Sabtu, 23 Januari 2021 |
News Room - Ekonomi

Kenaikan Harga Telur Bukan Karena Penurunan Produksi

Rabu, 25 Jul 2018 | 07:02 WIB Dibaca: 497 Pengunjung

Pekerja mengumpulkan telur dari peternakan ayam.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Harga telur dan daging ayam di pasar tradisional masih belum turun dalam beberapa pekan terakhir. Harga terus masih di kisaran Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram (kg).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kenaikan harga telur di pasar tradisional ini lebih diakibatkan karena rantai pasokan yang terlalu panjang. Ia menampik alasan bahwa kenaikan harga telur ini lebih disebabkan lemahnya produksi.

Menurutnya, mustahil produksi melemah jika keduanya masih bisa diperdagangkan ke luar negeri.

"Gimana produksi kurang kalau kita sudah ekspor. Ini soal rantai pasoknya. Kami sudah sepakat kemarin harga telur Rp 18 ribu (per kg). Di ujung itu Rp 30 ribu (per kg). Artinya, ada kenaikan 60 persen, harusnya 20 persen saja," papar dia di Jakarta, Selasa (24/7/2018).

Untuk menjaga rantai pasok ini, Kementan akan coba mengirimkan hasil produksi telur dan daging ayam yang berlebih ke luar negeri. Begitu pula sebaliknya, tingkat ekspor akan dikurangi jika harga di dalam negeri meningkat.

"Tinggal sekarang cara mengendalikannya. Kalau harga naik dikit maka ekspornya kami turunkan jumlahnya. Atau stok yang ada kami keluarin," jelasnya.

Sebagai solusi permanen, Amran menyarankan, agar rantai pasok telur, ayam, dan seluruh komoditas pangan dapat lebih dikendalikan, yakni dengan membentuk Satuan Petugas (Satgas) pangan.

"Memang rantai pasoknya harus kita perbaiki. Semua pangan, bukan ini saja. Kami minta, jangan ada yang mainkan pangan ini. Makanya kita bentuk satgas pangan. Karena kita tahu, permainan di pangan luar biasa," tutur dia. [lpt]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Kenaikan Harga Telur Bukan Karena Penurunan Produksi
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top