Minggu, 22 Oktober 2017 |
News Room - Pendidikan

Al-Khairiyah Usul Pelajaran Agama Dihapuskan Dari Sekolah Umum

Sabtu, 17 Jun 2017 | 13:03 WIB Dibaca: 541 Pengunjung

Ketua Umum PB Al-Khairiyah, Ali Mujahidin saat meninjau salah satu cabang Al-Khairiyah. (Dok: Al-Khairiyah)

CILEGON, [NEWSmedia] - Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muhadjir Effendy yang ingin memberlakuan Full Day School dengan sistem pendidikan 5 hari sekolah dengan 8 jam perhari, mendapat perhatian dari elemen masyarakat dan juga stakeholder pendidikan.

Ketua Umum Pengurus Besar Al-Khairiyah, Ali Mujahidin mengatakan, Yayasan Pendidikan Al-Khairiyah menerima kebijakan sistem Full Day School dengan catatan ada asas keseimbangan antara pendidikan sekolah umum dan sekolah agama.

“Kami sangat mendorong kebijakan full day school ini. Tetapi perlu seimbang antara pendidikan umum dan pendidikan agama," kata Ali Mujahidin saat membuka acara Upgrading Kurikulum Nasional Al-Khairiyah, di Kampus Peradaban Islam Al-Khairiyah Citangkil, Sabtu (17/6/2017).

Pria yang biasa disapa Mumu ini mengusulkan, alangkah lebih baiknya pelajaran agama dihapuskan dari sekolah umum, dan pelajaran umum pun dihapuskan dari sekolah agama.

"Sehingga sekolah agama dan sekolah umum bukan dijadikan sebagai pilihan, tapi idealnya, keduanya menjadi kewajiban. Sekolah umum untuk terwujudnya cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan sekolah agama untuk membentuk integritas moral yang kuat dan berkarakter," ujar Mumu

Menurut dia, perlu juga ada pemberlakuan syarat pendidikan berjenjang, yaitu bagi siswa SD yang mendaftar ke SMP wajib memiliki ijazah sekolah agama dasar (Diniyah/MI). Begitupun bagi siswa-siswi SMP yang akan mendaftarkan ke SLTA, wajib memiliki ijazah Tsanawiyah, dan siswa SMA yang akan masuk kuliah wajib memiliki ijazah sekolah agama menengah (Aliyah, dsb).

“Manifestasinya, sekolah agama dan sekolah umum sama-sama penting. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap keduanya," ujarnya.

Mumu mengungkapkan, selama ini, setiap hari di sekolah anak-anak dijejali dengan banyaknya mata pelajaran umum, sedangkan jam pelajaran agamanya relatif sedikit.

"Alangkah lebih baiknya jika sekarang ada keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Karena menjadi anak pintar saja tidak cukup, jika tidak berlandaskan nilai-nilai religius pada anak,” tutur Mumu.

Kemudian, lanjut Mumu, untuk mereka yang beragama Kristen, Hindu, Budha dan lainnya bisa memberlakukan hal yang sama, yaitu membuat sekolah khusus agama untuk syarat pendidikan berjenjang.

"Di NKRI tidak ada larangan agama selain agama Islam. Jadi untuk yang non muslim, silakan membuat sekolah agama yang namanya apa saja, karena secara teori katanya semua agama mengajarkan kebaikan. Usulan ini semoga tidak salah dan dapat bermanfaat, minimal menjadi renungan dan mimpi," ujar Mumu.

Al-Khairiyah Meng-Upgrade Kurikulum 

Yayasan Pendidikan Al-Khairiyah pun akan menggelar 'Upgrading Kurikulum' yang dihadiri oleh seluruh perwakilan lembaga pendidikan Cabang Al-Khairiyah yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia.

Acara akan dilaksanakan di Kampus Peradaban Islam Al-Khairiyah Citangkil, Kota Cilegon, Banten, selama dua hari, Sabtu-Minggu (17-18 Juni 2017).

Pada acara tersebut, sebanyak 630 Cabang Al-Khairiyah akan hadir membahas kurikulum pendidikan baru yang nantinya diterapkan di seluruh Sekolah Al-Khairiyah di Indonesia.

Selain membahas kurikulum pendidikan internal Al-Khairiyah, momen pertemuan ini juga akan membahas soal isu pendidikan di Indonesia, yaitu menyikapi kebijakan Menteri Pendidikan RI Muhadjir Effendy yang memberlakuan Full Day School dengan sistem pendidikan 5 hari sekolah dengan 8 jam perharinya.

Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan, Pengembangan Pesantren, dan Kebangsaan PB Al-Khairiyah, Muktillah mengatakan, Al-Khairiyah sebagai lembaga pendidikan Islam yang terbentuk sejak tahun 1925 perlu melakukab revitalisasi dan penyegaran kurikulum pendidikan sesuai perkembangan zaman.

Meskipun demikian, penyegaran kurikulum nanti tidak menghilangkan tradisi dan khas Al-Khairiyah sebagai pondok pesantren yang mempelajari kitab-kitab.

“Dalam acara Upgrading Kurikulum ini diharapkan ada kesamaan konsep pendidikan agama antar cabang lembaga pendidikan Al-Khairiyah. Sejarah dan nilai-nilai Al-Khairiyah juga akan menjadi bagian kurikulum untuk menguatkan jati diri Al-Khairiyah,” kata Muktillah. [ard]

Editor: Arif Darma
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

Al-Khairiyah Usul Pelajaran Agama Dihapuskan Dari Sekolah Umum
Top