Kamis, 04 Juni 2020 |
News Gallery - Lifestyle

7 Mitos yang Kerap Disematkan ke Para Introvert

Selasa, 07 Apr 2020 | 21:58 WIB Dibaca: 366 Pengunjung

Foto ilustrasi.*

[NEWSmedia] - Sebagian orang kerap memukul rata, mereka yang pendiam adalah berarti juga introvert. Ini bagian dari kesalahpahaman terhadap orang introvert.

Orang introvert kerap disalahartikan sebagai orang yang suka menyendiri, disebut anti-sosial, tak senang bergaul dengan banyak orang, atau juga pemurung. Meskipun ada pula yang memang memilih tetap tinggal di zona nyaman dan sebagian dari mereka tampak menikmati kesendirian.

Orang lain lantas meminta si introvert untuk keluar dari cangkang dan berinteraksi seperti para ekstrovert. Padahal, masing-masing setiap orang dilahirkan dengan kepribadian beragam, dan ini tak masalah.


Tetapi selain itu, tahukah Anda bahwa sebetulnya tak semua introvert seperti anggapan orang. Berikut beberapa mitos yang disematkan pada orang berkepribadian introvert disarikan dari berbagai sumber.

Cukup pendiam
Sifat pemalu tak berhubungan dengan kepribadian introvert. Seseorang bisa menjadi pemalu lepas dari apapun kepribadiannya.

Introvert, memilih untuk menghindari berbicara hal-hal yang tak perlu, kecuali pada orang-orang dekat mereka. Anda tak akan menemukan mereka berinteraksi basa-basi. Bahkan, kadang mereka akan berinteraksi hanya ketika mereka merasa mau dan perlu.

Tidak menyukai orang lain
Anggapan ini keliru dan bertentangan dengan yang sesungguhnya terjadi. Anda akan menemukan bahwa orang yang introvert menilai persahabatan dan orang yang mereka cintai adalah hal penting.

Alih-alih mengenal lebih banyak orang, introvert lebih senang berada di sekitar orang-orang yang genuine dan bisa dipercaya.

Tidak percaya diri
Begitulah mitos yang biasanya didengar soal introvert. Orang kerap menganggap introvert adalah pribadi yang kurang percaya diri hanya karena mereka jarang berinteraksi dengan banyak orang.

Tapi sebaliknya, introvert merupakan orang yang cukup percaya diri. Satu-satunya perbedaan hanyalah, para introvert perlu waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar mereka.

Tak sebahagia orang ekstrovert
Asal Anda tahu, kebahagiaan atau juga emosi lainnya itu tak berhubungan dengan kepribadian seseorang. Seseorang bisa bahagia atau merasakan yang sebaliknya, tak dipengaruhi oleh apa kepribadian mereka.

Karena itu, jika Anda menganggap orang introvert tidak bahagia karena jarang bersosialisasi dengan orang lain, barangkali ini asumsi yang keliru.

Introvert bisa dengan mudah menjadi ekstrovert
Sebetulnya ini perkara pilihan masing-masing orang, apakah memutuskan untuk menjadi introvert ataupun ekstrovert. Terlebih, jika orang itu memang sudah nyaman sebagai introvert, lalu mengapa harus mengubah perilakunya.

Seseorang memang bisa begitu saja terlahir sebagai introvert, dan karena itu, berharap mereka kan mengubah kepribadiannya adalah bukan hal yang tepat.

Tidak suka bekerja kelompok
Anda boleh jadi menemukan seorang introvert memberikan karya terbaiknya ketika mereka sendirian. Tapi bukan berarti mereka tak bisa bekerja di kelompok besar. Introvert tak nyaman berada di kelompok besar di mana pendapat mereka tak didengar.

Mereka akan lebih mudah bekerja dalam kelompok kecil dengan anggota tim yang bersungguh-sungguh dan berkomitmen.

Sering kesepian dan rentan depresi
Orang yang introvert barangkali sesekali memang merenung sendiri dan menikmati kesunyian. Namun itu tidak membuat mereka kesepian dan putus asa. Mereka hanya perlu waktu sendiri untuk berpikir dan menganalisis sesuatu yang penting.

Jadi, menganggap orang introvert adalah kesepian dan putus asa itu sama sekali tak relevan.

Bagaimanapun, lepas dari mitos-mitos introvert, tidak sebaiknya menilai seseorang berdasarkan pada kepribadian. Introvert misalnya, juga memiliki emosi. Selain itu, tak perlu bersusah payah meminta mereka berubah dan mengupayakan introvert menjadi ekstrovert. [cnn]

Editor: Newsmedia
Publisher: Muhammad Adi
Bagikan:

KOMENTAR

7 Mitos yang Kerap Disematkan ke Para Introvert
NCLOTHING PROMO NEWSmedia TV
Top