Selasa, 13 April 2021 |
News Room

Cerita Mahasiswa Unbaja yang Berkunjung ke Suku Baduy

Selasa, 14 Agt 2018 | 10:51 WIB Dibaca: 1009 Pengunjung

Mahasiswa Unbaja saat berkunjung ke Suku Baduy. [dok:ist].*

LEBAK, [NEWSmedia] - Sejumlah mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Banten Jaya (Unbaja) melakukan kunjungan ke suku pedalaman Baduy, Kabupaten Lebak.

Kunjung mahasiswa tersebut dilatar belakangi atas keingintahuan tentang suku Baduy, sekaligus mengetahui bagaimana Suku Baduy bisa bertahan hidup di pedalaman tanpa adanya fasilitas seperti di perkotaan.

“Ternyata orang sini (Baduy, red) kuat-kuat, buktinya mereka mampu berjalan sampai berkilo-kilo meter, bahkan mereka juga mampu bertahan hidup dengan menggunakan peralatan seadanya, tidak seperti orang perkotaan atau orang luar yang sudah berkembang,” kata Koordinator acara, Ridho, Selasa (12/8/2018).

Ridho menyebutkan, masyarakat Baduy sangat ramah terhadap pengunjung, bahkan menurutnya, masyarakat Baduy juga peduli dalam menjaga lingkungannya.

“Ini di buktikan dengan adanya tempat sampah di sepanjang jalan atau treck pendakian. Ini membuktikan bahwa masyarakat Baduy masih memegang teguh semboyan meraka dari alam dan kembali ke alam,” ujarnya.

Hebatnya, masih kata Ridho, meski perkembangan zaman semakin pesat, sampai saat ini warga Baduy mampu mempertahankan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyangnya.

“Sekarang sudah zaman teknologi, sampai saat ini warganya belum menggunakan penerangan baik warga Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Benar-benar salut tentang apa yang dipesan oleh nenek moyangnya tentang larangan, mereka ikuti sampai saat ini, tidak terpengaruh oleh zaman,” katanya.

Sementara itu, Salah satu dosen yang turut serta dalam kegiatan tersebut, Tauny Akbari menjelaskan, suku Baduy terbagi menjadi dua bagian, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Menurutnya, kedua suku ini memiliki karakteristik yang cukup berbeda dalam kehidupan sehari-hari.

“Baduy Luar memiliki sikap lebih terbuka terhadap pendatang, saya senang kedatangan kami disambut  hangat oleh mereka, meski kami datang tepat jam 12 malam," kata Tauny.

Ia mengatakan, dari keterangan sejumlah warga Baduy yang sempat berbincang, beberapa anak dari Baduy Luar, sudah ada yang tinggal di luar kota, seperti Jakarta dan Serang, bahkan menurutnya, warga baduy yang tinggal di luar kota tersebut sudah menyadari pentingnya kamar mandi tertutup.

“Namun, dengan diperbolehkannya  penggunaan sabun untuk mandi  dan mencuci ternyata cukup berdampak  pada kebersihan di area sungai. Saya menemukan sebaran plastik  kemasan sachet di tepian sungai daerah Baduy Luar,” terangnya.

Tauny berharap adanya sosialisasi mengenai pengelolaan sampah plastik di kawasan Baduy agar lingkungan masyarakat Baduy tetap asri dan lestari.

“Baduy Dalam melarang adanya penggunaan benda elektronik, seperti kamera, handphone dan bahan kimia seperti sabun, kosmetik. Hal ini berdampak baik pada kualitas sungai yang ada, airnya masih sangat jernih dan bersih, serta layak untuk diminum secara langsung,” jelasnya.

Lebih jauh Tauny mengatakan, Suku Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Pu'un yang kepemimpinannya didasarkan pada garis keluarga, bahkan yang menarik menurutnya, kegiatan ronda bagi masyarakat Baduy dilaksanakan pada siang hari, lantaran mayoritas pria pergi berladang di siang hari.

"Ciri khas warga suku Baduy Dalam adalah baju berwarna putih dan telekung putih yg dipakai di kepala, berbeda dengan Baduy Luar yang memakai pakaian hitam dan ikat biru khas suku Baduy, banyak hikmah yang dapat saya ambil dari perjalanan ini, terutama mengenai rasa syukur atas apa yang dimiliki dan hidup sederhana sesuai kebutuhan tanpa berlebih-lebihan,” pungkasnya. [rls]

Editor: Ahmad Hifni
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Cerita Mahasiswa Unbaja yang Berkunjung ke Suku Baduy
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top