Rabu, 19 Februari 2020 |
News Room - Ekonomi

BI Waspadai Risiko Inflasi karena Lebaran

Minggu, 04 Jun 2017 | 07:01 WIB Dibaca: 592 Pengunjung

Pedagang Sembako di Pasar Tradidisional.*

JAKARTA, [NEWSmedia] - Inflasi indeks harga konsumen (IHK) Mei 2017 tercatat sebesar 0,39 persen secara bulanan (mtm). Angka ini meningkat dibandingkan bulan lalu sebesar 0,09 persen (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK hingga Mei tercatat 1,67 persen secara tahun berjalan (ytd) atau secara tahunan mencapai 4,33 persen secara tahunan (yoy). Angka ini masih dalam kisaran sasaran inflasi sebesar 4 plus minus 1 persen.

"Kelompok volatile food (komponen harga pangan bergejolak) pada Mei 2017 mengalami inflasi sebesar 0,91 persen (mtm) setelah tiga bulan sebelumnya berturut-turut tercatat mengalami deflasi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara dalam pernyataan resmi, Sabtu (3/6/2017).

Peningkatan inflasi kelompok ini dipengaruhi naiknya permintaan beberapa komoditas seiring dengan datangnya bulan Ramadan di minggu keempat bulan Mei.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan ini terutama bawang putih, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan beras. Sementara itu, komoditas cabai rawit dan bawang merah tercatat masih mengalami deflasi.

Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai sebesar 3,26 persen (yoy). Inflasi administered prices alias harga yang diatur pemerintah pada Mei 2017 masih cukup tinggi, yakni 0,69 persen (mtm), meskipun turun dari bulan lalu yang sebesar 1,27 persen (mtm).

Lebih rendahnya inflasi administered prices bulan ini terutama disebabkan penyesuaian tarif listrik tahap ketiga untuk pelanggan prabayar daya 900 VA nonsubsidi yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kelompok pascabayar.

Sementara itu, penyesuaian harga bahan bakar khusus, tarif angkutan udara, dan rokok juga mendorong inflasi administered prices.

Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 9,14 persem (yoy). Inflasi inti Mei 2017 cukup rendah sebesar 0,16 persen (mtm), sedikit meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,13 persen (mtm).

Komoditas utama penyumbang inflasi kelompok ini adalah nasi dengan lauk, baju muslim wanita, tarif rumah sakit, dan upah pembantu rumah tangga. Inflasi kelompok inti tertahan oleh menurunnya harga gula pasir dan tarif pulsa ponsel.

Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,20 persen (yoy). Ke depan, inflasi akan tetap diarahkan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4 plus minus 1 persen.

"Untuk itu, koordinasi kebijakan Pemerintah di pusat dan daerah dengan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait dampak kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah, dan risiko kenaikan harga volatile food selama bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri," ujar Tirta. [kps]

Editor: Newsmedia
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

LAINNYA

Viral di Medsos Bupati Lebak Marah-marah
Rabu, 19 Feb 2020 | 14:03 WIB
Viral di Medsos Bupati Lebak Marah-marah
Dampak Radiasi bagi Kesehatan Tubuh Manusia
Rabu, 19 Feb 2020 | 10:39 WIB
Dampak Radiasi bagi Kesehatan Tubuh Manusia

KOMENTAR

BI Waspadai Risiko Inflasi karena Lebaran

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top