Minggu, 22 April 2018 |
News Room - Peristiwa

Aksi Solidaritas Dari Banten untuk Konflik Majalengka dan Langkat Sumut

Rabu, 23 Nov 2016 | 19:25 WIB Dibaca: 1443 Pengunjung

Massa GMNI komisariat Untirta Banten menggelar aksi solidaritas untuk insiden Majalengka dan Langkat, Rabu (23/11/2016).*

SERANG [NEWSmedia] - Massa yang tergabung dalam organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional lndonesia (GMNl) komisariat Untirta Banten, Rabu (23/11/2016) siang mengelar aksi solidaritas terkait peristiwa Majalengka, Jawa Barat dan Langkat, Sumatera Utara.

Dalam aksi ini mahasiswa meminta pemerintah dan aparat untuk tidak melakukan tindakan represif serta kriminalisasi dan intimidasi kepada masyarakat, khususnya petani di Majalengka, Jawa Barat dan di Langkat, Sumatera Utara.

"Ini sudah jelas, pemerintah sudah melakukan penyimpangan yang sangat nyata. Lahan masyarakat dan petani di Majalengka Jawa Barat dan Langkat Sumatera Utara akan digusur," kata Koordinator lapangan aksi, Azhar Ghozali saat berorasi.

Ghozali mengingatkan, Indonesia adalah negara agraris, dan para petani menjadi tulang punggung kemajuan negara. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya melakukan perlindungan terhadap petani.

"Pemerintah dan kita harus sadar, negara kita adalah negara agraria. Bagaimana petani menjadi tulang punggung kemajuan negara. Dan hari ini negara gagal memberikan keamanan kepada masyarakat. Negara sudah menindas rakyatnya sendiri," ujar Ghozali.

Sementara itu, Ketua Umum GMNl komisariat Untirta Banten, Arman Maulana Rachman mengungkapkan, perlindungan hukum terhadap petani telah mati. Padahal jaminan itu sudah diatur dalam undang-undang.

"Dalam UU Nomor 41 tahun 2009 dan UU Nomor 19 tahun 2013 sudah jelas bahwa kaum petani dan sawahnya harus dilindungi oleh pemerintah, tapi kondisi saat ini malah berbalik. Seolah-olah pemerintah tidak memperdulikan nasib kaum petani," ungkap Arman.

Dalam aksi ini, dari Banten mahasiswa meminta agar pemerintah menghentikan tindakan represif di Majalengka, Jawa Barat dan Langkat, Sumatera Utara, kemudian membebaskan petani yang ditahan, serta membatalkan penggusuran Desa Sukamulya dan Langkat, dan menarik mundur aparat yang mengepung lokasi.

Selain itu, mahasiswa GMNI Banten ini juga meminta Pemerintahan Jokowi agar benar-benar mewujudkan reformasi agraria di tanah air.

Diketahui, insiden di Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat terjadi karena dalam penggusuran lahan untuk pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) , masyarakat tidak pernah dilibatkan dalam berbagai sosalisasi, termasuk soal untung rugi yang akan mereka dapatkan. Selain itu, izin lingkungan terkait amdal cacat hukum dan hasil amdal tersebut tidak pernah diumumkan.

Peristiwa penggusuran itupun ditolak masyarakat saat dilakukan pengukuran lokasi yang akan dibangun bandara. Bahkan masyarakat yang mempertahankan lahan mereka, malah dihadapkan oleh pasukan polisi TNI dan satpol PP, dan polisi sempat melepaskan gas air mata untuk membubarkan pertahanan  masyarakat.

Dalam insiden itu, ada 6 orang warga yang ditangkap, 16 warga luka luka, dan banyak lahan pertanian yang rusak berat karena terpijak pijak. Anak-anak dan perempuan ketakutan akibat kejadian ini, dan sampai saat ini mereka masih berkumpul di balai desa.

Masyarakat Desa Sukamulya tidak pernah dilibatkan dalam berbagai sosalisasi terkait rencana pembangunan BIJB, termasuk soal untung rugi yang akan mereka dapatkan, izin lingkungan terkait amdal cacat hukum dan tidak pernah diumumkan hasil dari amdal tersebut.

Sementara di Langkat, Sumatera Utara, insiden serupa terjadi pada Jumat (18/11/16). Aparat keamanan gabungan dari Polsek, Polres Langkat, Brimob Polda, TNI, Pamswakarsa berjumlah lebih kurang 1.500, memaksa masuk ke Desa Mekarjaya Kecamatan Wampu Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang berkonflik dengan Langkat Nusantara Kepong (LNK) sebagai pengelola lahan PTPN II.

Sebanyak 24 alat berat mereka persiapkan untuk menghancurkan rumah dan juga tanaman yang ada di lahan milik petani daerah setempat. Hingga saat ini, Desa Mekarjaya diisolasi aparat. Penangkapan juga terjadi terhadap petani di Desa Mekarjaya yang melakukan perlawanan terhadap upaya perampasan tanah yang menjadi sumber kehidupannya. Penangkapan bahkan masih berlangsung dan jumlahnya sedang diidentifikasi. [ifal]

Penulis: Syarifal Fahlevi
Editor: Arif Darma
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

Aksi Solidaritas Dari Banten untuk Konflik Majalengka dan Langkat Sumut
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top