Minggu, 09 Agustus 2020 |
News Room - Highlight - News Citizen

Islam Politik Ambyar

Senin, 16 Des 2019 | 12:20 WIB Dibaca: 15153 Pengunjung

Mang Durahim.*

Istilah ambyar sedang trend dan viral, dimulai dari lagunya Dedi Kempot sang penyanyi campur sari dari Solo. Ambyar dalam tafsir syairnya Dedi Kempot kira-kira sesuatu menggambarkan perasaan berkeping penuh sepihan bertebaran tidak karuan akibat perasaan tak sampai sebagaimana tema konsernya The Lord Of Loro Ati. 

Sementara definisi dan arti kata ambyar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [ KBBI ] adalah bercerai-berai, berpisah-pisah. Arti lainnya dari kata ambyar adalah pikiran yang tidak terkonsentrasi lagi  alias buyar.

Menggunakan terminologi ambyar dalam prilaku Islam politik sungguh menarik untuk menjadi bahan diskursus setelah perjalanan Islam politik mengalami kekalahan berkeping-keping, bagai serpihan tak berbentuk dalam konfigurasi politik merebut tahta di bangsa ini.

Kekalahan demi kekalahan Islam politik dari sejarah berdirinya bangsa sampai saat ini, mestinya menjadi pelajaran bagi kelompok Islam politik bahwa menyeret Islam dalam politik kekuasaan sesungguhnya jalan terjal berliku dan nyaris ambyar.

Islam Politik Ambyar ini mengambarkan bagimana Islam politik buyar, pecah dan kalah, serpihan yang  tak pernah mencapai tujuan, istilah kerennya kasih tak sampai alias gagal total.

Kejadian ini terjadi berulang kali bagi Islam politik dalam poses bangsa ini, dimulai dengan dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta sebagaimana pernyataan salah satu tokoh Islam Politik, Mohammad Natsir menyebut Piagam Jakarta sebagai tonggak sejarah bagi tercapainya cita-cita Islam di bumi Indonesia. Sayang, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan.

Ambyar Islam politik itu terjadi di Indonesia untuk menegakkan syariat Islam lewat Piagam Jakarta yang sebelumnya berharap diterapkan oleh tokoh-tokoh Islam Politik, ditengah jalan tokoh- tokoh nasional seperti Soekrano, Hatta, KH. Wahid Hasyim setelah meminta fatwa Khadratus Syeikh Hasyim Asyari memutuskan untuk menghapusnya dengan pertimbangan Indonesia adalah negara majemuk dan dengan menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah mewakili kemajemukan dan sesuai dengan ajaran Islam.

Natsir galau dan menyebut penghapusan tersebut sebagai ultimatum kelompok Kristen, yang tidak saja ditujukan kepada umat Islam, tetapi juga kepada bangsa Indonesia yang baru 24 jam diproklamirkan. Terhadap peristiwa pahit itu, Natsir mengatakan, "Insya Allah umat Islam tidak akan lupa".

Padahal itu bukan karena kelompok kristen tapi kesepakatan tokoh-tokoh bangsa baik Islam maupun non Islam yang menghargai bahwa bangsa ini didirikan oleh semua ragam agama dan tokoh bangsa kala itu sangat  mencintai keragaman bangsa ini. 

Dengan dihapusnya tujuh kata dalam piagam Jakarta yang berbunyi 'Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya' menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Proses inilah menjadi titik awal dari Islam Politik Ambyar itu.

Mungkin saat ini, dendam ideologis politis itu terus diwariskan sampai dengan banyak kelompok mengungkit sejarah itu dengan modifiksi begitu simbolik meggunakan Islam sebagai jargon gerakan Islam Politik, malah justru lebih membabi buta menggunakan Islam untuk politik kekuasaan alih-alih sangat rentan bagi rusaknya citra dan kegungan Islam bila dijual murah dijalanan oleh kelompok Islam politik yang sekarang kadang bermertmorfosis menjadi ragam kelompok yang radikal dan ektrim.

Bagimana tidak merusak citra dan kegungan Islam, jika Islam hanya dijadikan legitimasi bagi kepentingan berpolitik untuk kekuasaan, sementara prilaku politiknya penuh intrik, hoax, fitnah, nyaris kotor, tak segan menggunakan preskusi dan kekersaan. 

