Sabtu, 24 Agustus 2019 |
News Room - Ekonomi

Harga Ayam di Peternak Anjlok Jadi Rp12.500/Ekor, Ini Penyebab

Selasa, 07 Feb 2017 | 07:03 WIB Dibaca: 1543 Pengunjung

Peternakan Ayam.*

[NEWSmedia] - Harga ayam di kandang yang anjlok hingga Rp 12.500/ekor, jauh di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) di rata-rata Rp 16.000/ekor. Satu ekor ayam siap potong memiliki berat kisaran 1,5 kilogram.

Wimarianto, salah seorang peternak ayam Kabupaten Bogor, bercerita harga ayam sebenarnya sudah sangat fluktuatif sejak 3 tahun belakangan ini. Harga ayam di kandang yang terjun bebas ini diperburuk dengan sulitnya mendapatkan pasokan anakan ayam atau Day Old Chick (DOC).

"Sekarang harga turun, karena sulit bersaing dengan ayam dari kandang milik integrator. Saya punya langganan (pengepul) 10 tahun. Saya biasa jual ke pasar Rp 18.000/ekor, integrator kasih harga lebih murah yakni Rp 17.500/ekor, dia masih ambil ayam ke saya," ucap Toto, sapaan akrabnya, ditemui di peternakan ayam Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Senin (6/2/2017).

"Tapi begitu saya jual ayam Rp 18.000/ekor, kemudian pabrik (integrator) bisa jual Rp 16.500/ekor, kalau melihat kayak begini, pasti langganan saya pindah. Karena dia (pengepul) enggak bisa jual di pasar kalau ada pedagang lain yang jual lebih murah dari pabrik," katanya lagi.

Integrator sendiri merujuk pada perusahaan-perusahaan peternakan unggas yang terintegrasi, mulai dari produksi DOC, pakan ayam, obat, vaksin, sarana produksi ternak, ayam potong, hingga produk olahan ayam.

Toto menampik soal tudingan peternak mandiri yang kalah efisien ketimbang kandang budidaya milik integrator. Selama ini, biaya produksi, terutama pakan, yang diterima peternak mandiri jelas lebih mahal daripada integrator.

"Kita beli pakan dari integrator, harganya sudah dilebihkan sedikit, kadang pula kualitasnya tak sebanding dengan harganya. Saya jamin kita peternak rakyat bisa bersaing dengan integrator, kalau input kita sama. DOC saja kita belinya mahal," ujar Toto.

Saat ini, lanjutnya, sudah banyak peternak mandiri yang gulung tikar lantaran fluktuasi harga ayam. Memilih jadi peternak mitra atau plasma dengan integrator juga bukan pilihan, lantaran beberapa peternak juga punya sering merugi.

Peternak ayam lainnya, Listianto, mengungkapkan hal yang sama. Melimpahnya pasokan ayam dari kandang integrator membuat harga ayam di kandang peternak mandiri anjlok. Di sisi lain, turunnya harga ayam di peternak tak diikuti dengan penyesuaian harga daging ayam potong di pedagang pasar.

"Terpaksa saya jual Rp 12.500/ekor. Karena benar-benar enggak laku. Kalau saya enggak jual ayam saja, ayam saya yang lain enggak bisa makan, uangnya dipakai buat beli pakan lagi. Bandar juga enggak salah, dia pasti nyari untung banyak dengan modal seminimal mungkin. Kalau integrator bisa kasih harga ayam lebih murah, pasti dia beli dari sana," ujar Listianto.

Sementara itu, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, menilai perlu ada regulasi ketat yang mengatur sistem plasma mitra antara integrator dengan peternak mandiri. Menurutnya, sejumlah peternak mengaku dirugikan dari perjanjian mitra dengan integrator.

"Harus ada pola kemitraan yang benar-benar bisa tumbuh bersama, antara peternak dan integrator. Kan aneh ada perusahan integrator besar tahun 2015 bisa laba Rp 1,8 triliun, tapi di sisi lain peternak malah pada bangkrut," pungkas Syarkawi. [Dtf]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Harga Ayam di Peternak Anjlok Jadi Rp12.500/Ekor, Ini Penyebab

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top