Sabtu, 23 Januari 2021 |
Ekonomi - News Gallery

Harga Anjlok, Kemendag Revisi Harga Acuan Telur dan Ayam

Jumat, 28 Sept 2018 | 12:01 WIB Dibaca: 614 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga batas atas dan harga batas bawah telur ayam dan daging ayam demi menjaga keuntungan peternak. Revisi harga acuan ini rata-rata meningkat Rp 1.000 per kilogram (kg).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menetapkan harga batas bawah telur di tingkat peternakan sebesar Rp 18 ribu per kg, sementara batas atasnya adalah Rp 20 ribu per kg.

"Kami akan mengubah Permendagnya supaya Aprindo bisa menyerap telur dari para petenak ini dengam harga beli famgate tidak boleh lebih rendah," katanya usai menggelar Rapat Koordinasi Harga Telur dan Ayam di Auditoriun Kementerian Perdagangan.

Dengan dilakukannya pembelian oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) ini akan diikuti dengan pedagang-pedagang yang lain. Pihaknya akan segera melakukan revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 58 Tahun 2018 Tentang Penetapan Harga Acuan di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Revisi harga ini berlaku mulai 1 Oktober 2018.

Sesuai dengan Permendag Nomor 58 Tahun 2018, harga acuan telur ayam di tingkat peternak sebesar Rp 17 ribu per kg dengan batas atas Rp 19 ribu per kg. Sedangkan untuk harga acuan daging ayam, livebird di tingkat peternak sebesar Rp 17 ribu per kg dengan harga batas atas Rp 19 ribu per kg.

Harga acuan daging ayam pada aturan tersebut juga direvisi. Enggar mengakui, sama seperti telur ayam, harga daging ayam juga mengalami penurunan signifikan sehingga ditetapkan harga //livebird// di tingkat petani Rp 18 ribu per kg dan harga batas atas Rp 20 ribu per kg.

Revisi harga acuan pada dua komoditas tersebut turut berdampak pada harga di tingkat konsumen. "Harga di konsumen untuk telur Rp 23 ribu per kg dan karkas Rp 34 ribu per kg," ujarnya. Sebelumnya, harga acuan telur ayam di tingkat konsumen adalah Rp 22 ribu per kg dan Rp 32 ribu per kg untuk daging karkas.

Enggar, sapaan akrab Menteri Perdagangan menjelaskan, peraturan ini elastis tergantung pada perkembangan kondisi yang terjadi di lapangan. Keputusan mengubah harga acuan dilakukan mengingat harga jual telur dan daging ayam yang jatuh.

Jika tidak disikapi dan mengambil langkah, maka akan menimbulkan persoalan. Peternak berpotensi akan mengambil langkah afkir dini yang pada jangka panjang berdampak pada pasokan telur di masa depan.

Namun demikian, pemerintah berupaya menjaga dampak akibat perubahan harga yang dilakukanm Menurutnya, setiap perubahan harga memberi konsekuensi kenaikan harga jual kepada konsumen yang bisa berdampak inflasi.

"Ini perlu hati-hati, tapi kalau tidak disesuaikan bisa timbul korban bagi para pelaku UMKM yang terancam gulung tikar," kata dia. Jatuhnya harga telur ayam dan daging ayam terjadi karena menurunnya permintan sementara produksi sedang dalam kondisi tinggi.

Keluhan peternak bukan hanya karena harga jual yanh jatuh tapi juga disebabkan tingginya harga pakan yang dipengaruhi jagung.

Pinsar Petelur Nasional Jawa Tengah Suwardi mengatakan, panen jagung tahun ini hanya 60 persen dari target untuk semester satu. Apalagi, kemarau yang terjadi membuat kegagalan panen sampai 50 persen di semester dua ini.

Harga jagung per hari ini sebesar Rp 4.900 per kg. Namun bentuk fisiknya tidak ada. Apalagi, peternak harus berebut dengan industei pakan dalam mendapatkan jagung.

"Bagi kami mau dari Makassar, impor dari Meksiko sama saja yang penting ada jagung," tegas dia.

Hal ini dibenarkan Kepala Satgas Pangan Setyo Wasisto. Pihaknya bersama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) pada 3 hingga 10 September lalu melakukan pengecekan di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Di beberapa gudang terdapat jagung namun paling banyak 850 ton di Sulsel. Hanya saja, jagung tersebut tidak bisa dibawa keluar Sulsel karena untuk memenuhi kebutuhan provinsi itu.

"Ini artinya kondisi jagung tidak ada," kata dia.

Namun diharapkan pada Oktober akan mulai terjadi panen meski sedikit. Menurutnya, produksi jagung akan kembali banyakpada akhir Oktober.

"Tapi masalahnya peternak ini tidak bisa menunggu, ayamnya tidak bisa puasa," katanya. [rpk]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Harga Anjlok, Kemendag Revisi Harga Acuan Telur dan Ayam

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top