Sabtu, 23 Januari 2021 |
News Room - Ekonomi

Harga Daging Sapi Lokal Mahal Akibat Rantai Distribusi Panjang

Selasa, 23 Jan 2018 | 07:02 WIB Dibaca: 799 Pengunjung

Foto ilustrasi

JAKARTA, [NEWSmedia] - Harga daging sapi segar di pasaran konsisten tinggi yaitu berada di kisaran lebih dari Rp 100 ribu per kilogram (kg). Banyak hal yang menyebabkan harga daging sapi segar terus tinggi, salah satunya adalah panjangnya rantai distribusi daging sapi.

Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, daging sapi lokal melewati tujuh hingga sembilan tahapan sebelum sampai di tangan konsumen.

Proses distribusi dimulai dari peternak. Mereka menjual sapi langsung kepada pedagang setempat yang berskala kecil atau melalui tempat penggemukan sapi (feedlot) yang memberi makan sapi secara intensif untuk meningkatkan bobot sapi dan nilai jual.

"Setelah itu, sapi dijual lagi ke pedagang setempat berskala besar dengan menggunakan jasa informan untuk mendapatkan harga pasar yang paling aktual." ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/1/2018).

Proses masih berlanjut, dari pedagang skala besar di daerah sapi dijual lagi ke pedagang regional, yang wilayah dagangnya meliputi beberapa kabupaten, provinsi dan sejumlah pulau kecil.

Tahap selanjutnya sapi kembali dijual ke pedagang yang ada di penampungan ternak (holding groud). Tahapan ini berfungsi sebagai area transit ketika mereka menunggu pedagang grosir dari Rumah Potong Hewan (RPH) untuk memilih hewan ternak yang akan dibeli dan dipotong.

"Lalu daging sapi yang dihasilkan dapat dijual langsung ke pedagang grosir berskala besar di pasar atau melalui tengkulak yang membantu pedagang di RPH untuk mendapatkan pembeli,” lanjut dia.

Tahapan selanjutnya adalah menjual daging sapi ke pedagang grosir berskala kecil. Merekalah yang menjual daging sapi ke pedagang eceran di pasar tradisional atau supermarket, sebelum akhirnya sampai di tangan konsumen.

“Pemerintah memandang solusi untuk memotong rantai distribusi adalah dengan menyerahkan prosesnya ke badan-badan pemerintah. Padahal kalau pemerintah mau menangani semua proses distribusi daging sapi, maka pemerintah juga harus siap menanggung seluruh biaya terkait transportasi,” jelas Hizkia.

Biaya Transportasi Tinggi

Hizkia meneruskan, dalam kondisi seperti ini, proses distribusi daging sapi yang melibatkan pemerintah sebagai pelakunya akan menghabiskan anggaran negara yang tidak sedikit.

Sebagai ilustrasi, dapat dilihat dari proses distribusi daging sapi di Jawa Barat  yang merupakan provinsi dengan tingkat konsumsi daging sapi tinggi dan Jawa Timur  yang merupakan provinsi penghasil daging api terbesar di Indonesia, mengacu pada data Badan Pusat Statistik pada 2017 lalu.

Biaya transportasi untuk distribusi daging sapi di Jawa Barat adalah Rp 1.284, 29 per kg. Sementara itu biaya distribusi daging sapi adalah Rp 445,83 per kg di Jawa Timur.

Hal ini disebabkan adanya jarak yang deka tantara para pelaku di tahap produksi yaitu peternak dengan para pelaku distribusi  yaitu pedagang yang membawanya hingga ke tingkat konsumen di Jawa Timur.

Dengan menggunakan angka ini, lanjut Hizkia, maka dapat diperkirakan rata-rata biaya transportasi rantai distribusi daging sapi di Indonesia adalah Rp 1.004,81 per kg.

Dengan perhitungan kebutuhan nasional yang mencapai 709.540 ton di tahun 2017, maka pemerintah harus menyiapkan uang sebesar Rp 713 miliar atau setara dengan USD 52,8 juta untuk biaya transportasi untuk menjangkau wilayah Indonesia.

“Kami mendorong pemerintah untuk menyederhanakan regulasi dan tahapan terkait rantai distribusi daging sapi. Lebih penting lagi, kita perlu memanfaatkan perdagangan internasional melalui impor. Daging sapi impor memiliki jalur distribusi yang lebih pendek. Harga daging sapi internasional juga lebih murah dari daging sapi lokal,” jelasnya. [lpt]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Harga Daging Sapi Lokal Mahal Akibat Rantai Distribusi Panjang
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top