Jumat, 10 April 2020 |
Pariwisata - News Gallery

Jejak Benteng Marlborough di Bumi Rafflesia

Sabtu, 23 Sept 2017 | 17:04 WIB Dibaca: 592 Pengunjung

Benteng Marlborough.*

[NEWSmedia] - Mendengar kata Bengkulu, dalam benak terlintas imaji Rafflesia arnoldii. Padma raksasa yang merupakan bunga terbesar di dunia itu tumbuh subur di seantero provinsi ini. 

Bumi Rafflesia, demikian warga setempat menjuluki Bengkulu. Sebab pada 1818, bunga merah bertotol putih ini pertama kali ditemukan di salah satu hutan tropisnya. Namun, bukan hanya habitat bunga ikonik yang bisa dikunjungi di Bengkulu. Provinsi yang terdiri atas satu kota dan sembilan kabupaten ini memiliki banyak kisah dan bangunan bersejarah menarik untuk dijelajah.

Selama 14-18 Mei 2017, saya berkesempatan turut serta dalam kegiatan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) 2017. Perjalanan digagas Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Menginjakkan kaki di Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu, hawa panas menyengat kulit. Sepanjang jalan dari bandara menuju penginapan, kendaraan dengan kode nomor polisi BD melintas di mana-mana.

Persinggahan pertama dari keseluruhan ekspedisi adalah Fort Marlborough di pesisir pantai Tapak Paderi, Kota Bengkulu. Kompleks pertahanan militer ini masih berdiri kokoh sejak dibangun kolonial Inggris pada 1714-1719. Fort Marlborough adalah benteng terbesar yang didirikan Inggris semasa berkuasa di Asia Tenggara. Luasnya 44.100,50 meter persegi, dengan tinggi tembok luar 8,65 meter dan tembok dalam 8,5 meter.

Fort Marlborough menggantikan fungsi Benteng York yang sebelumnya dibangun pada 1685. Sebab, lokasi York yang dikelilingi rawa menyebabkan tentara Inggris terjangkit penyakit menular disentri, kolera, dan malaria. Penamaan benteng dimaksudkan untuk mengenang komandan militer Inggris John Churcill, yang bergelar The First Duke of Marlborough. Proses pembangunannya ada di bawah kepemimpinan gubernur jenderal Yoseph Collet.

Konstruksi Benteng Marlborough kental dengan corak arsitektur Inggris abad ke-20. Bentuk keseluruhannya menyerupai penampang tubuh kura-kura dengan bangunan depan berbentuk kepala dan empat kaki di sisi-sisi lain.

Kuasa atas Fort Marlborough sempat berpindah dari Inggris ke Belanda yang ditandai dengan Traktat London pada 17 Maret 1824. Lantas, era 1942-1945, benteng dikuasai Jepang yang berfungsi sebagai tempat pengintai.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Benteng Marlborough digunakan TNI AD (1950-1983) dan pernah menjadi markas Kodim 0407. Setelahnya, pemerintah menetapkan benteng sebagai cagar budaya tepat pada 2004. "Keberadaan Benteng Marlborough di Bengkulu sangat penting, sebagai simbol jatuhnya kekuatan dan kekuasaan kolonialisme," ujar sejarawan Bengkulu Ade Hapriwijaya, salah satu narasumber Lasenas.

Dia menginformasikan, lokasi sekitar Benteng Marlborough adalah kota tua Bengkulu. Sebelah barat benteng, terdapat Jalan Ahmad Yani dan Kampung Cina yang merupakan permukiman warga Tionghoa.

Bukan cuma jejak era kolonialisme, kebudayaan prasejarah pun terpeta di Bumi Bengkulu. Terbukti dari peninggalan arkeologis berupa menhir dan dolmen, juga perkampungan megalit di situs Padang Sepan Bengkulu Utara. [rpk]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

LAINNYA

Destinasi Solo Traveling Terbaik di Tahun 2020
Jumat, 17 Jan 2020 | 18:15 WIB
Destinasi Solo Traveling Terbaik di Tahun 2020
Situs Banten Girang Perlu Perhatian
Kamis, 26 Des 2019 | 17:21 WIB
Situs Banten Girang Perlu Perhatian

KOMENTAR

Jejak Benteng Marlborough di Bumi Rafflesia
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top