Senin, 28 September 2020 |
News Room

BI Banten Kumpulkan Pemuka Agama Luruskan Kontroversi Uang Rupiah Baru

Rabu, 18 Jan 2017 | 17:16 WIB Dibaca: 1056 Pengunjung

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Banten, Budiharto Setyawan saat menyosialisasikan uang rupiah baru kepada para pemuka agama di Aula Kemenag Provinsi Banten, Rabu (18/1/2017).*

SERANG, [NEWSmedia] - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Provinsi Banten mengumpulkan para pemuka agama di Banten untuk menjelaskan penerbitan uang rupiah baru tahun emisi 2016.

Bank Indonesia meluruskan sejumlah isu yang berkembang di masyarakat terkait uang rupiah baru yang diterbitkan pemerintah pada akhir 2016. Isu yang diluruskan yakni soal sebuah logo yang dianggap mirip dengan lambang palu arit, serta warna uang yang identik dengan mata uang asing, dan pemilihan pahlawan yang diprotes karena tidak sesuai.

"Kami berharap isu-isu negatif yang beredar di media sosial terkait dengan uang rupiah yang baru ini, dapat mereda, sehingga keutuhan dan kedamaian NKRI dapat terjaga," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Banten, Budiharto Setyawan di Aula Kemenag Provinsi Banten, Rabu (18/1/2017).

Budi menjelaskan, gambar terlarang dalam uang rupiah tersebut merupakan persepsi terhadap Bank Indonesia yang didesain dengan teknik rectoverso. Apabila dilihat tanpa diterawang, gambar tersebut akan terlihat seperti ornamen yang tidak beraturan.

"Tapi kalau diterawang, gambar itu akan membentuk sebuah gambar yang utuh, dalam hal ini adalah BI (Bank Indonesia-red)," jelasnya.

Dalam pemilihan warna uang, lanjut Budi, uang rupiah baru tahun emisi 2016 masih menggunakan warna domain yang sama dengabln desain uang sebelumnya. Pemilihan warna itu dimaksudkan agar warna tersebut sulit ditiru oleh tinta-tinta biasa.

"Pemilihan warna uang juga menggunakan skema Munsell, yaitu untuk pecahan dengan angka depan sama digunakan warna yang berbeda secara kontras," ujarnya.

Sementara, untuk pencantuman gambar pahlawan, Budi menegaskan bahwa sosok yang dipilih tersebut merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 7 tahun 2011 dan Bank Indonesia telah berkonsultasi dengan pemerintah pusat dan daerah, sejarawan, akademisi serta tokoh masyarakat.

"Semua gambar pahlawan itu, diperoleh dari instansi yang berwenang menatausahakan pahlawan nasional dan telah disetujui oleh ahli waris dari pahlawan nasional tersebut," tuturnya.

BI Banten, kata Budi, perlu menjelaskan hal ini kepada para tokoh dan pemuka agama dengan harapan dapat disampaikan kembali ke seluruh lapisan masyarakat.

"Agama tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, makanya kali ini kami ajak pemuka agama se-Provinsi Banten untuk mengetahui bahwa isu-isu itu tidak benar," ucapnya.

Selain itu, Budi juga menjelaskan dalam penetapan jumlah uang yang beredar, BI melakukan pencetakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan jumlah yang cukup.

"Uang rupiah yang dicetak dan diedarkan untuk menggantikan uang rupiah yang tidak layak edar, sehingga tidak menambah jumlah uang yang beredar di masyatakat. Penentuannya juga telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan sesuai amanat UU mata uang," terangnya.

Untuk diketahui, acara tersebut diikuti oleh pemuka agama se-Provinsi Banten, mulai dari Kanwil Kemenag Provinsi Banten, MUI Banten, PWNU Banten, PW Muhammadiyah Banten, Musyawarah Pimpinan Gereja-Gereja (Muspija) Banten, Forum Pimpinan Gereja Katolik (Forpijak) Banten, Perisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banten, Majelis Tinggi Agama Khonguchu Indonesia (Matakin) Banten serta Forum Umat Budha (FUB) Banten. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Arif Darma
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

BI Banten Kumpulkan Pemuka Agama Luruskan Kontroversi Uang Rupiah Baru
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top