Kamis, 26 November 2020 |
News Room - Ekonomi

Harga Gabah Turun, Kesempatan Bulog Serap Dari Petani

Kamis, 09 Feb 2017 | 07:02 WIB Dibaca: 888 Pengunjung

Petani yang sedang mengumpulkan gabah.*

[NEWSmedia] - Harga gabah petani di beberapa sentra padi di Jawa Tengah turun. Kondisi ini terjadi karena curah hujan yang cukup tinggi dan merata di provinsi tersebut. Selain banyak tanaman padi yang rebah, hujan juga membuat pengeringan gabah oleh petani kurang optimal.

Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi, mengatakan harga Gabah Kering Panen (GKP) turun hingga Rp 3.200/kg, atau jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 3.700/kg. Paling banyak terjadi di Kabupaten Sragen.

Menurutnya, saat produksi padi tengah melimpah, namun harganya anjlok lantaran kualitas gabahnya yang turun, seharusnya jadi kesempatan Perum Bulog melakukan penyerapan gabah besar-besaran sekaligus untuk pengendalian harga di petani.

"Harapan kami Bulog bisa melakukan penyerapan saat harga GKP turun jauh dari HPP. Harga yang turun seperti di Sragen ini kan karena hujan, sehingga berpengaruh ke kualitas," kata Agung kepada Dtf, Rabu (8/2/2016).

"Ini juga sudah perjanjian dengan Bulog, agar bisa menyerap gabah saat harganya di bawah HPP yang ditetapkan. Karena Bulog memiliki alat pengering," tambahnya.

Jika kondisi rendahnya harga GKP dibiarkan, hal tersebut akan menggerus pendapatan petani. Di sisi lain, produksi padi yang berlebih ini juga jadi kesempatan Bulog bisa mengisi penuh gudang-gudangnya.

"Kalau tidak segera diserap, pendapatan petani bisa turun. Makanya serapan Bulog harus digiatkan, kalau harga rendah petani nantinya tidak bersemangat lagi menanam padi," jelas Agung.

Sementara itu, Kepala Bulog Divisi Regional Jawa Tengah, Djoni Nur Ashari, mengatakan pihaknya mencoba mengatasi rendahnya harga gabah di petani tersebut dengan menyerap gabah petani lewat harga rafaksi (penyesuaian harga) menurut kualitasnya.

"Tim kita langsung terjun serap gabah petani, tapi pakai harga rafaksi. Harganya disesuaikan dengan kadar air gabahnya serta tingkat kehampaannya. Karena harga harus mengikuti kualitasnya, itu kita coba bantu serap gabah petani," kata Djoni.

Menurutnya, Bulog tak bisa menggunakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jika kadar air dan tingkat kehampaannya tidak sesuai. Yakni kadar air maksimum 25% dan kadar hampa maksimum 10% adalah Rp 3.700/kg di petani.

"Jadi karena kualitasnya turun. Misalnya di beberapa tempat kita temukan kadar airnya 25-30%, dan bulir kehampaannya itu lebih dari 10%. Itu kan tak bisa pakai harga HPP. Sementara kalau pakai HPP mensyaratkan kadar air paling tinggi 25%, dan kehampaan tak boleh lebih dari 10%," jelas Djoni. [Dtf]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Harga Gabah Turun, Kesempatan Bulog Serap Dari Petani
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top