Rabu, 22 November 2017 |
News Room

Festival Jurnalistik di Tangsel Diapresiasi

Sabtu, 14 Okt 2017 | 15:32 WIB Dibaca: 255 Pengunjung

Wali Kota Tangsel, Airin Rachmy Diani dan para narasumber yang hadir di acara diskusi dalam rangkaian Festival Jurnalistik Tangsel, Jumat (13/10/2017).*

SERPONG, [NEWSmedia] - Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany mengapresiasi Festival Jurnalitsik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tangsel dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Banten. Menurutnya, kegiatan ini membawa dampak positif bagi masyarakat dan dunia birokrasi.

"Apa yang diselenggarakan oleh PWI ini sangat baik sekali apalagi saat ini sedang marak media sosial yang harus disikapi secara hati-hati banyaknya berita bohong," kata Airin saat mengisi dialog dalam rangkaian Festival Jurnalistik Tangsel di Resto Kampung Anggrek, Buaran Serpong, Jumat (13/10/3017).

Kegiatan yang dihadiri berbagai elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan itu bertajuk 'Menyikapi Perkembangan Teknologi Informatika Melalui Menumbuhkan Kecerdasan Masyarakat Melalui Jurnalisme Warga'.

Airin mengungkapkan, berdasarkan pengamatan, media sosial yang menjadi bagian dari perkembangan teknologi telah memunculkan problem. Berbagai postingan provokasi, bermunculan ke masyarakat melalui media sosial.

Menurut Airin, kondisi ini juga terjadi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. "Informasi dari kawan kami salah satu profesor di Harvard, satu hal menarik di luar negeri, sama bebasnya di Indonesia, sedang mengalami era media sosial secara bebas. Tentu dalam menghadapi persoalan ini, hukum aturan dikuatkan, manakala postingan disebarluaskan dihukum sekeras-kerasnya," tutur Airin.

Staf Ahli Menteri Kominfo, Lala M Kolopaking yang hadir juga mengaresiasi kegiatan Festival Jurnalistik Tangsel. "Tangsel yang mengawali kegiatan ini, tentunya menjadi inisiator di Banten, Banten juga seharusnya melanjutkan untuk dapat bekerjasama dengan daerah lain hingga ke tingkat nasional dan dunia," kata Lala.

Ia mengungkapkan fenomena arus informasi yang beredar di media sosial. Menurut Lala, informasi belum tentu sebuah berita, sehingga dibutuhkan pemahaman dan kecermatan pembaca untuk mencerna sebuah informasi.

"Dalam era kondisi seperti ini perlu memberikan wadah dan pemahaman tentang sumber informasi dan berita. Tidak semua informasi menjadi berita. Adapun berita terdiri dari kaidah ilmu jurnalistik," ujarnya.

Pengiat media sosial, Gusri Effendi yang menjadi narasumber, mengatakan, masyarakat yang tidak memahami teknologi (gaptek) biasanya sulit membedakan mana berita bohong dan yang benar.

"Yang dirugian masyarakat luas, termasuk saya selaku pengusaha pun dirugikan dari berita bohong. Inilah luar biasa dengan hadirnya media sosial bermunculan informasi yang tidak benar," tuturnya.

Semenrara itu, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Teguh Santosa mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk memerangi berita bohong (hoax). Memberantas hoax jangan hanya mengandalkan kepada satu lembaga, melainkan dimulai dari masyarakat.

"Kami percaya pemerintah punya aplikasi untuk mensensor tapi juga masyarakat pun diharapkan mau terlibat dalam memerangi berita bohong. Tidak bisa diserahkan kepada salah satu pihak saja," ujarnya. [ard]

Editor: Arif Darma
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Festival Jurnalistik di Tangsel Diapresiasi

BERITA TERKAIT

Top