIB
Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Gemuk
Rajin Berjemur, Cara Alami Cegah Penyakit Rematik
Sabtu, 25 Nov 2017 | 01:02 WIB
Rajin Berjemur, Cara Alami Cegah Penyakit Rematik
Tips Ramuan Kunyit untuk Membersihkan Racun Tubuh
Jumat, 24 Nov 2017 | 09:48 WIB
Tips Ramuan Kunyit untuk Membersihkan Racun Tubuh

KOMENTAR

Melawan Malapeteka HIV-AIDS di Indonesia

BERITA TERKAIT

Top