Minggu, 05 Juli 2020 |
News Room - Politik - Banten Memilih

Bahasan Soal Komunisme Mencuat di Acara Debat Calon Pilkada Banten

Senin, 30 Jan 2017 | 12:13 WIB Dibaca: 1185 Pengunjung

Pasangan calon Gubernur Banten-Wakil Gubernur Banten nomor urut 2, Rano Karno-Embay Mulya Syarief saat acara debat Pilkada Banten 2017, Minggu (29/1/2017). (Foto: Republika)

JAKARTA, [NEWSmedia] - Acara debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Banten Pilkada 2017 yang digelar di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta dan disiarkan langsung oleh tvOne, kemarin, Minggu (29/1/2017) berlangsung dinamis.

Dalam sesi debat, soal komunis mengemuka dan menjadi perdebatan. Pembahasan komunisme terjadi di segmen ketiga saat calon wakil gubernur nomor urut 2 Embay Mulya Syarief kepada calon gubernur nomor urut 1 Wahidin Halim.

Embay mempertanyakan terkait orasi Wahidin saat berkampanye akbar di Lapangan Sunburst BSD, Tangsel, yang mengatakan perang terhadap komunis.

“Pak Wahidin, saya ingin bertanya pada saat Anda orasi katanya akan menyatakan perang dengan komunis. Itu membuat masyarakat menjadi resah," kata Embay, bernada mempersoalkan.

Embay pun kemudian mengungkapkan kiprahnya sebagai aktivis angkatan 1966 yang aktif di organisasi yang ikut memerangi komunisme di Banten.

"Saya aktif di Pelajar Islam Indonesia dan saya ikut nangkepin komunis dengan aparat ketika itu. Kemudian saya juga tahun 2002 aktif memimpin Gerakan Anti Komunis di Banten, sejak tahun 2002. Untuk itu saya minta Pak Wahidin tunjuk hidung, siapa sebenarnya yang akan Pak Wahidin perangi?,” tanya Embay, mendesak.

Wahidin pun menjawab dengan sedikit menyindir. “Mudah-mudahan Pak Embay tidak bermaksud membela ya. Tapi paling tidak, harus dipahami bahwa komunis belum dicabut TAP MPR-nya. Waktu saya katakan di masyarakat, waktu saya kampanye, apakah di sini ada partai komunis? Tidak ada. Ya memang tidak ada, karena saya punya 7 partai pengusung tidak ada komunis," ucap Wahidin.

"Saya kira kita yang semua sadar, bahwa memang komunis menjadi musuh kita bersama. Bahaya laten, dan itu saya lawan. Takbir, takbir, takbir,” tutur Wahidin diikuti teriakan takbir para pendukungnya.

Justru pertanyaan itu, lanjut Wahidin, harus dijawab sendiri oleh Embay Mulya Syarief yang telah mengklaim sebagai tokoh Banten. "Justru jawaban itu harusnya datang dari orang tua kita, apalagi merasa pahlawan Banten. Harus paham itu," ujarnya.

Wahidin menegaskan, bangsa Indonesia sepakat Pancasila sebagai dasar. Selama pancasila ada, kata dia, selama itu pula semua harus merasa dan harus anti terhadap komunisme. “Oleh karena itu apa yang tadi disinggung tidak perlu ditanyakan. Kalau saya ditanyakan saya anti komunis, ya. Saya akan lawan komunis,” kata Wahidin.

Embay pun kembali dipersilakan menanggapi jawaban Wahidin Halim. Ia mengakui masih ada peraturan yang berlaku terkait larangan terhadap komunis. “Karena itu saya mendirikan gerakan anti komunis di Banten. Dan saya hafal betul data-data itu ada di Kodim, Koramil dan Korem. Jadi yang dimaksud komunis yang mana?” tanya Embay lagi.

“Pak WH jangan asal tuduh, berarti Pak WH anggap aparat tidak bekerja. Pak Wahidin sama saja menyalahkan aparat, Allahuakbar. Jadi, kita semua jangan mau jadi korban fitnah,” sambung Embay.

Perdebatan diakhiri setelah Wahidin Halim kembali menjawab pernyataan Embay. “Kita tidak bicara data, tapi bicara paham. Siapa yang bilang saya menuduh aparat tidak bekerja. Ya bekerja. Kalau begitu, itu berarti nuduh saya. Pertanyaan tadi, bahwa saya anti komunis, memang iya. Kenapa diperkarain,” tutur Wahidin. [ard]

Editor: Arif Darma
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Bahasan Soal Komunisme Mencuat di Acara Debat Calon Pilkada Banten

BERITA TERKAIT

NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top