Minggu, 01 November 2020 |
News Room - Ekonomi

Harga Gabah Anjlok, Harusnya Bisa Diantisipasi

Rabu, 22 Feb 2017 | 10:30 WIB Dibaca: 965 Pengunjung

harga gabah anjlok petani merugi.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Harga gabah di tingkat petani anjlok dalam beberapa waktu terakhir. Faktor penyebabnya adalah hujan deras yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. 

Merosotnya harga paling banyak terjadi di sentra-sentra padi di Jawa Tengah. Seperti diketahui, harga gabah kering panen (GKP) yang berlaku normal adalah Rp 3.700/kg. Sekarang yang terjadi bisa mencapai Rp 2.700/kg.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi), Soetarto Alimoeso, mengatakan jatuhnya harga gabah tersebut terjadi karena kualitas gabah yang menurun. Kondisi itu disebabkan karena tingginya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.

"Turunnya harga gabah ini terjadi karena penurunan kualitas padi. Ini disebabkan karena hujan yang cukup lebat dan terus menerus," jelas Soetarto.

Diungkapkannya, seharusnya masalah turunnya harga gabah ini sudah bisa diantisipasi pemerintah. Ini karena hujan yang meninggi, terutama pada Februari, disebabkan faktor La Nina.

"Harusnya ini sudah bisa diantisipasi, karena memang ini sudah diprediksi sejak lama, kita juga pernah ingatkan ke pemerintah. Bahwa karena La Nina, musim tanam maju ke Oktober dan September, otomatis panen akan terjadi di Februari," ujar Soetarto.

"Ini diperparah dengan masih sedikitnya penggilingan yang sudah memiliki pengering. Karena sebagian besar penggilingan masih pakai lantai jemur, ketika hujan turun terus menerus, otomatis tidak bisa dipakai," imbuhnya. 

Menurut dia, harga gabah terjadi murni karena kualitas yang buruk, sehingga sulit untuk diserap oleh Perum Bulog. Solusi jangka pendek, pemerintah bisa menanggung risiko Bulog yang terpaksa harus membeli gabah petani.

"Karena tingkat broken padinya besar, kadar air juga tinggi. Kalau Bulog beli pasti risikonya tinggi, inilah yang seharusnya tidak dibebankan semuanya ke Bulog," jelas Soetarto.

Mantan Dirut Perum Bulog ini menuturkan, untuk solusi jangka panjang pemerintah seharusnya menjalankan program revitalisasi penggilingan padi yang sebagian besar skalanya masih kecil.

"Ini yang perlu dilakukan dengan revitalisasi penggilingan, diberi kemudahan kredit. Termasuk dalam hal ini untuk pengeringan, dengan pengelolaan yang baik," ucap Soetarto.

Seperti diketahui, harga GKG di sejumlah sentra padi seperti di Jawa Tengah mengalami penurunan. Harga gabah petani per 13 Februari 2017 di Kabupaten Rembang tercatat hanya Rp 2.700/kg, Kabupaten Pati Rp 3.800/kg, Kabupaten Grobogan Rp 2.800/kg, Kabupaten Blora Rp 3.100, Kabupaten Jepara Rp 3.000, Kabupaten Sragen Rp 3.500/kg, Kabupaten Demak Rp 2.900/kg. 

Hal yang sama juga terjadi di beberapa sentra padi di Jawa Timur seperti Kabupaten Tuban Rp 3.100/kg, Kabupaten Magetan Rp 3.200/kg, Kabupaten Kediri Rp 3.400/kg, dan Kabupaten Ngawi Rp 3.400/kg. [dtc]

Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Harga Gabah Anjlok, Harusnya Bisa Diantisipasi

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top