Rabu, 12 Agustus 2020 |
News Room - Ekonomi

Masih Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Kembali Buka Suara dengan Rumus!

Sabtu, 04 Jul 2020 | 14:37 WIB Dibaca: 273 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Lonjakan tagihan listrik kembali terjadi di bulan Juli 2020. Bahkan, banyak yang melaporkan kalau tagihannya naik tidak masuk akal.

Terkait hal tersebut, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus mengatakan bahwa tidak ada kenaikan tarif dan subsidi silang. Pasalnya, kenaikan tersebut berkaitan dengan adanya penambahan dari sisa relaksasi pada bulan sebelumnya.

Mengutip keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (3/7/2020), meski demikian PLN akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kasus yang terjadi. Namun, PLN memberikan penjelasan sementara akan kenaikan tersebut.

Pihak PLN mengatakan, jika dilihat dari historis pemakaian pelanggan sebelumnya, kemungkinan besar kenaikan karena sisa cicilan dari tagihan bulan lalu yang memang belum terbayarkan. Seperti diketahui bahwa pada tagihan bulan juni kemarin, demi melindungi konsumen dari kenaikan tagihan listrik akibat adanya perubahan prilaku konsumsi listrik selama PSBB.

PLN memberikan solusi melalui kebijakan relaksasi, skema ini menggunakan pola 40% dari selisih tagihan bulan sebelumnya saat menggunakan perhitungan rata-rata pemakaian 3 bulan. Kemudian 60% sisanya dibayarkan dengan cara dicicil pada tiga bulan selanjutnya yakni Juli, Agustus dan September.

"Masing-masing 20 persen dari selisih tagihan yang belum dibayarkan sebelumnya," kutip keterangan tersebut.

Ada pun beberapa penjelasan terkait kenaikan di beberapa pelanggan, dirinya memberikan gambaran sebagai berikut:

1. Pelanggan IDPel 54660136xxxx a.n. XY. Karena COVID-19, bulan April (Rek Mei20) dibaca rata-rata kWhnya 3 bulan terakhir (82 kWh + 79 kWh + 93 kWh) dibagi 3 = 84 kWh atau sebesar Rp113.568

2. Bulan Mei dibaca petugas langsung di lokasi pelanggan dengan pemakaian naik sebesar 373 Kwh, sehingga tagihan melonjak dan seharusnya yg mesti dibayar adalah sebesar = Rp504.296. Naik sebesar Rp 390.728 dari tagihan bulan Mei atau naik 344%.

3. Pelanggan tersebut pada tagihan Juni memperoleh relaksasi sebesar 40%  (Rp390.728 x 40%)  = Rp156.291. Sehingga tagihan pelanggan hanya sebesar Rp113.568+Rp 156.291 = Rp 269.859.

Sisa 60% akan ditambahkan ke tagihan bulan Juli, Agust dan Sept masing-masing sebesar 20% atau Rp78.146 setiap bulannya.

4. Bulan Juni petugas tetap membaca di lokasi pelanggan dan tercatat pemakaian pelanggan sebesar 208 Kwh (masih lebih besar dibanding sebelum ada Covid-19 bulan Maret dan bulan sebelumnya), dengan tagihan sesungguhnya sebesar 208 Kwh x Rp1.352/kWh = Rp281.216 . Namun ada tambahan cicilan relaksasi sehingga tagihan Juli menjadi Rp281.216 + Rp78.146 = Rp359.362.

5. Jika ditambahkan dengan PPJ sebesar 3% dari tagihan sebelum penambahan relaksasi (3% x Rp281.216 = 8.436), maka Tagihan total sebesar Rp 367.798,-

Besaran PPJ tiap daerah berbeda tergantung penetapan Pemda setempat. Historis pemakaian, tagihan dan fotobaca meter bulan Juni pelanggan yang bersangkutan sudah sesuai dengan angka stand di meter lokasi pelanggan. [okz]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Masih Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Kembali Buka Suara dengan Rumus!
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top