Kamis, 09 Juli 2020 |
Pariwisata - News Gallery

Keunikan Kampung Wisata Primitif di Banyuwangi

Selasa, 23 Jan 2018 | 16:15 WIB Dibaca: 2426 Pengunjung

Kampung wisata primitif, Banyuwangi.*

[NEWSmedia] - Sejumlah destinasi wisata baru terus bermunculan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.  Upaya pengembangan objek wisata baru tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, namun masyarakat yang sadar akan potensi wisata terus berinovasi untuk memunculkan ide kreatif dengan mengelola sumber daya alam di sekitar tempat tinggalnya.

Warga Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, di Kabupaten Banyuwangi menyulap sebuah kawasan menjadi destinasi wisata Kampung Primitif yang mengandalkan potensi alam dan menjadi salah satu ikon unggulan desa di selatan kabupaten setempat. Kampung Primitif merupakan singkatan dari kata Prima dan Inovatif.

Gagasan ide tersebut muncul dari anak muda Desa Purwodadi guna mengembangkan perekonomian masyarakat sekitar dengan mengembangkan potensi alam yang berada di desanya. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sidodadi Subandi Winoto mengatakan anak-anak muda di desa memiliki bakat di bidang taman dan ide kreatif, sehingga untuk mengekspresikan keduanya dibuat sebuah kampung yang identik dengan kehidupan pedalaman atau prasejarah.

"Ide atau gagasan awal kampung primitif lahir dari kreativitas pemuda, sehingga kampung primitif itu merupakan wadah dan ruang ekspresi bagi kami untuk mengembangkan potensi alam yang ada di Desa Purwodadi," katanya.

Menurutnya, masyarakat desa kagum terhadap orang primitif karena antara hati dan perkataannya masih satu, sehingga rasa persatuan, gotong royong, dan perdamaiannya patut dicontoh.

Dalam destinasi wisata Kampung Primitif tersebut juga dikenalkan budaya-budaya Nusantara dengan berbagai pernak-pernik yang bernuansa kehidupan primitif. Misalnya, rumah berbentuk bulat dengan dinding kayu yang beratapkan jerami dan sejumlah kursi yang terbuat dari kayu.

Akses cukup mudah

Untuk menuju kawasan wisata Kampung primitif tidaklah sulit karena lokasinya tidak jauh dari Kantor Desa Purwodadi dan saat masuk ke kawasan tersebut, pengunjung wajib menitipkan kendaraannya di lokasi yang disediakan.

Wisatawan harus berjalan kaki beberapa meter di bagian tepi sungai Talang dan suasana Kampung Primitif masih alami karena lokasinya berada di tengah kebun dengan luas sekitar 1 hektare.

Saat memasuki objek wisata itu, wisatawan akan disambut dengan tarian anak-anak dan pemuda yang mengenakan dandanan primitif seperti Suku Dayak yang masih dijumpai di sejumlah pedalaman daerah Kalimantan.

Suara kincir air yang berada di sekitar lokasi seolah menyambut setiap wisatawan yang datang, bahkan tidak jarang beberapa pengunjung memilih duduk-duduk sambil menikmati alam di bawah rindangnya pohon-pohon besar dengan udaranya sangat sejuk.

 

Beberapa warga dan anak-anak yang berdandan ala suku pedalaman juga melakukan sejumlah aktivitas masyarakat primitif, seperti memasak dengan menggunakan kayu bakar dan bermain di sungai untuk mencari ikan.

Dengan mengenakan baju ala Suku Dayak dan wajah yang digambar sesuai dengan adat suku pedalaman, serta ditambah lagi aksesoris penutup kepala dan koteka seakan membuat wisatawan berada di kawasan pedalaman yang sangat primitif.

Wisata kampung primitif tersebut dilengkapi dengan denah wisata, agar para wisatawan yang berkunjung dapat menikmati wahana, serta berkeliling sepuasnya karena keasrian alam membuat suasana semakin sejuk dan betah untuk berlama-lama di sana.

Selain itu, di kampung primitif juga terdapat sungai yang di atasnya terdapat kayu untuk tempat bermain warga kampung primitif, sehingga semakin melengkapi keunikan berbagai kegiatan yang dilakukan warga ala suku pedalaman tersebut.

