Sabtu, 17 November 2018 |
News Room

Arsitek Sebut Ada Kesalahan Pada ‘Master Plan’ Revitalisasi Banten Lama

Jumat, 20 Jul 2018 | 21:11 WIB Dibaca: 1793 Pengunjung

Area menara Banten di kawasan Banten Lama yang akan direvitalisasi. (Foto: Repro)

SERANG, [NEWSmedia] - Pemerintah Provinsi Banten bersama-sama dengan Pemerintah Kota Serang dan Kabupaten Serang telah membuat MoU untuk memulai penataan Kawasan Banten Lama. Kawasan bersejarah Banten itu akan direvitalisasi berdasarkan master plan yang telah dibuat sejak 2010.

Namun, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten menilai ada yang tidak sesuai dalam master plan yang dijadikan rujukan pemerintah untuk merevitalisasi Kawasan Banten Lama saat ini. Kesalahan master plan itu dinilai akan menghilangkan marwah ke-Banten-an.

“Sudah melihat (master plan) yang dipresentasikan Pemkot Serang dan Pemprov Banten. Menurut saya ada yang tidak sesuai, jadi makna revitalisasinya hilang,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten Mukodas Syuhada saat menjadi narasumber program ‘Pak Pemred Siaran Pagi’ bersama Pemimpin Redaksi NEWSMEDIA, Rapih Herdiansyah, di Radio Serang Gawe FM, Jumat (20/7/2019).

Mukodas menjelaskan makna revitalisasi yang dimaksud adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital atau hidup, dan karena perkembangan zaman ataupun sesuatu kondisinya mengalami kemunduran atau degradasi. “Di Banten kan dihancurkan pada zaman Deandles Belanda, dan sekarang mau direvitalisasi,” ujarnya.

Menurut dia, langkah yang saat ini sedang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Banten terhadap Kawasan Banten lama, yaitu baru sebatas penataan, bukan revitalisasi. “Revitalisasi itu ada tingkatannya, makro, mikro, dan mencakup perbaikan aspek fisik, ekonomi dan sosial. Jadi, konsep revitalisasi ini tidak hanya fisik saja, tapi ada aspek lainnya tadi,” tutur Mukodas.

Kesalahan atau ketidaksesuaian yang dimaksud dalam master plan revitalisasi Banten lama, kata Mukodas, yaitu adanya perencanaan pembangunan sarana yang sebelumnya tidak ada, seperti terminal dan penataan alun-alun.

“Akan lebih bagus itu memvitalkan kembali yang selama ini mati, seperti kanal. Menghidupkan kembali jalan lama dari Tasikardi ke Surosowan. Untuk sarana transportasi yang ada dulu, ada pedati delman, kanal (perahu), stasiun kereta api dihidupkan kembali. Jadi semua kendaraan tidak ada masuk ke kawasan itu. Termasuk penataan alun-alun, jangan banyak pengerasan, hiasan, lebih baik hijaukan, banyakin tanaman tanaman lokal, di situ ada perajin gerabahnya, itu dihidupkan lagi,” katanya.

Banten Lama sebagai pusat peradaban Islam di Banten, terdapat bangunan ibadah Masjid Agung, bangunan pemerintahannya yaitu Istana Surosowan, kemudian ada public space, lapangan, alun-alun, dan juga tempat ekonomi (pasar) serta akses transportasinya, termasuk kanal. Semuanya harus direvitalisasi.

“Jangan membuat bangunan yang dulunya nggak ada. Kalau membangun lagi yang dulu tidak ada, akan banyak bentroknya, seperti kejadian membangun terminal, begitu digali ternyata ada makamnya di situ. Jadi yang paling aman itu, memvitalkan kembali artefak-artefak yang sebelumnya pernah ada. Kendaraan bermotor jangan sampai masuk ke dalam kawasan itu. Semua aktivitas bisa jalan kaki atau naik delman. Itu makna revitalisasinya akan lebih kena,” sambung Mukodas.

