Senin, 17 Desember 2018 |
News Room - Highlight - Ekonomi

Banten Punya 6.468 Hektare Kebun Kopi, Produknya Bisa Jadi 'Fine Robusta' Indonesia

Jumat, 06 Jul 2018 | 16:02 WIB Dibaca: 573 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

SERANG, [NEWSmedia] - Di tengah menjamurnya kafe atau kedai kopi di wilayah Provinsi Banten, sayangnya masih sangat jarang kafe atau kedai yang menjual kopi asli Banten. Padahal, di Banten ada 6.468 hektare kebun kopi dan jika produksinya dikembangkan dengan baik, kopi Banten bisa menjadi kopi terbaik Indonesia, karena citarasanya.

Potensi tentang Kopi Banten tersebut terungkap dalam talkshow program 'Pak Pemred Siaran Pagi' di Radio Serang Gawe 102,8 FM dengan narasumber Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus Purnohadi bersama Pegiat Kopi, Purwaindera Arie, yang dipandu Pemimpin Redaksi NEWSMEDIA.CO.ID, Rapih Herdiansyah, di Studio Radio Serang Gawe, Jumat (6/7/2018).

"Banten ini sejarahnya adalah salah satu sentra kopi nasional, pada zaman belanda dulu. Saya keliling juga ke Gunung Karang Pandeglang, banyak sekali pohon kopi, tetapi belum digarap secara maksimal," kata Purwaindera Arie.

Arie merupakan pengusaha yang mengelola kedai kopi bernama Banyu Biru Coffee di kawasan Ciceri, Kota Serang. Ia juga menjadi produsen kopi yang lahannya berada di luar Banten, namun produknya dipakai untuk memenuhi kebutuhan kedainya di Banten.

"Di kafe, saya menyajikan 18 varietas kopi specialty grade nasional Indonesia, single origin. Pada saat di beberapa kegiatan banyak yang tanya ke saya, kok kopi luar semua Mas, mana Banten nya?. Itu pertanyaan menarik buat kita pegiat kopi di Banten," kata Arie.

Purwaindera Arie di kedai kopi 'Banyu Biru Coffee' miliknya.*

Ia pun mengungkapkan, kopi yang berasal dari perkebunan di Banten memang ada bahkan potensial. Tetapi sayangnya memang belum digarap dengan maksimal. Padahal jika dikembangkan dengan baik, Arie mengatakan kopi Banten bisa menjadi Fine Robusta Indonesia atau kopi terbaik Indonesia, seperti halnya Kopi Lampung, Robusta Bali Tabanan dan Robusta Dampit Malang.

"Rasa kopi Banten itu ada aroma cokelat, dan juga ada aroma rempah-rempahnya. Itu bisa menjadi Fine Robusta Indonesia," ucapnya.

Menurut Arie, potensi kopi di Banten memang perlu dikembangkan dan dioptimalkan, baik dari segi harga, pendistribusian. Termasuk penanganan proses untuk menjaga kualitas kopinya. "Kopinya dari mana, penanamannya bagaimana, proses perawatannya seperti apa, panennya seperti apa, proses pascapanennnya seperti apa dan siapa yang mengolah? Karena dari 100 persen kopi bagus, 60 persennya adalah faktor petani, 30 persen roaster (alat pengolah) dan 10 persen di Barista (peracik)," terangnya.

Adapun faktor lain yang menjadikan kopi di Banten kurang berkembang, yaitu karena masyarakat, khususnya petani, belum menjadikan komoditas kopi sebagai sumber ekonomi.

"Kayaknya kopi Banten harus dibangkitkan lagi, karena apa, Banten terutama Kota Serang, kafe-kafe sudah mulai menjamur, yang menjual kopi. Luar biasanya, mereka menjual kopi yang benar. Kalau sudah banyak yang menjual kopi yang benar, dampaknya pada petani. Permintaan terhadap produk kopi dari lokal akan terserap baik," ujarnya.