Pengelola wisata juga tidak menarik tiket masuk kepada wisatawan yang berkunjung ke Kampung Primitif, namun biasanya wisatawan memberikan uang seikhlasnya untuk pengembangan objek wisata yang dikelola masyarakat Desa Purwodadi itu.

Meski belum dibuka secara resmi, destinasi wisata baru itu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai kota apalagi pada libur akhir pekan, Sabtu-Ahad, sehingga kampung primitif juga terus berbenah demi memberikan kenyamanan kepada pengunjung.

Salah seorang wisatawan Rini Puspita mengaku senang berkunjung ke Kampung Primitif di Desa Purwodadi itu karena selama ini melihat suku adat pedalaman hanya di layar televisi, sehingga keluarganya ingin melihat lebih nyata bagaimana orang pedalaman hidup.

Awalnya ia bersama suami dan dua anaknya penasaran dengan ramainya perbincangan media sosial tentang kampung primitif tersebut, sehingga saat akhir pekan memang sudah dijadwalkan untuk berkunjung ke destinasi wisata baru di Kabupaten Banyuwangi.

Saat berada di sana, perempuan berhijab itu sangat betah untuk berlama-lama karena suasananya sangat asri dan sejuk, serta dapat memberikan edukasi kepada anak-anaknya tentang kehidupan suku adat pedalaman yang menghargai lingkungan dan alam.

Nah, anda penasaran dengan keunikan Kampung Primitif dengan berbagai kegiatan ala suku pedalaman di Kabupaten Banyuwangi, maka destinasi wisata tersebut bisa menjadi salah satu alternatif bagi liburan anda bersama keluarga tercinta.

Dongkrak Kunjungan Wistawan

Munculnya sejumlah objek wisata baru di Kabupaten Banyuwangi berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke kabupaten yang berjuluk Sunrise of Java tersebut, seperti yang disampaikan oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda.

"Selain mengunjungi destinasi wisata unggulan, sejumlah wisatawan juga mengunjungi lokasi wisata baru, seperti Kampung Primitif di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, itu," katanya di Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi destinasi wisata baru di Kabupaten Banyuwangi yang tidak kalah menariknya seperti wisata alam Green Gumuk Candi Songgon dan Kampung Primitif yang mulai jadi idola wisatawan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, lanjut dia, akan melengkapi Kampung Primitif dengan menghadirkan suku Osing di sana, sehingga wisatawan yang akan ke Pulau Merah bisa mampir di destiasi wisata ala suku adat pedalaman tersebut.

Wisatawan yang berkunjung ke ujung timur Pulau Jawa tersebut tidak hanya didominasi oleh wisawatan domestik, namun wisatawan mancanegara pun banyak yang singgah ke Banyuwangi dengan pilihan destinasi wisata alam seperti Gunung Ijen dan Pantai Sukamade.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mengklaim kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik telah melampaui target dan berdasarkan data hingga akhir November 2017 tercatat jumlah wisatawan mancanegara yang berlibur di Banyuwangi mencapai 75.000, padahal targetnya sebesar 45.000 wisatawan, dengan kunjungan terbanyak ke Gunung Ijen.

Sedangkan jumlah wisatawan domestik ke Banyuwangi mencapai 2,7 juta wisatawan dari target yang ditetapkan sebanyak 2,3 juta pengunjung, sehingga mengalami peningkatan 0,4 juta pengunjung.

Pihak Kementerian Pariwisata juga sempat mengunjungi Kampung Primitif pada awal Desember 2017 karena ingin melihat secara langsung wisata yang mulai banyak dikunjungi wisatawan tersebut.

Mereka ingin melihat lebih dekat tentang destinasi wisata yang dikembangkan oleh masyarakat dengan ide kreatif dan tanpa menunggu bantuan karena Kampung Primitif dikelola murni oleh masyarakat dengan swadaya.

Bahkan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan Kabupaten Banyuwangi bisa menjadi tujuan wisata dunia karena dinilai telah memiliki daya dukung pariwisata yang memadai dan hal tersebut disampaikan

Menurutnya Banyuwangi memiliki semua potensi yang membuat kabupaten ini bisa menjadi wisata dunia seperti Kawah Ijen yang terkenal dengan "blue fire" yang menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara dan hanya ada dua di dunia. [rpk]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Keunikan Kampung Wisata Primitif di Banyuwangi
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top