Kamis, 09 Juli 2020 |
News Room - Kesehatan

Banten Darurat Difteri, Bupati/ Wali Kota Diminta Keluarkan SK KLB

Selasa, 12 Des 2017 | 14:20 WIB Dibaca: 704 Pengunjung

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi dan Krisis Kesehatan, Dinkes Provinsi Banten, drg. Rostina di Ruang Kerjanya, Selasa (12/12/2017).*

SERANG, [NEWSmedia] - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, hingga Saat ini, kasus difteri yang terjadi di Banten mencapai 81 kasus dengan angka kematian sembilan kasus.

Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi dan Krisis Kesehatan, Dinkes Banten, drg. Rostina mengatakan, dengan maraknya kasus tersebut, Banten sudah memasuki keadaan luar biasa (KLB).

"Sampai hari ini kita sudah ada 81 kasus dan kematiannya 9 kasus, jadi ini sudah KLB, KLB itu kriterianya adalah dari yang belum tidak ada kasus, sekarang ada kasus, kemudian angka kenaikan dua kali lipat dan juga ada kasus kematian, tiga kriteria ini sudah memenuhi," kata Rostina di Ruang Kerjanya, Selasa (12/12/2017).

Dengan demikian, ia meminta kepada Bupati/ Wali Kota untuk mengeluarkan Surat Keterangan Kejadian Luar Biasa (SK KLB) untuk meminimalisir wabah tersebut dengan menggunakan anggaran dari dana tidak terduga (DTT).

"Sekarang kan sudah clossing anggaran, kita mengupayakan dari dana tak terduga agar cair, sudah konsultasi dengan BPBD dan dana tidak terduga bisa cair kalau ada surat keterangan KLB dari kabupaten/ kota, sementara yang udah menyatakan KLB itu baru Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang, yang lain belum," jelasnya.

Kendala yang Dihadapi

Ia juga menuturkan, selama menangani wabah tersebut, pihaknya menemukan beberapa kendala yang dihadapi, salah satunya adalah fasilitas yang belum memadai.

"Kendalanya adalah Rumah Sakit yang ada ruang isolasi itu baru RSDP Serang dan RSU Tangerang, kita sudah bikin surat ke kabupaten/ kota termasuk Provinsi Banten untuk menyediakan ruang isolasi,dan Alhamdulillah RSUD Banten sudah ada dua ruangan isolasi dengan kapasitas bed 10," tuturnya.

Ia mengungkapkan, satu-satunya obat untuk wabah difteri, adalah anti difteri serum (ADS), namun, ADS tersebut di seluruh dunia langka, tidak hanya di Indonesia.

"Ini penyakit yang sudah langka, biofarma tidak produksi ADS lagi, pemerintah mengupayakan agar produksi dan ternyata produksi ADS tidak gampang," ungkapnya.

Selain itu ia juga mengimbau kepada masyarakat Banten agar segera melakukan imunisasasi ke tempat pelayanan kesehatan atau puskesmas terdekat, sebab menurutnya wabah difteri merupak penyakit yang dapat ditangani dengan imunisasi (DP3I).

"Difteri itu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), maka kami imbau masyarakat untuk segera melakukan imunisasi atau vaksinasi dan kalau bepergian ke tempat-tempat umum, dianjurkan menggunakan masker," pungkasnya.

Untuk diketahui, rincian wabah difteri yang terjadi di Banten adalah sebagai berikut: Kabupaten Tangerang 27 kasus dan empat orang meninggal, Kabupaten Serang 14 kasus dan dua orang meninggal, Kota Tangerang 14 kasus, Kabupaten Pandelang 10 kasus dan satu orang meninggal, Kota Serang 8 kasus dan satu orang meninggal, Kota Tangerang Selatan 4 kasus, Kabupaten Lebak 3 kasus dan satu meninggal, dan Kota Cilegon 1 kasus. [ahi]

Penulis: Ahmad Hifni
Editor: Indra Gunawan
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Banten Darurat Difteri, Bupati/ Wali Kota Diminta Keluarkan SK KLB

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top