Minggu, 17 Desember 2017 |
News Room - Highlight

3 Tahun Newsmedia, Bukan Sebuah Kebetulan

Minggu, 09 Jul 2017 | 19:50 WIB Dibaca: 590 Pengunjung

HUT ke-3 newsmediacoid.*

BANTEN - Akhir 2010, Ayah saya bilang ‘Kamu jangan pernah meninggalkan dunia media, karena di situ kamu dibesarkan’. Pernyataan itu diucapkan setelah saya pulang memberi kabar, bahwa saya akan resign dari tempat kerja di sebuah perusahaan surat kabar lokal di Banten bernama HU Fajar Banten-Pikiran Rakyat Group (saat ini Kabar Banten).

Lima tahun bekerja sebagai pewarta di surat kabar harian lokal (berawal dari program praktik kerja lapangan studi S-1 Jurnalistik saya di Untirta-sejak 2005), pada akhir 2010, saya memang mulai menemukan titik jenuh bekerja sebagai ‘ujung tombak’ untuk sebuah perusahaan penerbitan.

Saat itu saya sudah sempat memutuskan untuk beralih profesi, menjadi pengusaha (semangat banget, karena saat itu saya baru membuka usaha warnet di sebuah ruko depan kompleks perumahan, di saat pengguna warnet sedang booming).

Maka, saya memohon doa restu ke orang tua untuk konsentrasi di dunia usaha. Namun begitu lah jawabannya. Ayah saya mewanti-wanti supaya saya tidak meninggalkan dunia media (sebagai jurnalis)-karena memang dari situ lah (HU Fajar Banten) saya dibesarkan.

Akhirnya, Desember 2010 saya kembali ke 'habitat' media. Saya kembali berkutat dengan ‘berita’ di salah satu stasiun televisi swasta lokal, yaitu Banten TV (sekarang inTV). Di TV lokal itu, saya lebih banyak bekerja di ‘dapur’ redaksi sebagai produser sekaligus koordinator liputan News Department.

Di perusahaan media tempat terakhir saya bekerja ‘ikut orang’, saya sempat mengucap keinginan (bercita-cita) untuk punya perusahaan media sendiri. Entah kapan, saat itu belum terbayang bisa terwujud kapan. Saya tidak berekspektasi tinggi, dan tetap fokus menekuni pekerjaan sebagai ‘koki informasi’ di perusahaan milik Wawan Setiawan, pengusaha yang tinggal di BSD Tangerang.

Kemudian, demi karier di media, pada awal 2012 saya terpikir untuk meneruskan sekolah. Saya pun menemukan kampus di Jakarta yang membuka program Pascasarjana khusus jurusan media (saat itu saya mengambil jurusan Media Industry & Business di Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta).

Menjelang akhir 2013, saya mendapat telepon dari seseorang bernama Ali Mujahidin (biasa dipanggil Haji Mumu). Ia meminta saya untuk menemui ‘Haji Mardiono’, saat itu sebagai Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan.

Kabarnya, ‘Pak Mardiono’ mencari profesional yang dapat menangani Bidang Komunikasi dan Media untuk partai politik yang dipimpinnya. Singkat cerita, saya pun memulai pekerjaan baru sebagai Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Ketua DPW PPP Provinsi Banten saat itu (Muhamad Mardiono).

Belum setahun berlalu bekerja di sekretariat partai politik (bukan sebagai pengurus, hanya sebagai staf ahli), saya pun kembali ingat ucapan Ayah, bahwa jangan pernah meninggalkan dunia media. Saat itu saya belum menemukan jawabannya, dan tetap fokus menikmati dan menekuni pekerjaan di partai politik.

Mata Kuliah Teknologi dan Media Baru

Jalan pikiran pun mulai terbuka soal cita-cita punya media, yaitu pada saat menjelang semester akhir perkuliahan pascasarjana saya di kampus UMB Meruya. Saat itu, saya mengikuti mata kuliah Teknologi dan Media Baru. Dosennya  adalah DR. Irwansyah dari Universitas Indonesia. Pak Irwan memang benar-benar membuka mata mahasiswa terkait perkembangan teknologi dan media baru.

