Rabu, 21 April 2021 |
News Room

Dibesarkan di PPP, Gagal ke Demokrat, Kini Irna Narulita ‘Bermadu Kasih’ Dengan PDIP

Jumat, 02 Okt 2020 | 10:18 WIB Dibaca: 1222 Pengunjung

Irna Narulita.*


[NEWSmedia] - SEPAK terjang Irna Narulita Dimyati di politik bak Singa Betina, langkahnya selalu disorot tapi juga diperhitungkan. Mengawali kariernya di dunia politik dimulai sebagai TP-PKK Kabupaten Pandeglang pada 2001-2009, dan sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Wanita Persatuan Pembangunan (underbow PPP) pada 2012-2017.

Saat masih menjabat sebagai ketua Tim Penggerak PKK (pemberdayaan kesejahteraan keluarga), Irna terlihat intens mendampingi suami yang menjabat Bupati Pandeglang, Achmad Dimyati Natakusumah.
Pada 2009-2014 Irna pertama kalinya memasuki dunia politik praktis, tercatat sebagai Anggota DPR RI diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengikuti suami yang juga masih bernaung di Rumah Besar berlambang Ka’bah.

Saat melenggang ke Senayan, Irna kemudian menyempurnakan kiprah politiknya dengan menjajakan diri sebagai calon wakil Gubernur Banten yang saat itu bersanding dengan Wahidin Halim mantan Wali Kota Tangerang dua periode. Saat itu Wahidin Halim dan Irna Narulita berpasangan menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten di Pilkada 2011 melawan petahana Ratu Atut Chosiyah, putri dari Tokoh Jawara Banten Tubagus Chasan Sohib (alm).

Akan tetapi ‘Dewi Fortuna’ belum menghampiri. Gagal di Pilkada Banten membuat Irna seakan tertantang untuk mengasah kemampuannya di dunia politik, Hal itu ia buktikan dengan mencalonkan kembali sebagai calon kepala daerah di tingkat kabupaten, yaitu Kabupaten Pandeglang, di mana suaminya yaitu Achmad Dimyati Natakusumah pernah dua periode menjadi bupati di sana (periode 2000-2009)

Saat itu, Irna Narulita berhadapan dengan Erwan Kurtubi mantan Sekda Pandeglang  dan juga Wakil Bupati yang dulu bersanding dengan suaminya, Achmad Dimyati Natakusumah selama dua periode.

Lagi-lagi mencari peruntungan sebagai kepala daerah belum berpihak pada Irna. Meski begitu, ia terpilih menjadi Anggota DPR RI dari PPP. Belum tuntas mengabdi di parlemen, Irna kembali mencalonkan di Pilkada. Ia kembali bertandang untuk bertarung merebut pucuk pimpinan kekuasaan di tingkat kabupaten di Pilkada 2015 berpasangan dengan Tanto Warsono Arban, menantu dari Ratu Atut Chosiyah.

Pada saat itu, pasangan Irna-Tanto menang dan Irna ditetapkan sebagai Bupati Pandeglang periode 2015-2020.

Di tengah jalan, Irna Narulita berpindah partai dari partai berlambang Ka’bah berlabuh ke Partai Demokrat, dan kemudian akhirnya melompat lagi ke PDI-P, partai berlogo Banteng dengan moncongnya yang khas berwarna putih.

Perpindahan Irna dari satu partai ke partai lainnya merupakan langkah politiknya. Setiap partai yang ia singgahi selalu memberikan senyum dan membuka pintu untuk disinggahi Irna. Walaupun tak tahu pasti bagaimana pengurus dan simpatisan PPP yang pernah membesarkannya dalam satu nakhoda.

Irna resmi menjadi urban politik dari PPP ke Partai Demokrat pada tahun 2017. Saat itu ia sedang didorong oleh ‘syahwat’ yang kuat untuk mengambil posisi sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Banten. Irna harus bertarung dengan Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak. Alhasil dari pemilihan tersebut Iti lah yang mengungguli suara. Irna kalah dan gagal mengambil posisi pimpinan partai berlambang mercy.

Irna kini sedang berupaya mempertahankan kekuasannya di Kabupaten Pandeglang. Ia kembali maju mencalonkan dan berpasanhan dengan Tanto Warsono Arban.

Di moment ini-lah bagi Irna pertarungan dalam merebut kekuasaan adalah keniscayaan, meski beban berat dan masalah kesehatan jadi topik utama di kehidupan masyarakat karena pandemi COVID-19. Namun pertarungan Pilkada harus dilalui.

Publik tentu tidak tahu detil bagaimana persisnya melewati semua tahapan dan langkah politik Irna. Yang terlihat, Irna mencalonkan lagi sebagai kepala daerah diusung 9 partai politik. Khalayal tak banyak tahu bagaimana lobi dari seorang Irna bisa meyakinkan para petinggi partai dalam memberikan rekomendasi untuk melenggang maju sebagai kandidat kepala daerah.
Sekali lagi, publik tak banyak tahu bagaimana pandangan, tanggapan, dan juga perasaan para pengurus salah satu partai yang pernah membesarkan Irna dalam kancah politik menjadi ‘singa Betina’ yang piawai memainkan strategi politiknya menuju kursi kekuasaan.

Bagaimana pula pandangan, tanggapan, dan perasaan para pengurus partai yang telah membesarkan dan mengantarkan Irna menjadi kepala daerah, namun kini harus ditinggalkan. PPP sudah tidak lagi dianggap sebagai ‘Rumah Besar-nya’, Partai Demokrat juga sudah bukan lagi sebagai ‘Bintang Mercy-nya’.

Sebab Irna saat ini adalah sebagai kader PDIP, meskipun bisa saja si ‘Moncong Putih’ yang saat ini tengah bahagia karena ‘dimadu’ oleh Irna, besok lusa harus merasakan pedih dari api cemburu karena Irna menemukan tambatan hati baru yang lebih memesona dari semua yang pernah dicicipinya. Kita tunggu saja.

Penulis, Suntama, M.I.Kom
(Pernah aktif di Teater Bale, belajar di Magister Ilmu Komunikasi politik UMB Jakarta, Dosen di Universitas Buddhi Dharma, Tangerang, Banten)

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Dibesarkan di PPP, Gagal ke Demokrat, Kini Irna Narulita ‘Bermadu Kasih’ Dengan PDIP
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top