Menurut Mukodas, yang dilakukan pemerintah daerah saat ini adalah penataan, yang diharapkan sebagai tahap awal untuk melakukan revitalisasi. “Pemda sekarang hanya menyusun puzzle-puzzle, bagian ini ditangani oleh dinas ini, dan bagian lainnya ditangani dinas yang lain. ke depan mesti dievaluasi, sistem yang seperti itu menurut saya belum optimal. Kita beberapa kali diundang, kita sampaikan, tetapi karena memang tuntutan waktu, jadi program pembangunannya tidak terintegrasi secara total,” ujarnya.

Meski demikian, Mukodas menilai apa yang sudah dilakukan oleh pemda, terutama Pemprov Banten sudah baik dan perbaikan-perbaikan perencanaan masih bias dilakukan, belum terlambat. Ia menyadari bahwa program revitalisasi itu sangat kompleks, dibutuhkan beberapa tahapan. “Yang dilakukan sudah bagus, ini sudah sangat baik untuk mengawali kegiatan ini, istilahnya memecah kebuntuan yang selama ini (penataan Banten Lama) sulit sekali dilaksanakan,” ucapnya.

“Anggaplah ini adalah tahapan awal sebagai pemicu, nanti tahun depan itu, alangkah lebih baiknya program revitalisasinya ini dibuat konsepnya multiyears, jangan tahun tunggal,” tukasnya.

Penataan Bertahap Sesuai ‘Master Plan’

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (PRKP) Provinsi Banten, M Yanuar mengatakan, penataan kawasan Banten Lama dilakukan secara bertahap. Untuk pembangunan infrastruktur pun, kata dia, ditangani dua organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemprov Banten yaitu Dinas PRKP dengan Dinas Pekerjan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Ada beberapa tahap. Yang pertama dilakukan menata sekitar masjid, Keraton Surosowan, termasuk jalan jalan pedestrian. Tahun depan Benteng Speelwijk dengan Vihara dan Keraton Kaibon. Untuk di depan masjid, kita target September tahun ini sudah selesai. Kita minta pihak ketiga kerja pagi sore, agar nanti pada saat HUT Banten (Oktober) bisa dipakai untuk zikir bersama,” kata Yanuar.

Yanuar menegaskan, pemerintah tidak sembarangan dalam menata kawasan Banten Lama, karena di sana masuk Kawasan cagar budaya. Oleh karena itu sejauh ini, kata dia, pihaknya selalu menggandeng atau difasilitasi oleh tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

“Kalau melihat master plan, anggarannya hampir Rp260 miliar, itu baru di kawasan cagar budaya. Belum nanti pengembangan wisatanya kan tidak hanya sekadar cagar budaya, seperti Ancol gitu, ada kanal yang nyambung ke laut, itu yang nanti jadi tempat wisata. Jadi nanti tidak semata-mata tempat wisata seperti sekarang yang relatif terbatas pada wisata ziarah,” ujarnya.

Bahkan, Yanuar memastikan dalam master plan juga ada penataan kanal di Kawasan Banten Lama yang bisa dilewati perahu sampai ke laut. “Nanti laut keliatan area semuanya. Nanti kendaraan juga tidak masuk ke dalam, pengunjung berjalan kaki atau ada angkutan khusus yang disediakan pemerintah. PKL juga ditempatkan secara khusus, orang yang berwisata dan berziarah tidak terganggu kenyamannya dalam berziarah,” terangnya.

“Ini adalah mimpi dan Pak Gubernur ingin menunjukan bahwa kita bisa menata Banten lama yang selama ini kan sudah 18 tahun Banten berdiri, Banten lama tidak ada perubahan yang signifikan,” ucap Yanuar. [rhd]

Editor: Rapih Herdiansyah
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Arsitek Sebut Ada Kesalahan Pada ‘Master Plan’ Revitalisasi Banten Lama
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top