Arie pun mengungkapkan tingkat konsumsi kopi di Banten. Menurutnya, data dari komunitas pegiat kopi di Banten pada 2017, penikmat kopi di 'Tanah Jawara' ini mencapai 20 ton per bulan. "Tetapi masih banyak yang (minum) kopi saset," kata Arie, seraya mengatakan, setiap 1 hektare kebun kopi standarnya menghasilkan 10 ton kopi dengan kualitas bagus.

Kebun Kopi Seluas 6.468 Hektare di Banten

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus Purnohadi pun mengungkapkan kondisi faktual komoditas kopi di Provinsi Banten. "Dari sisi potensi, dari data kami, Banten itu potensi (kopi) nya ada di tiga kabupaten dan bahkan ada juga di Kota Serang. Namun paling besar potensinya di Pandeglang, Lebak dan Kabupaten Serang," kata Agus.

Secara keseluruhan, lanjut Agus, di Banten ada 6.468 hektare kebun kopi. "Banyak dan seratus persennya dikelola oleh petani," ungkapnya.

Salah satu kebun kopi di daerah Cinangka, Kabupaten Serang.*

Untuk produksi, dari ribuan hektare kebun kopi yang tersebar di tiga wilayah (Pandeglang, Lebak, Serang), Provinsi Banten baru mampu memproduksi kopi sebanyak 400 kilogram per hektare per tahun. Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten pada tahun 2009-2014, produksi kopi di Banten mencapai 2.200 sampai dengan 2.600 ton per tahun.

"Ada defiasi, karena data produksi nasional sudah masuk angka 700 kilogram per hektare dalam setahun, sedangkan Banten baru 400 kilogram per hektare dalam setahun. Ini 'PR' kami, bagaimana kebutuhan kopi ini menjadi salah satu komoditas unggulan nasional yang bisa dikembangkan di Banten," ujarnya.

Membangun Brand Kopi Banten

Agus mengatakan, untuk mengembangkan kopi Banten sebagai komoditas unggul, Pemerintah Provinsi Banten melakukan beberapa langkah secara bertahap. Oleh Dinas Pertanian Provinsi Banten, Kopi menjadi salah satu dari 9 komoditas unggulan di Banten.

"Kami melakukan upaya bagaimana meningkatkan kegiatan budidaya, penguatan kelembagaan. Pemerintah provinsi maupun kabupaten kota kita sharing program. Dari situ kita alokasikan, mana petani kopi yang memang dijadikan prioritas. Dengan ini akan mendongkrak produksi," ujarnya.

Selain penanganan hulu, lanjut Agus, pemerintah juga perlu memperkuat hilir, yaitu penanganan pascapanen, membangun gedung produksi, peralatannya, sampai dengan membuat rumah promosi untuk pusat informasi pasar. "Ini peluang, kita perlu berkolaborasi. Rumuskan melalui FGD, undang pihak-pihak terkait, goal-nya adalah Brand Kopi Banten," ucapnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Banten tidak bisa berjalan sendiri. Keterbatasan anggaran dan sumber daya, perlu ditopang oleh pemerintah kabupaten/kota, termasuk pemerintah pusat dan pihak-pihak terkait. "Mari kita bersama, pemerintah, asosiasi, akademisi dan pelaku usaha. Ayo kita pikirkan Kopi Banten, Kita gugah masyarakat petani kopi, kita dorong. Gandeng akademisi penting sekali, kita padukan, harus berkolaborasi untuk pengembangan. Media juga bisa bantu pemasarannya," tuturnya.

"Targetnya bukan hanya pasar-pasar tradisional. Pasar modern (supermarket, kafe, dll) kan sudah menjadi lifestyle. Itu pasar yang jelas terbuka dan potensial," sambung Agus. [rhd]

Editor: Rapih Herdiansyah
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Banten Punya 6.468 Hektare Kebun Kopi, Produknya Bisa Jadi 'Fine Robusta' Indonesia

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top