Bila diamati lebih dalam apakah model ini tampilan Islam politik, sedikit-sedikit takbir, jihad sambil bawa bendera hitam dengan menuduh lawan politiknya adalah sesat, dzalim dan kafir, padahal semua itu dilakukan bukan atas dasar ajaran Islam tapi sekedar cara untuk menjatuhkan lawan politik, sekaligus menuai simpatik bahwa dia sedang berjuang untuk Islam.

Adakah timbul kepercayaan dari umat terhadap mereka yang seolah-olah berjuang untuk Islam untuk tegaknya hukum Allah di bumi ini, mari kita coba eksplanasi secara detail berdasarkan analisa prilaku politik dan kecendungan pemahaman umat pada kontek ini, sesunggunya siapa saja yang percaya pada model Islam politik ini.

Pertama, kelompok orang yang pemahaman Islamnya baru hijrah menemukan jalan Islam tapi sudah didoktrim dengan politik sara dan kebencian terhadap orang dan kelompok yang berbeda dengan mereka. 

Kelompok ini adalah kerumunan manusia awam secara agama dan politik namun semangatnya beragamanya tinggi, karena memang biasanya baru mengenal atau menemukan sesuatu yang baru itu lebih bangga dan semangat.

Saking semangat Islamnya tinggi sementara pemahaman dan ilmunya masih defisit akhirnya berprilaku beringas ekstrim akibat korban doktrin politik Islam yang kurang tepat, seperti memelihran pemusuhan, kebencian atas nama agama, melawan pemimpin yang sah bahkan mengkafirkan kepada sesama Islam bukan dari kerumunan meraka.

Mereka itu, dalam struktur sosial berada di posisi midle kelas [kelas menengah] secara pendidikan formalnya dan ekonomi, tingal diperkotaan yang poses transformsi kesadaranya dibajak oleh kelompok Islam politik untuk menjadi kader militan mereka melalui kajian, liqo dan sejenisnya. Mereka inilah para pengikut Islam Politik yang terus dipelihara untuk agitasi dan propaganda Islam Politik.

Kedua, kelompok umat yang secara ideologis telah terdidik oleh doktrin-doktrin formalisme Islam dengan segala pengetahuna Islam tekstual dan simbolik dari timur tengah melalui proses belajar pada ajaran wahabi. 

Kelompok ini sangat mudah dipengaruhi agitasi dan propagnda Islam politik, karena irisan dan ajarannya, sama-sama sudah memiliki modal manhaj dan ideologi pemikiran ketika menemukan doktrin politik Islam Indonesia, terjadilah gayung bersambut menjadi kekuatan kelompok baru dalam satu shaf dengan mereka Islam Politik.

Ketiga, kelompok yang sudah lama diproduksi oleh kelompok hidden yang memanfaatkan umat yang waktu itu menjadi  benteng rezim orde baru untuk menjadi kelompok berkedok agama, menjual bela Islam, menegakan syariat Islam dan sikapnya radikal dengan pendekatan kekerasaan dalam menyelasikan masalah. 

Kelompok ini sangat mudah menerima doktrin Islam politik karena merekalah wajah baru Islam politik yang cendrung bahagia merefleksikan harokahnya di jalaan sambil teriak takbir.

Ke empat, kelompok pengusung khilafah yang anti Pancasila dan demokrasi. mereka sudah mapan dalam ideologi dirinya, merek kelompok ideologis yang solid dan militan dalam gerakan politiknya.

Bahwa mereka sekarang sudah dibubarkan oleh pemerintah tapi pemikiran dan gerakanya masih eksis ditengah umat untuk memasarkan ideologi khilafnya dan bertutan menampung doktrin Islam Politik saat ini.

Mereka ini, menerima dotrin islam politik hanya bertautan kepentingan melawan musuh bersama yaitu negara dan pemerintahan. Dibalik itu kelompok ini memiliki agenda sendiri jauh melampui agenda Islam politik yang hanya sekedar untuk tahta tapi mereka lebih dari Tahta dengan gerakan merubah sistem negara.

Kelompok-kelompok ini bersekutu menjadi kekuatan Islam Politik yang momentumnya menggulingkan Ahok dengan membut jargon bela Islam dan membentuk  komunitas monaslimin 212.

Mereka merasa menang tapi realitasnya Islam Politik Ambyar kembali karena seluruh gagasan syariat Islam tak stupun diterapkan di Jakarta

Merekapun dalam petarungan merebut kekuasaan dalam reproduksi kepemimpinan nasional tahun ini,  kekuatan Islam politik kembali mengalami ambyar meneh.

Penulis: Ketua GP Ansor Banten, Ahmad Nuri alias Mang Durahim

Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Islam Politik Ambyar
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top