Sabtu, 07 Desember 2019 |
News Room - Ekonomi

Industri Padat Karya 'Angkat Kaki' dari Banten

Jumat, 22 Nov 2019 | 14:47 WIB Dibaca: 391 Pengunjung

Ilustrasi. [net]*

[NEWSmedia] - Upah yang tinggi menjadi pemicu utama pabrik-pabrik industri padat karya, khususnya alas kaki atau sepatu angkat kaki dari Banten. Misalnya dari Kabupaten/Kota Tangerang ke wilayah lain seperti Jawa Tengah (Jateng). 

Selain persoalan upah tinggi, ada juga persoalan premanisme yang dilakukan oleh oknum ormas. Hal ini juga dirasakan oleh para pengusaha alas kaki yang akhirnya memilih hengkang ke Jateng.

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri Anom mengatakan, ada beberapa modus premanisme di Banten antara lain mulai dari pengelolaan sampah/ limbah sampai rekrutmen tenaga kerja yang dikuasai oleh ormas.

Bahkan menurutnya, ada beberapa kasus tenaga kerja sebelum bekerja di perusahaan alas kaki, harus bayar ke preman.

"Sekarang ormas sudah lebih maju. Mereka minta sekarang bisnis," kata Firman sambil merujuk kasus minimarket di Bekasi beberapa hari yang lalu.

Kepala Bidang Pelayanan Perizinan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten Deden Indrawan mengaku tahu soal relokasi 25 pabrik alas kaki dari media massa.

Penyebabnya memang karena persoalan upah yang tinggi di Banten. Apalagi saat ini Banten lebih banyak penanaman modal asing (PMA) terutama di industri padat modal antara lain kimia dan sebagainya.

Namun, Deden mengaku tak tahu soal keluhan pengusaha alas kaki hengkang antara lain dipicu oleh premanisme di Banten. Ia beralasan PTSP lebih banyak berinteraksi kepada investor yang baru memulai usaha.

"Di Banten memang lebih banyak industri padat modal PMA. Padat karya selain alas kaki ada tekstil dan garmen, dari investor lokal," pungkasnya. [cnbc]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Industri Padat Karya 'Angkat Kaki' dari Banten
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top