Minggu, 25 Agustus 2019 |
News Room

Diberitakan Pungut Uang Kamar Tahanan, Kalapas Serang Minta Bukti

Senin, 10 Jun 2019 | 14:36 WIB Dibaca: 4212 Pengunjung

Kepala Lapas Kelas IIA Serang, Suherman. (Dok:NEWSmedia)*

SERANG, [NEWSmedia] - Kepala Lapas Kelas II A Serang, Suherman meminta bukti terkait dengan pemberitaan yang menyebutkan ada pungutan liar uang kamar tahanan di Lapas tersebut.

Menurutnya, ia baru menanggapi tulisan yang dimuat di beberapa media pada pertengahan Mei lalu, lantaran dirinya ingin fokus menjalankan ibadah Puasa selama Bulan Ramadan dan tidak ingin terganggu dengan adanya permasalahan yang belum tentu kebenarannya tersebut.

"Saya tahu dan membaca juga kok di media cetak juga ada, dugaan pungli, gak ada yang yang bisa dibenar, diminta ini itu, silahkan aja tanya sendiri satu persatu WBP disini ada atau tidak yang dimintai uang oleh petugas untuk ini itu, karena masih puasa saya diemin aja dulu. Ini baru kita mau ambil tindakan," kata Suherman saat ditemui di ruangannya, Senin (10/6/2019).

Ia menilai, dengan adanya pemberitaan yang tidak didasari dengan pembuktian, nama baik Lapas Klas IIA Serang menjadi tercoreng. Bahkan dirinya mengaku terbuka kepada awak media jika ingin melakukan konfirmasi dan menyampaikan informasi seputar Lapas Kelas IIA Serang.

"Saya senang dengan rekan media dan tidak pernah menutupi informasi apapun. Jika memang ada, silakan datang ke sini, kita terbuka, tunjukan bukti dan beritahu siapa WBP yang diminta uang dan ke siapa ngasihnya. Kalau benar, dengan tegas saya sampaikan akan kita tindak mungkin sampai sanksi penurunan jabatan. Jangan cuma dari telepon jadi tulisan, kan jadi simpang siur dan merugikan. Walau ditulis dugaan namun opini yang terbangun seakan benar kita yang melakukan," tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Klas II Serang, Askari yang menyebutkan jika benar ada salah seorang wartawan menelpon dan mengkonfirmasi permasalahan tersebut. Namun saat diminta untuk menunjukan bukti, wartawan tersebut tidak mendapat jawaban pasti dengan alasan melindungi narasumber.

"Saya sampaikan jika ingin melindungi narasumber silakan, kita dukung. Kasih tahu orangnya yang mana kita pindahkan selama proses pembuktian ini, selesaikan. Narasumber aman dan apa yang disangkakan juga bisa diperlihatkan untuk dibuktikan. Jadi jangan asal tulis dugaan tapi mengarahkan opini masyarakat," kata Askari.

Askari juga menjelaskan permasalahan seperti ini kerap terjadi dilingkungan Lembaga Pemasyarakan maupun Rumah Tahanan. Para Warga Binaan biasanya memiliki banyak hutang kepada Warga Binaan Lainnya akibat gaya hidup dan tidak ingin merasa capek didalam Lapas.

"Biasanya kalau minta uang kekeluarga sampai berjuta-juta itu WBP pasti punya banyak hutang, dia gak mau nyuci nyuruh temannya cuci, makan gak mau yang dari lapas ngutang beli lauk-pauk, setiap hari seperti itu akhirnya numpuk hutang. Nanti cerita kekeluarganya buat bayar ini dan itu kalau tidak bayar nanti dipukulin petugas lapas. Sekali lagi saya ingatkan para keluarga itu tidak benar, petugas tidak pernah meminta apapun dari WBP, jika pun ada iuran itu kesepakatan WBP dengan rekan WBP lainnya untuk mereka sendiri bukan petugas," tegasnya.

Untuk diketahui sebelumnya, bebeberapa media daring dan surat kabar di Banten memberitakan dugaan pungutan liar di Lapas tersebut. 

Berdasarkan informasi dari narapidana di Lapas Klas II A Serang, pungutan bukan hanya terjadi untuk membeli fasilitas, namun ada pula untuk membeli kamar saat narapidana baru masuk dengan nominal mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

ME (bukan nama sebenarnya), salah satu narapidana Lapas Klas II A Serang tidak memungkiri banyak bayaran yang harus dikeluarkan untuk meringankan hari-harinya menjalani kehidupan di dalam sel.

’’Di dalam Lapas II A Serang semuanya bayar Om (menyebut wartawan-red). Nggak ada yang gratis,’’ kata ME seperti dikutip dari Bantenraya.com

Narapidana narkoba itu mengaku harus merogoh kocek Rp1,5 juta untuk bebas memegang ponsel di dalam Lapas Klas II A Serang. Saat pertama masuk lapas juga, ia diminta sebesar Rp3 juta untuk membayar uang kamar.

“Biaya kamar saya kurang Rp500 ribu ini. Rencananya saya bayar setelah Idul Fitri. Kalau biaya pegang ponsel sudah lunas,” ujarnya.

ME mengatakan siap mempertanggungjawabkan ucapannya. Hal itu karena selain memiliki bukti pembayaran tersebut, juga pungutan biaya terhadap narapidana itu bukan rahasia umum terjadi Lapas Klas II A Serang.

“Kalau ucapan saya dipermasalahkan, saya siap mempertanggungjawabkan. Intinya, saya ingin di Lapas Klas II A Serang tidak ada lagi pungutan biaya,” pungkasnya. [ahi/red]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Diberitakan Pungut Uang Kamar Tahanan, Kalapas Serang Minta Bukti
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top