Ia juga memberi pemahaman dan pencerahan soal budaya teknologi, deterministik teknologi serta forecasting technology (perkiraan masa depan teknologi).

Bismillah! Dari situ akhirnya saya terpikir untuk merancang sebuah media baru (media baru adalah media yang berbasis jaringan internet, salah satunya media berita online). Kata ‘new media’ yang merupakan bahasa Inggris dari kata media baru, saya pilih untuk dijadikan bagian dari nama media online yang saya ingin buat. Saya hanya menambahkan huruf ‘s’ setelah huruf ‘w’, jadi lah ‘newsmedia’.

Kenapa kok namanya newsmedia, nggak ada kata Bantennya gitu, kan adanya di Banten? Nah, jadi begini, media online itu tidak mengenal batas jarak dan waktu, okey! Meskipun keberadaannya (home based) di Banten, namun konten informasinya kan bisa diakses dari luar Banten bahkan mancanegara (coba deh kalau pembaca lagi pergi ke Mekkah, pasti bisa akses newsmedia).

Sedikit pencerahan lagi dari ahlinya ya. Marshall McLuhan, seorang ilmuwan komunikasi dan kritikus asal Kanada, dalam bukunya berjudul Understanding Media: Extension of A Man, memperkenalkan konsep tentang desa global (global village). Desa global adalah konsep mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar.

Hebat memang McLuhan, pada tahun 60-an, dia sudah berpikir bahwa suatu saat nanti informasi akan sangat terbuka dan dapat diakses oleh semua orang. Ya, salah satunya adalah keberadaan media online seperti newsmedia.

Dokumentasi perayaan HUT ke-2 Newsmedia, 9 Juli 2016.*

Apa bedanya newsmedia dengan detikcom? (Bukan satu dua orang yang pernah tanya begini). Nah, detikcom adalah pionir media online di Indonesia. Berdirinya jauh lebih dulu daripada newsmedia. Manajemen dan SDM nya juga jauh lebih ideal dari newsmedia. Tapi kalau bicara jenisnya, tetap sama, yaitu media online penyaji berita.

Dokumentasi HUT ke-2 Newsmedia, 9 Juli 2016.*

Sama seperti newsmedia, detikcom meskipun kantornya ada di Jakarta, tapi beritanya bisa diakses di mana-mana (termasuk di Arab Saudi sana, coba aja kalau nggak percaya). Tentu, sebagai ‘cicit dari cicitnya’ detikcom, media online lain seperti newsmedia, juga ingin bisa sesukses ‘embahnya’.

Apalagi untuk newsmedia, kebetulan banget (saya baru tahu setelah dikirim link berita HUT ke-19 detikcom oleh A Ochid dari media tangseloke.com di grup WA SMSI Banten), ternyata newsmedia dengan detikcom, didirikannya pada tanggal dan bulan yang sama, yaitu pada 9 Juli, hanya beda tahunnya.

Dokumentasi HUT ke-2 Newsmedia, 9 Juli 2016.*

Jika pada 9 Juli 2017, newsmedia menginjak usia ke-3 tahun, sedangkan detikcom sudah berusia 19 tahun. Tentu, masih sangat terlalu muda bagi newsmedia, sebagai sebuah perusahaan media. Ya, Kami belum apa-apa, kita belum seberapa. Tapi tidak apa-apa!

Saya akan terus menamankan positive thinking kepada kawan-kawan di newsmedia, bahwa ke depannya, kita akan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Yang penting sekarang, kita mau semangat bekerja dan menyajikan karya yang beda!

Penulis: Rapih Herdiansyah
Publisher: Mulyadi
Bagikan:

KOMENTAR

3 Tahun Newsmedia, Bukan Sebuah Kebetulan
Top